OUR NETWORK
Ahok Cawapres Jokowi
http://kabarkanlah.com

Pasal 156a KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman 5 tahun penjara menjadi momok bagi Ahok. Menurut pakar hukum tata negara Bivitri Susanti, pasal tersebut mengancam eksitensi Ahok dalam karir politiknya. 

Hal itu berdasarkan peraturan KPU dimana capres dan cawapres tidak mencalonkan diri karena pernah dipenjara dengan ancaman hukum penjara 5 tahun atau lebih.Namun demikian Peraturan KPU No.15 tahun 2004 pasal 10 huruf n bisa saja diamandemen. 

Artinya Ahok bisa menjadi pendamping Jokowi pada pilpres 2019. Peluang Ahok masih terbuka lebar sehingga pilihan bijak bagi Jokowi ialah memilih Ahok sebagai cawapresnya. Elektabilitas Ahok yang tak jauh beda dengan Prabowo harus jadi pertimbangan Jokowi. 

Walaupun kalah dalam pilkada dan sekarang narapidana, Ahok masih memiliki pendukung loyal. Tsamara amany pentolan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) misalnya, ia merindukan sosok Ahok yang menurutnya tegas dan berani. Umat Islam, walaupun tak semuanya, kini sedang mengkonsumsi isu PKI. 

Itu artinya isu sentimen agama pada pilkada DKI tidak sebesar pilpres 2019 bila Ahok jadi pendamping Jokowi. Menurut pandangan saya, sampai awal 2019 isu PKI akan terus gencar berhembus, isu yang menguntungkan Jokowi.

Mengapa menguntungkan Jokowi? Keuntungan pertama ialah ketika Jokowi menolak meminta maaf pada PKI. Kedua Jokowi dengan tegas akan gebuk PKI bila memang ada, dan terakhir ia menganjurkan pemutaran film pengkhianatan G30s/PKI. Elektabilitas Jokowi akan terus terawat dan meningkat.

Terkait Ahok yang sekarang masih narapidana, itu bukan soal yang patut dikhawatirkan. Sentimen agama dengan mudah dianulir pada pilpres 2019. Ahok hanya butuh kehati-hatian dengan lisannya. Bila hal itu mampu dilakukannya maka jalan Jokowi-Ahok pada 2019 ibarat jalan bebas hambatan. Siapapun kompetitor mereka pada 2019 akan sulit mengalahkan mereka. 

Jokowi harus melihat peluang itu bila ingin terpilih kembali. Jokowi yang kini mendapat dukungan pengusaha, birokrasi, dan media, tetap membutuhkan cawapres dengan elektabilitas tinggi, dan itu dimiliki Ahok.

Bila Jokowi memilih Gatot Nurmantyo, maupun kandidat lainnya, kekalahan akan dideritanya. Lihat saja kekuatan Ahok yang mampu mempolarisasi PPP, menundukkan Megawati, melunakan TemanAhok. Satu bukti nyata bahwa Ahok memiliki kekuatan politik yang tak bisa dianggap remeh.

Jokowi harus yakin dengan Ahok, jangan melupakan Ahok yang telah lama bersamanya. Jokowi harus ingat pengorbanan Ahok demi Jokowi pada pilpres 2014, Ahok rela mundur dari Gerindra dan menentang Prabowo, padahal Gerindra yang mencalonkannya sebagai cawagub.

Pengorbanan yang patut dibayar Jokowi pada pilpres 2019 dengan menjadikan Ahok sebagai cawapresnya. Menjadikan Ahok sebagai cawapres sekaligus pembuktian bahwa Jokowi seorang negarawan, merangkul minoritas bahkan menduduki posisi penting dipemerintahannya. 

Sekarang dan kedepan pilihan ada pada Jokowi, ingin menang kembali atau kalah. Jika ingin menang kembali pilihan cerdas adalah menjadikan Ahok sebagai pendamping. Bila tidak, Jokowi akan dikalahkan angka golput yang seharusnya memilih dia dan Ahok. Kompetitor Jokowi sudah jelas bertambah, selain Prabowo kini hadir keluarga SBY. Pilkada DKI SBY berkali-kali harus menemui media karena diserang. Hal itu tentu saja membuat SBY tak nyaman. Kekuatan SBY bila berkoalisi dengan Prabowo akan sangat menyulitkan Jokowi. Itulah sebabnya tak ada pilihan lebih bijak selain Ahok sebagai cawapresnya pada pilpres 2019.

Penikmat Kopi II Penulis Kebenaran II Suka semua bacaan II WA 081360360345
Masih single

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…