Sabtu, Oktober 24, 2020

Agama dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

LAILATUL QADAR

Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat penting dan ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Para tokoh agama di berbagai penjuru dunia,...

Dinamika Dibalik Kembali Turunnya Harga Penerbangan Domestik

Belum lama menghela nafas setelah maklumat penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh PT Pertamina, masyarakat Indonesia sontak dibuat tertegun dengan melunjaknya harga tiket...

Pilkada: Antara Politik, Demokrasi, dan Pendidikan Keteladanan

Pada tangal 27 Juni 2018, bangsa Indonesia telah melaksanakan Pilkada Serentak. Pilkada tahun 2018 serentak dilakukan di 171 daerah, dan untuk memilih gubernur dan...

Perseteruan Kedua Organisasi Mahasiswa Saat Musim Maba

Kampus di Indonesia setiap tahunnya merayakan perhelatan akbar menyambut mahasiswa baru (Maba). Masing-masing kampus memiliki tradisi yang berbeda beda. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) salah...
Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Secara garis besar, persoalan mengenai AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), sebenarnya, tidak hanya terbatas pada analisis yang bersifat geofisika-kimiawi. Kita menyaksikan, analisis seputar geofisika-kimiawi seringkali hanya menfokuskan pada sudut eksternal-lahirian atau fisik material semata, yang dikaji dalam spektrum rumus dasar fisika-kimia.

Adapun aspek AMDAL yang terkait pada wilayah internal-batiniah, baik menyangkut pola hidup, standar hidup, sikap hidup, dan tata nilai, agaknya belum cukup tercover oleh analisis yang hanya menekankan pada aspek eksternal-lahirian. Boleh dikata, analisis yang menyangkut aspek internal-batiniah adalah terkait dengan wilayah sosial-budaya yang sekaligus identik dengan konsepsi keberagamaan masyarakat.

Hal ihwal yang berkaitan dengan aspek keagamaan sudah sepatutnya dipertanyakan lebih lanjut, misalnya, apakah ajaran agama yang dianut banyak orang – yang umumnya mereka semua adalah konsumen terbesar barang-barang industri modern – mempunyai dasar-dasar etik moral yang cukup meyakinkan untuk dapat mengatur, menjaga, dan mengendalikan gejolak ritme fluktuasi kebutuhan dasar dan standar hidup masyarakat industrialis?

Sejauh ini, ajaran agama dan pesan-pesan keagamaan terlalu condong pada pesan sulisa, dan kurang pada pesan-pesan eksternal-lahiriah, lalu bagaimana cara mentransformasi dan mereinterpretasi pemikiran keagamaan, di mana masyarakat beragama saat ini sudah banyak tercemar oleh polusi industri. Sebab, pengalaman ini sangat jauh berbeda dari tantangan kehidupan beragama orang-orang dahulu, dan kita masyarakat beragama yang hidup di abad ke-21 ini, mengalami era industri yang begitu pesat, teknologi yang begitu canggih, dan karenanya kita banyak tercemar oleh berbagai polusi, baik di darat, laut maupun udara.

Pada titik inilah, analisis dampak lingkungan sangat membutuhkan dan berkepentingan dengan hasil-hasil kajian sosial-budaya dan hasil-hasil penelitian keagamaan tentang sikap hidup masyarakat beragama dalam era perubahan sosial yang bergitu cepat, yang diakibatkan oleh industrialisasi.

Saya sendiri tidak bisa memastikan apakah ajaran agama tertentu mampu untuk menyelesaikan problem dalam perubahan sosial yang ada, khususnya pada aspek kesadaran akan dampak lingkungan dan proyeksi agama untuk mengatasinya. Sebab, masih harus dicermati lebih lanjut pada aspek ajaran-ajaran agama yang mana sekiranya bisa diminta peran sertanya untuk membantu mengatasi dampak lingkungan.

Kekhawatiran akan segera muncul, mana kala ada  dugaan bahwa jangan-jangan aspek keagamaan yang dianggap fundamental untuk dapat membantu mencegah dan menangkal luasnya dampak lingkungan, justru dalam praktiknya, malah tidak begitu diperhatikan oleh masyarakat yang beragama itu sendiri.

Oleh karenanya, sebuah analisis sosial-budaya dan keagamaan sangat perlu disatu-padukan dalam satu kerangka utuh dan integral untuk menganalisis masalah AMDAL ini. Dengan harapan, keduanya dapat saling mengisi, menopang, dan saling melengkapi.

Jika hal ini tidak dilakukan, maka akan ada kecurigaan baru, misalnya, persoalan menganai AMDAL ini jangan-jangan – lantaran hanya terfokus pada analisis aspek geofisika-kimiawi – justru malah kurang menyentuh persoalan yang sebenarnya hendak dipecahkan oleh masyarakat, karena kurang atau tidak menyentuh “kesadaran” masyarakat sebagai subjek utama dalam mengubah pola hidup dan lingkungan sekitar.

Hemat saya, analisis mengenai dampak lingkungan pada wilayah sosial-budaya dan aspek keagamaan sangat perlu mendapat tempat dan skala prioritas untuk mendampingi dan menyempurnakan analisis-analisis lain terkait dampak lingkungan yang sudah ada. Sehingga aspek AMDAL dalam sosial-budaya dan agama tidak terkesan hanya sebatas analisis yang sifatnya sampingan semata.

Memang, dampak lingkungan terkait dengan rumus baku geofisika dan kimiawi sangat membantu manusia untuk membangkitkan rasa keingintahuan manusia tentang apa sesungguhnya yang terjadi di bumi ini. Tetapi rasa keingintahuan yang umumnya hanya berhenti pada aspek kognisi saja dan tanpa memiliki implikasi yang nyata pada tataran praktis, agaknya perlu ditinjau ulang manfaatnya.

Menurut Amin Abdullah (2009), pengetahuan kognitif di atas belum dapat menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu secara lebih, baik untuk dirinya sendiri atau untuk lingkungannya. Sedangkan dimensi praktis dari pengetahuan manusia mengenai aspek negatif dari industri sangat erat kaitannya dengan persoalan konflik kekuasaan, kepentingan, dan nilai hidup.

Karenanya, kajian yang mendalam tentang ketiga-tiganya adalah masuk pada wilayah kajian sosial-budaya yang selama ini agak diabaikan. Sejauh pengamatan saya sendiri, kajian tentang AMDAL masih jarang menyentuh langsung pada aspek sosial-budaya. Padahal, pada wilayah inilah seharusnya permasalahan AMDAL perlu diperhatikan secara lebih.

Selama ini, AMDAL masih lebih banyak terfokus pada aspek fisik-material dari lingkungan hidup, seperti air, hutan, permukiman penduduk, ladang, pencemaran lingkungan, limbah pabrik dan lain sebagainya. Dengan kata lain, analisis mengenai dampak lingkungan masih sangat sedikit menyentuh pada apa yang selama ini disebut sebagai sikap hidup, mentalitas, gaya hidup, cara berpikir, perilaku, yang semuanya terekspresikan dalam adat kebiasaan masyarakat.

Boleh dikata, persoalan sosial-budaya yang berkaitan erat dengan teknologi industri sebenarnya adalah tentang pergeseran pola hidup, konsumsi, dan standar hidup masyarakat secara luas. Sebagai contoh, corak hidup berdasarkan materialisme dan konsumerisme bisa disebut sebagai suatu pola hidup yang merupakan dampak langsung dari industrialisasi dan globalisasi pasar ekonomi. Pada titik ini, kajian yang mendalam sebenarnya terletak pada sosial-budaya.

Alih-alih melakukan kajian yang mendalam, analisis yang bernas tentang pergeseran sudut pandang, sikap hidup, mentalitas, dan pola hidup, justru terkesan tidak dikaji secara seksama lantaran ilmu-ilmu sosial dan budaya masih terkurung oleh hukum pasar dan hukum ekonomi itu sendiri, yang mentalis industrinya ditandai dengan eksploitasi, keserakahan, kepentingan pribadi, kemewahan, monopoli, kekerasan, ketidakadilan, alienasi dan sebagainya.

Sehingga budaya materialis dan konsumeris yang tidak sehat itu menguasai dan mengubah tatanan sosial, hubungan antarkeluarga, antarpribadi, dan begitu seterusnya, lebih-lebih lagi pada pola hubungan langsung antara manusia dengan alam sekitar.

Karenanya, nilai-nilai etika agama yang sangat fundamental bagi tatanan kehidupan masyarakat, harus dapat menjembatani berbagai problem kehidupan ini, khususnya terkait dengan pembentukan sikap hidup dan cara berpikir umat beragama. Bukan malah menutupi dan menselimuti agama dengan berbagai lapis “bahasa” kepentingan, kelembagaan, keulamaan, formulasi doktrin yang terlalu teoritis dan lain sebagainya.

Dengan demikian, perlu adanya perubahan paradigma dalam arti transformasi dan reinterpretasi pola pikir keagamaan masyarakat, yang kiranya dapat membentuk kesadaran baru yang lebih kompatibel dan mensejarah. Sehingga ajaran agama menjadi integratif dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan dunia praktis-ekologis.

Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.