in

Agar Air Tak Memusuhi Kita


Air ialah yang diperjuangkan Yu Sukinah dan kawan-kawannya dari Kendeng dan berbagai tempat lainnya. Sumber air dan lingkungan mereka adalah bagian dari identitas mereka. Tanpa sepenuhnya memahami bagaimana warga aboriginal terhubung dengan tanah mereka, kita bisa memahami bahwa lingkungan, setidaknya, adalah sumber penghidupan. Mereka bangga bisa mengkonsumsi air murni tanpa membelinya dalam galon, memproduksi nasi sendiri, dan, secara umum, hidup damai bersama Ibu Bumi.

Aksi mereka untuk melindungi air, semestinya, adalah panggilan untuk kita untuk kembali ke akar. Peradaban-peradaban pertama tumbuh di sekitar perairan, karena pertanian – yang tentunya perlu air – adalah pusat kehidupan. Selain itu, sungai juga digunakan untuk sanitasi dan transportasi. Kini, kita tak sepenuhnya berevolusi di sekitar pertanian seperti dahulu, namun persediaan air akan semakin penting seiring dengan tumbuhnya populasi manusia yang diperkirakan PBB akan mencapai 9,8 triliun pada 2050. Ini berarti lebih banyak yang perlu diberi makan, dimandikan, dan diangkut.

Statistik ini sudah umum disajikan: bahwa hanya dua persen air di bumi adalah air segar, dan 70 persen di antaranya adalah es dan salju. Persediaan ini tentu tak cukup: kini, menurut WHO, satu dari sepuluh orang tak punya akses air yang aman dan terjangkau, dan masalah ini akan semakin parah. Sebagian penyebabnya ialah perubahan iklim.

Temperatur yang terus meningkat, selain memperburuk persediaan air di daerah yang memang kering dan menaikkan tingkat penguapan, juga menaikkan jumlah air yang bisa ditanggung oleh atmosfir, yang berpotensi menjadi fenomena hujan yang lebih deras. Hal ini bisa berarti daerah yang terkena hujan mendapatkan lebih banyak air, namun, hujan yang begitu deras berarti air hujan tersebut akan lebih cepat mengalir ke laut. Pemanasan juga akan mengubah hujan salju menjadi hujan air, serta melelehkan gletser – yang bisa menambah persediaan air, namun akan hilang bila sudah meleleh seluruhnya.

Baca Juga :   Menuju Neraka dan Banjir Besar? [Catatan Perubahan Iklim 2016]

Semua itu adalah berita buruk untuk sektor pertanian. Selain efek langsung berupa tak suburnya sebagian tanaman di daerah yang memanas, perubahan iklim juga mempengaruhi persediaan air untuk pertanian secara langsung melalui pola cuaca ekstrem – seperti hujan yang lebih deras, atau sebaliknya, kekeringan yang lebih parah – dan secara tidak langsung dengan mengubah keseimbangan di penyimpanan air seperti air permukaan, air bawah tanah, salju, dan gletser.


Perubahan pola hujan akan memaksa lahan pertanian yang bergantung pada hujan untuk beradaptasi dan menggunakan irigasi untuk menanggulangi setidaknya sebagian kebutuhan airnya. Untuk irigasi, diperlukan air dari tempat-tempat penyimpanan air seperti air permukaan – yang akan pula berubah karena perubahan iklim bisa mengubah kecepatan siklus air.

Menurut laporan FAO, sudah 10.9 persen manusia kelaparan setiap harinya, dan per studi Brown et al. pada 2013, 45 persen kematian anak tiap tahunnya disebabkan oleh malnutrisi. Karena krisis yang begitu global, lahan pertanian yang gagal, dan kebutuhan makanan yang terus meningkat, bencana kelaparan berpotensi terjadi lebih sering di lebih banyak tempat.

Masalah lain ialah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh sanitasi yang buruk. Pola cuaca ekstrem, seperti banjir dan kekeringan, selain mengganggu aliran air normal, bisa menghancurkan tempat penyimpanan air dan fasilitas sanitasi. Daerah-daerah yang paling rawan banjir dan kekeringan, gawatnya, sudah merasakan sulitnya mendapatkan air. Anak-anak adalah demografi yang paling terancam masalah ini karena mereka lebih mudah terserang penyakit seperti diare – yang, per UNICEF, membunuh 800 anak di bawah umur lima tahun setiap harinya.

Baca Juga :   Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit, Bagian #1

Masalah-masalah di atas adalah efek perubahan iklim, namun memfokuskan usaha pada perlambatan perubahan iklim saja tidak cukup. Problematika air dan kesehatan sudah terjadi sekarang, dan berpotensi memburuk. Maka, kita harus meningkatkan kualitas dan memperluas persediaan air dan layanan kesehatan.

Akses terhadap air harus diperlakukan sebagai hak dasar, bukan hak istimewa. Masyarakat harus memiliki akses terhadap air yang terjangkau, aman dikonsumsi, dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan ini – dan urusan lainnya – pemerintah harus mengedepankan kepentingan masyarakat luas dan tidak tunduk pada kepentingan-kepentingan yang — dibandingkan dengan hak dasar universal ini — sepele.

Ada pula usaha yang menarik melalui geoengineering: untuk mengerem fenomena hujan yang terlalu deras, skema sunshade – payung pelindung dari matahari – dapat digunakan untuk mendinginkan permukaan bumi. Skema ini berusaha meningkatkan pemantulan cahaya matahari oleh awan, yang berujung dengan penurunan suhu bumi dan perlambatan siklus air. Dalam studi pemodelan yang dilakukan Lawrence Livermore National Laboratory, penurunan penerimaan sinar matahari dapat mengurangi rerata hujan dunia sebanyak enam persen – yang mengakibatkan melambatnya siklus air.

Namun, perlu pula diperhatikan bahwa skema ini tidak mengatasi masalah dari hulu; ia tak menanggulangi masalah emisi karbon dioksida. Selain itu, memanipulasi bumi – termasuk atmosfir – tanpa melahirkan masalah baru adalah urusan yang luar biasa rumit; hal ini sudah kita pelajari dengan melihat kerusakan yang dibuat manusia sepanjang peradaban demi perkembangan.

Baca Juga :   Menjaga Memori Kolektif Bangsa Sebagai Bukti Kecintaan Terhadap Negara

Kita harus sadar bahwa dalam perkembangan manusia, kita telah melakukan kesalahan kolektif dengan mengukur prestasi peradaban di sekitar diri manusia dan keserakahan, tanpa memperhatikan hutang kita pada bumi, yang pada akhirnya tentu akan ditagih. Seperti nyanyian pejuang Kendeng: “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili.” Ibu bumi memberi, ibu bumi disakiti, ibu bumi yang menilai.

Kredit gambar: Alamy Stock Photo


Written by raisarft

Raisa Rifat, perempuan 19 tahun, adalah relawan dan calon mahasiswa teknik lingkungan. Ia berusaha memperbanyak pengetahuan terutama tentang keadaan lingkungan dan sosial, serta ingin ikut menjadi bagian perubahan positif bagi bumi.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR