OUR NETWORK

Agama dan Kemanusiaan: Mana Harus Didahulukan?

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua agama menganjarkan nilai-nilai kemanusiaan

Ketika yang harus didahulukan adalah kemanusiaan daripada agama, maka sesungguhnya manusia telah menjadi diri seutuhnya. Seberapa besar kewajiban manusia untuk beragama sesungguhnya tergantung kepada seberapa besar manusia membutuhkan agama untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Agama selalu menganjurkan kemanusiaan-kemanusiaan; ketika agama melarang manusia untuk berbuat, maka hakikatnya agama melarang kerusakan-kerusakan yang dapat mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Begitupun sebaliknya ketika agama menganjurkan manusia untuk berbuat, sesungguhnya agama mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya, atau paling tidak agama sedang mengokohkan kemanusiaan manusia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua agama menganjarkan nilai-nilai kemanusiaan, dan juga tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit tindakan-tindakan manusia yang bertentangan dengan kemanusiaan atas nama agama.

Namun, hal ini harus dikembalikan kepada bahwa ajaran agama tergantung kepada pemahaman manusia terhadapnya, karena sering sekali agama dipahami secara sangat tekstual sehingga, disadari atau tidak, telah melepaskan agama dari sejarah risalahnya. Dengan demikian, maka tidak heran ketika seorang beragama kemudian menjadi keras dan begitu pula yang menjadi lemah lembut.

Mengenai hal ini, Prof. Amien Rais, dalam sebuah diskusi mengenai etika pembangunan dalam pemikiran Islam yang diadakan oleh UIN Yogyakarta, menegaskan bahwa bagi Islam atau umat Islam kerukunan antar umat beragama bukalah sesuatu yang asing sama sekali.

Dalam makalahnya Prof. Amien menguraikan, berdasarkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap kesejahteraan manusia, seorang muslim sama sekali dilarang meremehkan agama lain dan tidak mungkin membenci umat manusia lain. hal ini tampak dari pandangan Alquran yang mendasarkan bahwa muslim harus memiliki toleransi terhadap eksistensi agam lain dengan melarang adanya paksaan dalam agama.

Dalam hal ini Prof Amien mengutip surah al-Baqarah ayat 256, yang diawali dengan kalimat tidak ada paksaan untuk (menganut) agama (Islam). Menurut Prof. Quraish Shihab, tidak adanya paksaan sebagaimana yang dikatakan ayat ini, karena Tuhan tidak membutuhkan sesuatu, jika Tuhan menghendaki niscaya seluruh umat manusia dijadikan satu umat.

Sekalipun demikian, Prof. Amien menegaskan bahwa tidak berarti Islam mentolerir tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan dan kebebasan tanpa batas, sekalipun tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan tersebut dibenarkan oleh keyakinan tertentu.

Prof. Quraish Shihab juga mengingatkan bahwa yang dimaksud tidak ada paksaan dalam menganut agama adalah menganut akidahnya. Ini berarti ketika seorang memilih satu akidah, maka terikat dengan tuntunan-tuntunannya, dia berkewajiban melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mejauhi larangan-Nya.

Kebebasan beragama dalam pandangan Islam berarti setiap agama diakui eksistensinya dan para pemeluknya diberi hak sebebas-bebasnya untuk memberlakukan hukum-hukum agama dan pandangan hidupnya selama tidak benturan dengan moral dasar manusia dan tidak menganggu ketertiban umum.

Bentuk ajaran kemanusiaan Islam terletak dalam tujuan Tuhan menurunkan ayat di atas yakni, Tuhan menghendaki agar setiap orang merasakan kedamaian. Sedangkan kedamaian tidak dapat dicapai jika jiwa personal manusia tidak damai. Salah satu yang menyebabkan jiwa tidak damai adalah paksaan. Dengan begitu, Islam tidak menghendaki adanya paksaan, karena Islam adalah agama damai.

Prof. Amien menilai pandangan Islam yang demikian sangat logis, mengingat Keesaan Tuhan merupakan suatu keyakinan dasar juga bagi ahli kitab. Seandainya pandangan ini tidak diterima oleh ahli kitab, Islam masih tetap menganjurkan umatnya agar terus melakukan hubungan sosial yang sebaik-baiknya dengan mereka.

Tuhan menegaskan bahwa “Sesungguhnya orang-orang yang beriman –orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in- siapa saja diantara mereka yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan hari kemudian serta beramal shaleh, maka untuk mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. Al-Baqarah: 62).” Manusia memang berbeda dalam melakukan ajaran agama masing-masing. Namun, mereka yang yakin pada keesaan Allah dan berbuat kebajikan akan termasuk golongan orang-orang yang selamat.

Dengan pernyataan Alquran yang demikian, Prof. Amien menyimpulkan bahwa etika Islam dalam hal hubungan antaragama, dalam hal ini ahli kitab, sudah sangat gamblang dan jelas.    Menjadi lebih menarik pembahasan dalam kesempatan diskusi tersebut, mengenai pemaparan Prof. Amien, ketika muncul pertanyaan dari Dr. Yudo Wibowo; apakah kegamblangan dan kejelasan ini juga sama bagi seluruh muslim dan bagi pemeluk agama lain di Indonesia?

Prof. Amien mengatakan bahwa inilah tugas pemimpin untuk mentrasfer etik yang demikian jelas ke bawah (seluruh bawahannya hingga sampai kepada seluruh rakyat) dan juga tugas pemimpin agama lain untuk bersama-sama memberi pemahaman yang komprehensif tentang agama yang pada hakikatnya mencita-citakan kedamaian. Hal ini yang dimaksud penulis dalam paragraf kedua dalam sub bab ini.

Pada tahap ini, kaum agamawan dituntut untuk membuktikan peranan positif-kostruktif agama-masing, guna menjawab kaum sekuler yang sering kali menuduh agama tidak mampu menciptakan toleransi kemanusiaan.

Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pencinta Kajian Sufisme dan Filsafat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…