Minggu, Januari 24, 2021

Agnez Mo dan Fenomena FOMO

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Environmental

Diantara Kota dan Desa ( Wilayah Peri Urban)Desa maupun kota  jika di tinjau dari segi fisik morfologi di indikasikan oleh bentuk pemanfataan lahan non...

Tatkala Realisme Memandang IMF [II]

Tulisan pertama bisa klik di sini. Asumsi realis mendapatkan dukungan dari beberapa peneliti yang fokus mengkaji terkait lembaga moneter internasional tersebut. Misalnya saja seperti...

Kemenangan Joe Biden Bagi Muslim Amerika

Berita terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat sudah menyebar luas. Hal ini tentu saja merupakan kabar gembira bagi sebagian besar penduduk Amerika. Bahkan...
Fahmi Irhamsyah
Akademisi, Alumnus S2 Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta, Awardee Program ROOTS Malaysia dan Short Course School Of Education University Of Birmingham. Travelpreneur II @fahmiirhamsyah, Tinggal di Birmingham United Kingdom

Media sosial Indonesia kembali diramaikan oleh suatu isu yang sejatinya tidak bermutu namun memantik jiwa nasionalisme. Isu ini bermula dari statement seorang Agnez Mo yang menyatakan I don’t have Indonesian blood whatsoever. 

Hal itu didasarkan oleh pengetahuan terbatasnya bahwa secara genetika ia tidak memiliki genetika Indonesia. Melainkan Jerman, Jepang dan China. Dari sisi genetika sah-sah saja ia menyatakan hal tersebut sebab secara historis memang sebagian besar masyarakat Indonesia berdarah campuran.

Nusantara sejak awalnya adalah wilayah strategis tempat pertemuan antar benua. Seiring berjalannya waktu perdagangan Internasional dari China, Yaman (Hadramaut) dan India turut meramaikan kekayaan genetika Indonesia.

Saat terjadi penjajahan pertama tahun 1511 oleh Portugis maka mulailah masuk pengaruh Eropa diikuti Spanyol, Belanda, Inggris dan Prancis. Semakin ramai pula pertemuan genetika berbagai suku bangsa di Indonesia.

Fakta historis itulah yang membuat kita harus sadar bahwa di dalam darah kita sejatinya memang kaya percampuran genetika dari berbagai bangsa di dunia. Artinya, tidak hanya Agnez MO yang memiliki darah “campuran”, namun kita pun sama dan memang demikian adanya.

Namun Agnez Mo melupakan satu hal yang substansial, yaitu dari sisi sosial. Bahwa keberadannya sebagai WNI tidak berdasarkan dari genetika dan keturunannya, namun berdasarkan tempat kelahirannya. Mengapa Agnez Mo bisa seakan tidak memahami fakta ini? Jawabannya adalah karena fenomena FOMO atau Fear Of Missing Out.

Industri hiburan sejatinya adalah industry yang sangat keras, hanya hitungan waktu yang singkat, jika anda tidak kreatif maka dengan sendirinya anda harus siap terdepak dari industri ini. simaklah kehidupan Norman Kamaru, Veri (AFI) dan sederet artis lainnya yang pernah meramaikan jagat hiburan tanah air.

Beruntung Norman Kamaru dan Veri (AFI) tetap memiliki skills dan daya tahan psikologis yang baik, sehingga meski tidak berada di panggung hiburan mereka tetap dapat eksis dan bertahan dengan kehidupan mereka hari ini.

Sangat berbeda dengan artis lain yang memiliki bakat dan kreatifitas terbatas, jika job on air maupun  off air sudah mulai berkurang maka mencari sensasi adalah jalan pintasnya.

Penelitian terbaru dalam antropologi sosial memang menyatakan banyak generasi Millenial dunia telah terjangkit fenomena FOMO. Mereka sangat takut kehilangan atau terkucilkan dari kehidupan sosialnya.

Di beberapa negara bahkan para Millenial ini berani berhutang demi membeli brand tertentu untuk melengkapi gaya hidup agar tetap eksis dan tidak “Missing Out”.

Dari sudut pandang ini, pernyataan Agnez MO jelas bukan sedang merendahkan Indonesia, namun ia sedang menyatakan bahwa dirinya sejak lahir memang sudah “Internasional” sebab hari ini Agnez Mo sedang berjuang dan bergaul di industri hiburan Internasional. Ia takut “Missing Out” dari pergaulannya itu.

Namun, sebagai sesama diaspora ingin saya sampaikan bahwa sejauh apapun kita dari tanah air, jangan pernah lupa tempat lahir dan besar kita, sebab tanpa bangsa Indonesia sulit bagi seorang Agnez Mo untuk eksis seperti hari ini.

Fahmi Irhamsyah
Akademisi, Alumnus S2 Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta, Awardee Program ROOTS Malaysia dan Short Course School Of Education University Of Birmingham. Travelpreneur II @fahmiirhamsyah, Tinggal di Birmingham United Kingdom
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.