Senin, April 12, 2021

Ahok Cawapres Jokowi

Balochistan, Halaman Belakang yang Perlu Dijaga

Nama Balochistan mungkin tidak begitu familiar di telinga kita. Sebagai bagian dari wilayah Pakistan, pemberitaan Balochistan masih kalah dengan Islamabad, Karachi, Kandahar, dan Lahore,...

Keberagaman yang Konstruktif

Keberagaman di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Beragam suku, bangsa, ras, dan agama hidup berdampingan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga, filosofi Bhinneka...

Lebaran Para Pemenang

Lebaran, istilah yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, untuk mengistilahkan perayaan hari Idul fitri. Kata 'lebaran' sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia...

Kedewasaan dan Autisme Jaman Now

“Manusia lebih merupakan anak zamannya ketimbang anak bapaknya,” tulisan sejarah Marc Bloch. Inilah yang paling tidak yang saya bisa rasakan sebagai calon pengajar yang...
donzakiyamani
Penikmat Kopi II Penulis Kebenaran II Suka semua bacaan II WA 081360360345 Masih single

http://kabarkanlah.com

Pasal 156a KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman 5 tahun penjara menjadi momok bagi Ahok. Menurut pakar hukum tata negara Bivitri Susanti, pasal tersebut mengancam eksitensi Ahok dalam karir politiknya. 

Hal itu berdasarkan peraturan KPU dimana capres dan cawapres tidak mencalonkan diri karena pernah dipenjara dengan ancaman hukum penjara 5 tahun atau lebih.Namun demikian Peraturan KPU No.15 tahun 2004 pasal 10 huruf n bisa saja diamandemen. 

Artinya Ahok bisa menjadi pendamping Jokowi pada pilpres 2019. Peluang Ahok masih terbuka lebar sehingga pilihan bijak bagi Jokowi ialah memilih Ahok sebagai cawapresnya. Elektabilitas Ahok yang tak jauh beda dengan Prabowo harus jadi pertimbangan Jokowi. 

Walaupun kalah dalam pilkada dan sekarang narapidana, Ahok masih memiliki pendukung loyal. Tsamara amany pentolan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) misalnya, ia merindukan sosok Ahok yang menurutnya tegas dan berani. Umat Islam, walaupun tak semuanya, kini sedang mengkonsumsi isu PKI. 

Itu artinya isu sentimen agama pada pilkada DKI tidak sebesar pilpres 2019 bila Ahok jadi pendamping Jokowi. Menurut pandangan saya, sampai awal 2019 isu PKI akan terus gencar berhembus, isu yang menguntungkan Jokowi.

Mengapa menguntungkan Jokowi? Keuntungan pertama ialah ketika Jokowi menolak meminta maaf pada PKI. Kedua Jokowi dengan tegas akan gebuk PKI bila memang ada, dan terakhir ia menganjurkan pemutaran film pengkhianatan G30s/PKI. Elektabilitas Jokowi akan terus terawat dan meningkat.

Terkait Ahok yang sekarang masih narapidana, itu bukan soal yang patut dikhawatirkan. Sentimen agama dengan mudah dianulir pada pilpres 2019. Ahok hanya butuh kehati-hatian dengan lisannya. Bila hal itu mampu dilakukannya maka jalan Jokowi-Ahok pada 2019 ibarat jalan bebas hambatan. Siapapun kompetitor mereka pada 2019 akan sulit mengalahkan mereka. 

Jokowi harus melihat peluang itu bila ingin terpilih kembali. Jokowi yang kini mendapat dukungan pengusaha, birokrasi, dan media, tetap membutuhkan cawapres dengan elektabilitas tinggi, dan itu dimiliki Ahok.

Bila Jokowi memilih Gatot Nurmantyo, maupun kandidat lainnya, kekalahan akan dideritanya. Lihat saja kekuatan Ahok yang mampu mempolarisasi PPP, menundukkan Megawati, melunakan TemanAhok. Satu bukti nyata bahwa Ahok memiliki kekuatan politik yang tak bisa dianggap remeh.

Jokowi harus yakin dengan Ahok, jangan melupakan Ahok yang telah lama bersamanya. Jokowi harus ingat pengorbanan Ahok demi Jokowi pada pilpres 2014, Ahok rela mundur dari Gerindra dan menentang Prabowo, padahal Gerindra yang mencalonkannya sebagai cawagub.

Pengorbanan yang patut dibayar Jokowi pada pilpres 2019 dengan menjadikan Ahok sebagai cawapresnya. Menjadikan Ahok sebagai cawapres sekaligus pembuktian bahwa Jokowi seorang negarawan, merangkul minoritas bahkan menduduki posisi penting dipemerintahannya. 

Sekarang dan kedepan pilihan ada pada Jokowi, ingin menang kembali atau kalah. Jika ingin menang kembali pilihan cerdas adalah menjadikan Ahok sebagai pendamping. Bila tidak, Jokowi akan dikalahkan angka golput yang seharusnya memilih dia dan Ahok. Kompetitor Jokowi sudah jelas bertambah, selain Prabowo kini hadir keluarga SBY. Pilkada DKI SBY berkali-kali harus menemui media karena diserang. Hal itu tentu saja membuat SBY tak nyaman. Kekuatan SBY bila berkoalisi dengan Prabowo akan sangat menyulitkan Jokowi. Itulah sebabnya tak ada pilihan lebih bijak selain Ahok sebagai cawapresnya pada pilpres 2019.

donzakiyamani
Penikmat Kopi II Penulis Kebenaran II Suka semua bacaan II WA 081360360345 Masih single
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.