Jumat, Januari 15, 2021

Ajaran dan Ujaran “Kafir”

Redefinisi Kemiskinan

"Spare no effort to free our fellow men, women, and children from the abject and dehumanizing conditions of extreme poverty" Perang melawan kemiskinan global telah...

Oktober Bulan Pemuda

Setelah 22 Oktober diperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang mayoritas para santri adalah kaum muda, kini pemuda Indonesia akan kembali menyambut salah satu sejarah...

Menabur Kampanye Provokatif, Sandi Merusak Moral Bangsa?

Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno terus mengumbar pernyataan provokatif dalam setiap kali safari kampanyenya. Contoh teranyar kampanye ‘ngawur’ Sandi ialah ketika dia menemui...

Yerusalem dan Ilusi Ibu Kota Suatu Negara

Dunia sedang dilanda kepanikan saat ini. Tindakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai kecaman banyak pihak. Tindakan itu...
Hadiri Abdurrazaq
Editor dan penulis lepas | Menjelajah dunia kata | Merangkai kalimat | Menemukan dan menyuguhkan mutiara makna

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU)—yang digelar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Banjar, Jawa Barat pada 27 Februari – 1 Maret 2019—menelurkan  lima poin rekomendasi, di antaranya: “Jangan sebut ‘kafir’ kepada nonmuslim.”

Tak berapa lama kemudian muncul beragam tanggapan. Ada yang setuju pada poin rekomendasi tersebut disertai penjelasan plus “pembelaan,” tak sedikit pula yang mempertanyakan, dan bahkan ada yang melancarkan “hujatan.”

Poin rekomendasi dengan muatan istilah “kafir” ini bisa dikatakan cukup seksi dan sensitif di antara poin-poin rekomendasi lainnya; yakni mengenai lembaga fatwa, menyangkut keputusan dan rekomendasi alim ulama, persoalan sampah plastik, dan soal terkait hukum money games dan sejenisnya.

Apalagi rekomendasi tersebut keluar di saat bangsa Indonesia sedang dalam riuh rendah kampanye politik dalam rangka Pemilu. Tak bisa dimungkiri, NU berada dalam pusaran ingar-bingar yang penuh propaganda ini.

KH Ma’ruf Amin, salah satu dari pucuk pimpinan NU adalah Cawapres pendamping Joko Widodo sebagai Capres di salah satu kubu yang tengah berlaga. Tak sedikit pula kader-kader NU lainnya yang ikut dalam kontestasi Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg).

Karena itu, wajar jika dari poin rekomendasi seperti tersebut timbul pro dan kontra. Selain seksi dan sensitif, konteks situasi dan waktu keluarnya maupun lembaga dan forum yang mengeluarkan turut menambah keseksiannya serta menaikkan tingkat sensitifitasnya.

Lepas dari ingar-bingar kampanye politik penuh emosionalisme yang membelah menjadi dua kubu ini, alangkah baiknya untuk kita melihat dan menyikapi poin rekomendasi tersebut dengan menelisik pemaknaan istilah “kafir” dalam ajaran agama (Islam) dan penggunaannya sebagai ujaran dalam pergaulan sosial.

“Kafir” dalam Ajaran Islam

Istilah “kafir” digunakan dalam Al-Quran dengan beberapa pemaknaan, yang secara umum menunjuk pada muatan arti “keingkaran.” QS al-Mâ’idah (5) ayat 73, misalnya menegaskan: Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah adalah ketiga (salah satu) dari tiga.” Padahal sekali-kali tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa… Sebutan “kafir” di sini diarahkan kepada orang-orang yang mengingkari keesaan Allah (tauhid). Sebutan yang sama juga diarahkan kepada mereka yang mempersonalisasikan Allah dengan ciptaan-Nya: Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam” (QS al-Mâ’idah (5): 17 dan 72).

Pemaknaan “kafir” di sini menunjuk pada “keingkaran akan (keesaan-kesucian) Allah.” Inilah yang sering disebut dengan “kafir teologis.” Terhadap kekafiran jenis ini, Al-Quran merespons dengan tegas dan gamblang melalui enam ayat dalam satu surah khusus: al-Kâfirûn (109).

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu pun tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Mengutip Ibn Ishaq mengenai latar belakang surah ini diturunkan, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi mencatat—dalam kitab tafsirnya al-Nukat wa al-‘Uyûn—bahwa al-Walid ibn al-Mughirah, al-‘Ash bin Wail, al-Aswad bin Abdul-Muththalib, dan Umaiyah bin Khalaf—mereka adalah tokoh-tokoh Quraisy—menemui  Rasulullah Saw.

“Hai Muhammad,” kata mereka, “ayolah kausembah apa yang kami sembah, dan kami akan menyembah Tuhan yang kausembah. Mari kita, kami dan engkau bekerja sama dalam segala urusan kita. Maka jika ajaran yang kaubawa memberi kebaikan terhadap segala hal di tangan kami, berarti kami telah mengikutimu dalam hal itu, dan kami beroleh keberuntungan darinya. Dan jika yang ada pada kami membawa kebaikan terhadap apa yang ada di tanganmu, berarti engkau telah ikut kami dalam urusan kita ini, dan engkau memperoleh keuntungan darinya.”

Menanggapi ajakan “kerja sama peribadatan” tersebut, turunlah QS al-Kâfirûn (109). Karena itulah, kalimat “qul” (katakanlah, wahai Muhammad) disertakan dalam surah ini—sebagaimana juga dalam QS al-Ikhlâsh (111), al-Falaq (112), dan al-Nâs (113)—sebagai jawaban, yakni terhadap orang-orang kafir tertentu; tidak untuk semua orang kafir. Mengapa? Karena dari orang-orang kafir itu boleh jadi kemudian ada yang beriman.

Pemaknaan lainnya diisyaratkan dalam QS Ibrâhîm (14) ayat 7: Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sungguh jika kamu bersyukur (syakartum), niscaya Aku tambahkan (nikmat) untukmu. Tetapi jika kamu ingkar (kafartum), sungguh azab-Ku benar-benar keras.” Kata kafartum—artinya kamu ingkar; tidak bersyukur alias kafir—pada ayat ini dilawankan dengan kata syakartum. Istilah ini menunjuk pada “keingkaran terhadap (nikmat-karunia-anugerah) Allah.”

Selain itu, perlu diingat sebutan “kafir” kerap juga dikaitkan dengan sifat-sifat negatif lainnya, dan selalu berkonotasi “keingkaran” dan/atau “pengingkaran,” misalnya mengada-adakan kebohongan terhadap Allah (QS al-‘Ankabût [29]: 68); memperdebatkan ayat-ayat Allah (QS Ghâfir/al-Mu’min [40]: 4); berpaling dari peringatan (QS al-Ahqâf [46]: 3); kesombongan (QS al-Baqarah [2]: 34); kemunafikan (QS al-Munâfiqûn [63]: 3); mengingkari hukum-hukum Allah (QS al-Mâ’idah [5]: 44), dan lain sebagainya.

“Kafir” dalam Ujaran

Berangkat dari teks ajaran (nas) dengan muatan makna yang multikonteks dalam kehidupan yang multikompleks, diksi “kafir” menjadi istilah “bersayap” yang mudah dilayangkan ke sana sini mewujud ujaran dengan pemaknaan yang sering kali bias. Di antara “sayap krusial” dari istilah ini ialah ujaran takfîrî—kata derivatif dari kafara-yakfuru-kufrun menjadi kaffara-yukaffiru-takfîrun, artinya mengafirkan, yakni melemparkan tuduhan “kafir” kepada pihak lain yang tidak seiring-sejalan dalam soal-soal kegamaan dan sering kali bermuatan politis.

Ujaran takfîrî ini, diakui atau tidak, memberi andil besar bagi proses terjadinya keretakan dan perpecahan akut dalam tubuh umat beragama, dan bahkan bisa disebut sebagai “biang” dari perpecahan umat Muslim. Ujaran ini kerap juga dijadikan alat subversi, terutama di negara-negara Islam.

Jika melongok ke belakang, kita dapati perpecahan telah muncul di masa-masa peralihan kepemimpinan Islam dari Khalifah Utsman bin Affan—yang dipaksa berakhir dengan pembunuhan Sang Khalifah—ke Khalifah Ali bin Abi Thalib. Lalu bersemi setelah Ali juga dibunuh, dan selanjutnya kekuasaan diambil alih oleh Mu‘awiyah bin Abi Sufyan, pendiri Dinasti Bani Umaiyah.

Sejak itu ujaran-ujaran takfîrî membelit dunia politik Islam. Syekh Muhammad ‘Abduh mencatat—dalam bukunya, Risâlat al-Tauhîd—perihal umat Islam yang terpecah menjadi kelompok-kelompok Syi‘ah, Khawarij, dan antara keduanya ada golongan moderat. Masing-masing kelompok terjebak fanatisme buta.

Orang-orang dari kelompok Khawarij dikuasai sikap berlebih-lebihan. Mereka mengafirkan siapa saja yang berdiri di luar kelompok mereka, dan siapa pun yang menentang pendirian ini juga dianggap kafir. Orang-orang dari kelompok ini kelak menyebar ke berbagai penjuru, dan tempo-tempo muncul melalui gerakan “bawah tanah” atau tampil membonceng dalam gerakan-gerakan perlawanan yang menimbulkan kekacauan. Wallâhu a‘lam

Hadiri Abdurrazaq
Editor dan penulis lepas | Menjelajah dunia kata | Merangkai kalimat | Menemukan dan menyuguhkan mutiara makna
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.