Kamis, Maret 4, 2021

AHY, SEO, dan Bye Boomers

Deliberalisasi Agraria Zaman Keistimewaan DIY

Fenomena konflik agraria diberbagai wilayah DIY semakin sering terjadi. Konflik agraria yang marak terjadi belakangan ini dipicu oleh pembangunan diberbagai bidang, mulai dari konflik...

Belajar dari Gardner dan Lie Agustinus

Sosok Chris Gardner dalam film The Pursuit of Happyness—sengaja ditulis dengan huruf “y”—digambarkan cerdas dan jenius. Tapi apa mau dikata, nasib berkata lain, kecerdasan...

Sepak Bola: Antara Politik Identitas dan Nasionalisme

Pada hari Kamis, 9 Agustus 2019 lalu penulis sangat antusias dalam mengamati beberapa agenda yang ada di media televisi. Beberapa dari agenda tersebut adalah...

Bibit dan Ladang Rasisme Kita

“Cari suami orang Jawa ya, nduk. Agar hidupmu mudah,” kata Bapak kepada saya. “Lho kenapa begitu, pak?” Tanya saya gak mudeng. “Hampir semua orang Jawa itu...
Sandi Novriadi
Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada

Teman-teman pasti ada yang pernah googling nama sendiri. Penasaran kan? Nah, saya sengaja googling nama AHY. Tentu itu bukan nama sendiri. Sosok ini memang sudah lama bikin penasaran. Wajahnya tampan, postur tubuh tinggi dan sosoknya karismatik, selalu bikin dia jadi head turner dimanapun, merata baik bagi pria maupun wanita.

Biasanya pria dengan tongkrongan kayak gini jadi artis, model atau seleb. Followers-nya di IG, Twitter dan FB-nya pun lebih dari cukup banget untuk jadi influencer. Tapi handsome daddy yang satu ini memilih jalan yang terjal: jadi politisi.

Kenapa terjal? Karena hidupnya serba salah. Omongannya harus selalu konsisten, dari masa lalu sampai sekarang –padahal hidup dan pandangan orang kan bisa berubah ya? Ucapan dan tindakannya juga harus selalu benar untuk semua isu dalam segala situasi. Dianggap keseleo lidah, atau ekspresi mukanya dianggap kurang pas, bakal langsung dihujat sejagat raya. Orang bisa berhari-hari membahas cuma sepotong kata dari sejam pidatonya.

Penampilan tentunya harus terjaga. Orang normal boleh salah kostum, tapi politisi harus tampil proper dari sejak bangun hingga menjelang tidur –kalau perlu saat tidurpun. Cara jalan, cara makan, tempat yang dikunjungi, cara salaman, hingga kepala sabuk, potongan rambut, brewok, peci dll harus perfecto. Senyum dilarang copot dari wajahnya, tidak peduli Ibunya lagi sakit, habis bertengkar dengan pasangannya, anaknya rewel, atau simply bad mood –namanya juga manusia. Tapi politisi memang bukan manusia normal. Dia manusia setengah dewa.

Sampai sekarang, masih banyak yang tanya, kenapa sih AHY mundur dari militer? Padahal karirnya lagi bagus-bagusnya, Komandan yang dihargai atasannya, disegani koleganya dan dihormati bawahannya, kabarnya masuk fast track alias jalur cepat dalam karirnya. Jadi Jenderal sih insyaallah –pengen ngomong pasti takut kualat.

AHY sudah jawab berkali-kali sih. Dia ingin lebih baik lagi dalam mengabdi pada bangsa dan negaranya mumpung masih muda, yang tidak dimungkinkan ia lakukan dalam karir militernya sekarang. Tahu sendiri, militer terkenal dengan jalur karir urut kacang dan senioritas yang kuat. Ditanya berkali-kali, AHY jelaskan berkali-kali, tapi tetap saja netijen yang budiman terus bertanya-tanya –bukan netijen sejati kalau cepat puas dan nurut.

Balik ke laptop. Lalu apa hasil googling terhadap Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY ini?

Ada lebih dari 10 juta kueri terkait kata kunci AHY. Paling atas adalah Wikipedia tentang AHY, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Rapi jail. Setelah itu, berita-berita terakhir tentangnya, baik dari sisi politik maupun dari sisi personal.

Maklumlah jaman kiwari. Ngotot soal privacy mah ke laut aja. Lalu muncul hasil pencarian di Instagram dan Twitter, dua kanal media sosial yang rupanya jadi favorit AHY. Facebook memang paling banyak penggunanya, tapi buat anak muda serta buat ngobrol politik, IG dan Twitter lebih pas.

Di bawahnya, ada beberapa video dari youtube termasuk AHY blak-blakan dengan Deddy Corbuzier. Ada dua episode dengan total penonton hampir 1,7 juta. Setelah itu kumpulan berita dengan tagar AHY di sejumlah media online papan atas seperti detik.com dan liputan6.com.

Paling bawah adalah bagian yang sering bikin orang deg-degan: searches related to yang biasanya dipakai orang sebagai rekomendasi pencarian berikutnya. Kenapa? Karena bagian ini benar-benar pasrah terserah pada algoritma Google Search yang kompleks dan selalu beradaptasi itu. Untuk AHY, Google merekomendasikan cari: nama panjangnya, istrinya, adiknya, putrinya dan ayahnya. Keluarga yang kompak ya?

Sebagai pembelajar komunikasi digital, saya melihat hasil pencarian Google ini mencerminkan persepsi yang positif terhadap sosok AHY, baik di media massa, media sosial maupun di web secara umum.

Pada era sekarang, saat mesin pencari memegang peranan penting dalam menentukan input informasi terhadap seseorang atau sesuatu, hasil Google Search AHY ini bagus banget. Setahu saya banyak perusahaan, lembaga maupun individu yang setengah mati atau bayar mahal untuk search engine optimization (SEO) ini. Tidak heran jika industri SEO ini di AS saja diperkirakan akan bernilai US.80 milyar pada tahun 2020.

Ini memang investasi yang tidak main-main. Riset menunjukkan jika SEO dilakukan dengan baik, hasilnya sbb: rata-rata konversinya 14,6%, 75% pengguna berhenti di halaman pertama pencarian, mesin pencari mendorong traffic 10x lipat untuk situs-situs belanja daripada media sosial, Google mendominasi dengan 75% pangsa pasar dan pencarian melalui perangkat seluler (telepon genggam, tablet) meningkat pesat.

Dengan potensi ini, seharusnya AHY mengoptimalkan lagi digital presence-nya, termasuk dengan konten-konten yang bersifat analisa situasi maupun solusi, sehingga menjadi pembeda dengan banyak politisi lainnya.

Apalagi sekarang makin banyak politisi yang memang keren –atau berusaha tampak keren— baik di dalam maupun luar negeri. Penampilan yang menyenangkan mata dan menenteramkan hati ini akan lebih joss saat orang dengan mudah menemukan buah-buah pemikiran yang ciamik dan relevan dengan situasi kekinian. Capek juga lihat para politisi 60-70-an yang masih anteng bertahta tanpa tanda-tanda mau lengser. Alhamdulillah pak SBY kelihatannya punya penerus yang mumpuni dan disukai. Bye..bye..boomers

Sandi Novriadi
Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.