Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Agama dan Budaya dalam Pusaran Globalisasi

Peran Gastronomi Indonesia dalam Menumbuhkan Gastro Preneurship

Presiden Jokowi pada pertengahan tahun lalu menyampaikan bahwa diplomasi terbaik di dunia baik secara sosial budaya maupun ekonomi, adalah melalui boga /makanan. Dan memang...

Student Loan, Sebuah Kritik Terhadap Satu Opini Geotimes

    "Namun bukannya kaum miskin itu tanggung jawab negara dalam memelihara mereka?” - Muhammad Vicky Afris Suryono Saat membaca kolom opini GeoTimes saya menemukan...

Teokrasi di Mata Demokrasi

Dalam pengertian yang paling umum, teokrasi adalah cara memerintah negara berdasarkan kepercayaan bahwa Tuhan langsung memerintah agama, di mana hukum negara yang berlaku adalah...

Khawatir RUU SDA Bisa Jadi Bumerang Pemerintah

Tarik ulur pasal RUU Sumber Daya Air yang sedang dibahas Pemerintah bersama DPR saat ini dikhawatirkan bisa menjadi jebakan atau bumerang bagi pemerintah sendiri....
Bisyrul Hafi
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, penulis lepas yang tertarik mengkaji sosial budaya, serta eksplorasi relevansi Islam terhadap perkembangan zaman, sesekali menulis tentang isu-isu politik.

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan secara kasat mata mampu memotong jarak perbedaan budaya, kehidupan sosial dan pesatnya arus informasi. Hal tersebut tentu membawa pengaruh besar dalam pergeseran sudut pandang manusia tehadap agama dan budaya.

Dalam pesatnya perkembangan zaman, agama tidak hanya bisa dilihat dengan pendekatan teologis belaka, akan tetapi erat kaitannya dengan  sosio kultular yang ada dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini semakin menunjukan bahwa hakikat beragama tidak sebatas hubungan antara manusia dengan Tuhannya akan tetapi juga memeberikan kesadaran dalam berkelompok, dan relasi antar individu.

Dari sinilah mulai muncul pelbagai problematika yang melibatkan agama baik secara langsung maupun tidak langung, dimulai dari masalah kekerasan, hubungan antar manusia, produk budaya modern, yang dimana agama dituntut selalu menujukan eksistensinya untuk membersamai manusia, agar agama tetap relevan digunakan dalam taraf nilai pegangan hidup.

Ditambah dengan cepatnya perubahan zaman di era globalisasi dimana budaya berubah begitu cepat sehingga segala persoalan dituntut agar bisa dijawab dengan jawaban yang konkret, karena hakikatnya memang agama diposisikan sebagai pijakan utama untuk menujukam relevansinya dalam menjawab segala persoalan dan tantangan zaman.

Dengan segala perkembangan yang begitu cepat, perlu kiranya kita untuk membelokan cermin ke belakang , sekedar melihat apa yang telah diramu oleh para pendahulu kita, dengan melihat seksama para tokoh perdaban islam masa lalu, seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, al-Farabi, Ibnu Sina, yang secara masif menjawab segala problematika pada zamanya, dengan buah pikiran yang cemerlang.

Sehingga pada saat itu Islam dapat menyeimbangkan segala fenomena perubahan budaya dan keagaman yang begitu cepat, sehingga umat Islam pada saat itu bisa mapan dalam majunya peradaban sekaligus dapat mewariskan pemikiran untuk generasi penerus sampai sekarang.

Dengan formula diatas sebenarnya bangsa kita sendiri juga mempunyai jejak manis dalam merespon perkembangan zaman. Terkhusus dalam “mendamaikan” nilai-nilai budaya dan agama sebagai jawaban atas kondisi masyarakat pada zamannya yang terkungkung dengan ajaran agama pendahulu yang dibebani dengan perbedaan kasta. Maka pemahaman ini menjelama menjadi daya Tarik sendiri pada abad ke-15 yaitu dalam masa penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh Wali Sanga.

Misalkan Sunan Bonang yang mengubah penggunaan gamelan  yang identik dengan estetika Hindu menjadi hal yang bernuansa dzikir, sedangkan Sunan Kalijaga berdakwah melalui media kesenian lokal yang berupa wayang, dan tembang-tembang Jawa. Maka relasi antara agama dan budaya modern tidak seharusnya dipertentangkan, tetapi segala produk budaya modern bisa dijadikan sebagai media dakwah Islamiyyah dan menebar persaudaraan dan kebaikan.

Dakwah Walisongo di Nusantara ini menunjukkan tidak adanya nalar Arabisasi, akan tetapi yang ada adalah nalar sufistik Walisongo yang sangat toleran terhadap budaya lokal dan berusaha memasukkan nilai-nilai Islam sekaligus memilh ciri khas keindonesiaan, bukan kearaban.

Memilih ciri khas keindonesiaan bukan anti dengan arab, akan tetapi hal ini semata untuk menunjukan bahwa subtansi agama dan budaya dapat ‘dikawinkan’ untuk mewujudkan formula dakwah yang tepat agar hati mereka merasa terwakili oleh agama yang masih baru mereka kenal.

Berkaca dengan diktat yang ditulis Jaques Berque diawal tahun 1990-an berjudul Relie le Coran at le Bible, yang intinya perlu “membaca ulang” Al-Quran dan Bibel untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan abadi diantara pemeluk kedua kitab suci tersebut.

Dalam bukunya Islam Fungsional Prof Dr. Nazaruddin Umar menjabarkan bahwa ada beberapa hal filosofis dan filologis yang perlu dicermati dalam “membaca ulang” kitab suci. Diantaranya, dari mana datangnya teks kitab suci, bagaimana teks itu diperoleh, apakah teks itu disabdakan, diceritakan, dan atau dilakonkan oleh seseorang, bagaimana autentitas teks itu sendiri yakni bagaimana pertalian sanad yang meriwayatkannya.

Sehingga yang terjadi adalah kritalisasi pemikiran yang melebur dengan realitas zaman menjawab sekiranya yang benar sekaligus bijak untuk dijadikan pijakan umat. Dari batas ini kita benar-benar merasakan bahwa Islam benar-benar bagian dari keterwakilan kita, agama yang uptodate mengikuti perkembangan zama (Sholihun Likulli Zaman Wa Makaan)

Maka dari itu, gagasan budaya harus bisa diaktualisasikan seperti yang telah dilakukan dan muncul dari para Wali dan Ulama terdahulu yang mencoba menerjemahkan Islam agar ide yang terkandung didalmnya dapat dikontribusikan secara langsung dalam memecah permasalahan yang terjadi diantara umat.

Hal ini menjadi  bekal penting yang bisa dipakai generasi selanjutnya, terbukti di tahun 90-an, muncul gerakan-gerakan  ilmu sosial muslim, yang mencoba mengaktualisasikan Islam sesuai zamannya, maka muncullah ide seperti Islam Transformatf (Moeslim Abdurrahman), pribumisasi atau kulturisasi islam (Cak  Nur dan Gus Dur), Tauhid sosial (Amien Rais), dan Islam Keindonesiaan (Syafii Ma’arif).

Terbaru adalah gerakan yang di nahkodai oleh dua ormas di Indonesia NU (Nahdlatul Ulama) Muhammadiyah, dengan mengusung ide Islam Nusantara dan Islam Kemajuan yang sama-sama mencoba mengaktualisasikan dan merumuskan gaya Islam yang secara khusus terpola di Indonesia.

Oleh karena itu dalam era globalisasi agama tidak hanya dipandang sebagai gerakan ritual vertical yang terjadi antara hubungan pribadi hamba dengan Tuhannya, akan tetapi juga mengajak dan membantu dalam mengentaskan masalah sosial secara langsung bersama mewujudkan baldatun thayyaibatun wa rabbun ghofur. 

Sekaligus wacana tersebut merupakan gerakana akuturisasi antara kultur budaya di nusantara dengan nilai-nilai subtantif Islam, sehingga tidak ada nilai-nilai yang tumpang tindih yang saling menjatuhakan sehingga nilai-nilai pendahulu menjadi terhapuskan.

Maka dari itu berangkat dari falsafah diatas, bangsa Indonesia dapat menunjukan identitas khas “Kenusantaraan” yang diramu dari “kompromi” antara nilai-nilai budaya sebagai produk yang sekaligus menjadi benteng dalam memfilter gusuran era globalisasi yang negatif dan dapat memberikan dampak yang positif dalam kehidupan nasional sehingga bangsa kita mempunyai ciri khas tersendiri dalam watak dan tingkah lakunya.

Bisyrul Hafi
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, penulis lepas yang tertarik mengkaji sosial budaya, serta eksplorasi relevansi Islam terhadap perkembangan zaman, sesekali menulis tentang isu-isu politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Jerat Klientelisme

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mulai semarak. Kurang lebih 270 daerah (Kota/Kabupaten dan Provinsi) akan menyelenggarakan pesta demokrasi elektoral ini. Tentunya Pilkada tahun...

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.