in

Ajaib, Orang ini Menghidupkan Kembali yang Telah Mati


Saya tidak sedang membicarakan mistis, sihir ataupun tahayul. Karena bagi saya, seketikan kita bicara tahayul maka logikan dan kita akan terputus. Dampaknya kita tidak mempergunakan akal yang akhirnya menjadi orang bar-bar.

Ada kesamaan antara Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Sukarno (Bung Karno) dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Kang Dedi) selain kesamaan dari ideologis.

Keduanya mampu menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Bung Karno melakukannya saat menjalani pembungan ke Ende, sementara Kang Dedi melakukannya di Purwakarta, Jawa Barat.

Selama pembungan di Pulau kecil tersebut, Bung Karno untuk mendidik masyarakat setempat dengan cara membuat grup Tonil (Sandiwara) yang diberi nama Kelimutu. Salah satu naskah yang dari puluhan naskah yang ditulis oleh Beliau adalah ‘Dokter Setan’.

Dokter Setan sendiri bercerita tentang seorang dokter untuk menghidupkan mayat. Mayat disini bukanlah arti yang sebenarnya, mayat dalam artian dalam bentuk Indonesia yang telah lama tertidur akibat dari penjajahan Belanda.

Dampaknya yang paling kuat kepada masyarakat setempat jelas adalah rasa takut kepada Belanda yang teramat.

Dari pulau Ende, Bung Karno jelas tidak bisa menggerakan masa yang banyak untuk menentang omprealisme. Apalagi, pada masa tersebut masyarakat di sekitar Ende dalam keadaan keterbelakangan, masih banyak diantara mereka tidak cakap untuk membaca dan menulis.


Maka, seni atau sandiwara tersebut adalah cara untuk menghantam Imprealisme. Dalam setiap ceritanya tersimpan semangat-semangat perjuangan menggelorakan Nasionalisme dari Pulau kecil yang majemuk tersebut.

Baca Juga :   Pemindahan Ibu Kota Negara: Dari Imam Ali, Sukarno, hingga Anies Baswedan

Senada yang dilakukan Bung Karno, Kang Dedi Mulyadi melakukannya di Purwakarta, Jawa Barat. Selepas Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Jawa Barat seperti terasing di tempatnya sendiri.

Ada kegelisahan yang besar dialami oleh masyarakat Jawa Barat tentang sejarah maupun tentang Identitasnya. Jawa barat seperti mudah dirasuki paham-paham radikal yang tidak sejalan dengan Dasar Negara, Pancasila.

Padahal tidak kurang orang-orang besar di negeri ini lahir di Jawa Barat, mulai dari politisi, seniman, ulama dan lainnya. Tetapi semua itu tidak berjalan beriringan, mereka berjalan sendiri-sendiri.

Puncaknya mungkin terjadi sekarag ini, jaman milenial dimana setiap orang bisa mengakses informasi dan menyebarkan Informasi dengan sangat mudah melalui media sosial dan sebagainya.

Tak ayal, Jawa Barat menjadi juara pertama dalam kasus kekerasan atas nama agama berdasrkan hasil survei yang dirilis oleh salah satu lembaga survey Wahid Institute.

Dedi Mulyadi mencoba menghidupkan kembali kebudayaan dan tradisi yang telah lama mati di Jawa Barat. Pancasila menjadi pijakannya dalam menyebarkan tradisi yang telah lama tertidur tersebut.

Sangat tidak mudah, Kang Dedi ditekan habis-habisan oleh mereka yang tidak sejalan dengan mereka, karena dianggap membahayakan golongan yang telah lama meninabobokan Jawa Barat.

Dedi Mulyadi bukanlah seorang yang dating tiba-tiba pada moment yang akan menghadapi Pilkada Jawa Barat. Ia adalah pemimpin sejatinya pemimpin yang paham betul tentang kondisi Jawa Barat. Lihat bagaimana yang dilakukannya di Purwakarta, sunda di kembalikan sebagai jati diri, Kota tasbih di kuatkan sampai dengan akar-akarnya kepada generasi penerus.

Baca Juga :   Negara dan Sulitnya Meminta Maaf

Dedi adalah orang yang sangat mencintai identitasnya, sunda bukan lagi sebatas harga diri maupun suku yang mendiami masyarakat Jawa Barat, melainkan sebgai jembatan kesejahteraan untuk masyarakatnya.

Spirit kesundaannya sangat melekat, sampai dalam pakaiannya pun bertuliskan ‘Dangiang Ki Sunda’ (Kewibawaan Orang Sunda).

Tidak setuju dengan saya, tidak masalah. Karena itu merupakan hak Anda. Tapi, saya menulis hanya untuk menuangkan realita apa yang saya lihat saat ini. Dan Anda bisa lihat sendiri kenyataan yang sesungguhnya.

Apa yang dilakukan oleh Kang Dedi merupakan amanat yang telah diperintahkan oleh leluhur dan apa yang di Perintahkan oleh Bung Karno, “menjaga tradisi daerah adalah bagian menjaga tradisi Nusantara.”

Yang diperbuat Kang Dedi adalah betuk kecintaanya kepada Jawa Barat, kepada masyarakat dan Negaranya. Dia siap menderita, dia siap di hina, dia mengambil segala resiko asalkan masyarakatnya tidak terasing di tanah airnya.


Written by Aming_Soedrajat

Pegiat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR