Minggu, Januari 17, 2021

Ahok, Rocky, Somad, Gitu Aja Kok Marah?

Corona: Fatwa dan Puasa

Setiap tahunnya, dengan gembira umat Islam menyambut hadirnya Ramadhan; bulan peleburan dosa, dan bulan yang penuh berkah. Sebab keberkahanya, tidak sedikit para ustadz yang...

Etos Aktivisme Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Barangkali pembaca merasa asing dengan frasa "etos aktivisme" karena jarang digunakan dalam literatur-literatur kontemporer. Namun saya akan menggunakannya untuk menjabarkan keadaan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah...

Gaya Gebrakan Menteri BUMN

Menggebrak itulah kata yang tepat disematkan kepada Menteri BUMN yang baru, Erick Thohir. Sejumlah sikap tegas dan keras diterapkan dengan mengganti deretan petinggi BUMN...

Pincangnya Kaki Pendidikan Kita

Nampaknya attitude pelajar Indonesia tidak sedang baik-baik saja hari ini. Kondisi ini dibuktikan dengan beberapa perilaku mereka yang semakin lama semakin tidak beradab. Beberapa waktu...
Alfit Lyceum
alumni filsafat dan mistisisme Islam, direktur Lyceum Philosophia Institute

Entah mengapa, saya selalu tidak sepakat bila gagasan dilawan dengan ‘senapan’. Dari kasus Ahok dengan polemik Al-Maidah, Rocky Gerung dengan kitab suci fiksinya, hingga sekarang Somad atau dikenal UAS dengan jin kafir pada salib Yesus, selalunya saya gelisah bila disikapi dengan pelaporan.

Bukan tanpa alasan, menyikapi gagasan dengan pelaporan bukan hanya menutup ruang dialog, tapi juga rawan memicu konflik horizontal dan upaya balas dendam. Tidak menutup kemungkinan, tensi ketegangan akan meningkat, lalu dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang memang cari hidup dari konflik. Mestinya, dengan dialog dan silaturahmi, ketegangan diredam, hingga bara api pun padam.

UAS telah mengungkapkan gagasannya ihwal salib dan patung. Dalam hematnya, jin kafir bersemayam dalam setiap patung, tak terkecuali patung Yesus yang ada di salib. Gagasan ini mungkin salah, dan pasti menyesakkan dada bagi pihak yang tak menerima gagasan tersebut.

Tapi mengapa mesti marah dan meresponnya dengan reaktif? Gitu aja kok marah. Apakah Yesus menjadi hina, hanya karena ia dihina? Apakah Muhammad SAW akan turun level, bila ia dicaci? Tidak, justru si pencela yang akan tercela dan turun level, bila ia menilai tidak proporsional.

Sokrates menemui sahabatnya yang larut dalam sedih. Kepada Sokrates, sahabat itu mengadu ihwal kesedihannya, barusan seseorang menghinaku. Sokrates menenangkan, bila engkau melihat orang yang sedang sakit, bagaimana perasaanmu, bersedih atau justru iba kepadanya?

Aku iba kepadanya, jawabnya. Lantas mengapa sekarang engkau bersedih. Ketahuilah, mereka yang gemar menghina hakikatnya sedang menderita penyakit hati yang tak mereka sadari. Tutup Sokrates.

Walhasil, dalam pandangan kita, tak ada jin kafir dalam patung salib Yesus. Salib Yesus adalah simbol cinta dan pengorbanan. Itu pandangan kita, dan boleh jadi benar. Tapi, dalam pandangan UAS, yang terjadi adalah sebaliknya, dan boleh jadi salah. Kita mengajarkan pandangan kita, UAS pun demikian. Lantas, masalahnya di mana?

Mengapa kita tidak saling duduk dan ngopi bersama. Tak usah saling tukar pandangan, wong masing-masing kita merasa benar. Cukup saling dengar gagasan. Di hadapan UAS dan jemaahnya, kita uraikan secara argumentatif pandangan kita. Dan di hadapan kita, biarkan UAS menyuguhkan argumentasi atas keyakinannya. Boleh jadi, ada hadis atau apalah, yang menjadi sandaran UAS. Kita simak dengan hati yang tenang, lalu nilai secara objektif.

Khawatirnya, sebelum menyimak dengan seksama video UAS ihwal salib Yesus, telah ada dibenak kita penilaian negatif atasnya, bahwa dia (UAS) menghina bla bla dan bla. Boleh jadi, penilaian prematur ini disebabkan oleh deskripsi video (kita menilai konten video dari deskripsi video yang ditulis oleh penyebar video), atau karena faktor politik (pokoknya UAS salah, karena ia adalah ustadz paslon si fulan).

Sekali lagi, akan lebih bijak, bila kepada UAS kita bertanya, apa argumentasinya bahwa dalam salib Yesus, terdapat jin kafir. Seperti juga kala itu, mestinya kita bertanya kepada Ahok dan RG, apa argumentasinya.

Biarkan mereka mempertanggungjawabkan secara ilmiah gagasan-gagasan yang mereka yakini. Rasanya, polisi tak perlu turun tangan menyelesaikan masalah pemikir, apatah lagi menurunkan massa rakyat hingga demo berjilid-jilid.

Lebih penting dari itu, mengapa kita tak curiga ihwal: siapa penyebar video tersebut dan mengapa baru sekarang diviralkan, apakah mungkin ada upaya adu domba, menciptakan konflik horizontal agar isu besar tertutupi. Sebab bukan rahasia lagi, bila isu² besar semisal perampokan SDA, korupsi dll, ditutupi dengan konflik.

Fokus rakyat dialihkan, dari mengawasi tikus-tikus kantor yang bersekongkol dengan kucing² lapar, ke masalah agama, ras dll. Rakyat sibuk, saling bertengkar karena keyakinan, sementara tikus dan kucing melahap seluruh isi rumah. Bukankah lebih baik membela kemanusiaan yang terus saja dijarah, daripada membela Tuhan yang memang tak perlu dibela.

Itulah mengapa, saya selalu bersyukur karena berfilsafat. Sebab dengan begitu, saya tak perlu terheran-heran, apatahlagi mencak-mencak, kala mendengar cacian atau gagasan yang berbeda dengan apa yang saya yakini. Betapapun pandangan tersebut menyayat emosi, kita sikapi dengan rasional.

Pun juga, saya tak perlu termehek-mehek, kala mendengar pujian atau gagasan yang sesuai dengan keyakinan saya, betapapun gagasan tersebut membuat hati berdebar-debar. Tahu mengapa? Sebab filsafat, pun juga dengan agama, menganjurkan kita untuk bertanya, apa argumentasi kalian, jika kalian adalah orang-orang yang benar.

Alfit Lyceum
alumni filsafat dan mistisisme Islam, direktur Lyceum Philosophia Institute
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.