Senin, Maret 8, 2021

Agama dalam Bayang-Bayang Teror #1

Penerapan Sifat Jujur dalam Berbisnis

penerapan sifat jujur dalam bisnis Di dalam berbisnis hendaklah dilakukan dengan cara-cara yang halal dan jujur. Di islam sudah diajarkan bagaimana cara berbisnis yang baik...

Kebahagiaan dan Kemanfaatan Dalam Lingkar Perekonomian Islam

Tujuan Hidup Manusia            Umat manusia hidup di dunia ini lahir senantiasa memiliki tujuan. Banyak tujuan manusia yang diharapkan dapat...

Kejamnya Terorisme dan Ambiguitas Sikap Umat Islam

Sekarang ini terorisme bukan lagi hantu, tetapi telah menampakkan dirinya secara telanjang bulat mengancam keindonesiaan kita. Ancaman terorisme dengan ideologi maut dan jaringan internasional...

Mentradisikan Doa Bersama Lintas Kultur dan Agama

Perdebatan mengenai relasi negara dan agama, baik teori maupun praktik, memang tiada pernah habisnya. Diskursus ini terekam dalam sejarah lahirnya konsitusi. Konstitusi hadir untuk...
Henrikus Setya Adi Pratama
Pendiri Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria. Penikmat musik Rap dan tukang gosip skena

Sepanjang tahun kita telah melihat dan mengalami berbagai kejadian teror. Sejak tahun 2010, telah terjadi konflik berlatarbelakang agama, baik antar maupun inter. Mulai dari pelarangan dan sengketan pendirian tempat ibadah, penyerangan komunitas Ahmadiyah penusukan seorang pendeta di Bekasi dan pemukulan Ulama. Belum cukup sampai disitu, Agama juga direpresentasikan dalam beberapa aksi terror melalui tindakan pengeboman yang mengakibatkan banyak korban.

Berbagai reaksi kecaman muncul dari masyarakat. Alih-alih menutupi tindakan kekerasan dan teror yang terjadi. Beberapa pihak menyebutkan tindakan itu muncul karena terdapat oknum yang memanfaatkan agama untuk kepentingan politik maupun golongan tertentu. Mereka berdalih bahwa agama tidak pernah menganjurkan kekerasan dan pembunuhan. Sebaliknya, agama mengajarkan manusia untuk hidup rukun, damai, saling menghormati dan menganjurkan kebaikan.

Namun, sejarah telah membuktikan bahwa agama selalu dekat dengan konflik dan kekerasan. Perang salib yang melibatkan dua benua telah berlangsung sejak 1090an, Perseteruan antara Katolik dan Protestan di Eropa pada abad ke 17, Konflik Hindu dan Islam antara Pakistan dan India, Konflik Budha dan Islam di Myanmar, serta banyak konflik lainnya yang memang berlatarbelakang agama. Hal ini dapat menjadi keretanan agama untuk selalu masuk dalam pusaran konflik dan kekerasan.

Perlu diakui bahwa agama terbentuk melalui proses sejarah yang panjang. Agama saling bertemu dan bercampur dengan adat dan budaya yang ada di masyarakat. Kemudian, agama muncul sebagai realitas sosial yang telah diberi bentuk melalui aktifitas dan kesadaran manusia. Sehingga, agama sebagai realitas sosial tidak bisa dipisahkan dari manusia. Agama memiliki makna yang luas mulai dari gagasan, pengalaman hingga praktik yang menjelma menjadi tindakan sosial.

Beberapa fenomena yang terjadi menunjukan pula bahwa tindakan kekerasan dan teror telah dimasuki semacam mekanisme ideologi didalamnya. Menurut Haryatmoko, Dalam hal ini ajaran agama kemudian dijadikan sebagai landasan dari ideologi tersebut. Hal ini dikarenakan semua upaya untuk memahami secara sistematis tindakan sosial tidak bisa dilepaskan dari fenomena ideologi.

Tafsir Kekerasan

Agama dalam kerangka ideologi menwujud dalam bentuk tindakan. Menurut Haryatmoko, Suatu kelompok sosial masyarakat cenderung ingin menunjukkan identitasnya atau merepresentasikan dirinya. Alasan kecenderungan ini karena pada dasarnya tindakan yang bermakna akan selalu memperhitungkan reaksi orang lain atau kelompok lain, entah apakah reaksi itu melawan, menyumbangkan sesuatu atau mendukungnya.

Agama menjadi menjadi rentan dimanfaatkan dan dieksploitasi untuk kepentingan kelompok maupun kekuasaan. Kejadian terror bom bisa berarti upaya kelompok tertentu untuk menanamkan dominasinya di dalam masyarakat. Hal itu juga tidak lepas dari dari hal-hal yang bernuansa politis yang cenderung disertai dengan tindak kejahatan. Hal tersebut juga dapat disebabkan kondisi struktur sosial politik oleh pemegang kekuasaan yang juga melakukan kekerasan secara sewenang-wenang atas dasar monopoli legitimasi.

Teror muncul dalam kondisi struktur sosial politik yang telah berulang kali mepertontonkan praktik kekerasan. Hal ini nampak dalam perilaku politik yang menggunakan agama sebagai alat kepentingan politik. Para pemegang legitimasi atas agama terus memproduksi cara pandang oposisi biner dan vis a vis yang memunculkan tindakan menafikan atau menyalahkan keyakinan dan keimanan yang lain.

Agama sendiri dipahami oleh Bourdieu sebagai sebuah gagasan yang memberi kekuatan yang memobilisasi. Sehingga dalam hal ini, sangat memliki potensi untuk melakukan tindakan kekerasan sebagai sebuah alat dominasi politik keagamaan.

Dalam kekuatannya memobilisasi agama menjelma menjadi hasrat Mimesis atau sebuah proses peniruan melalui praktik menafikan maupun tindakan kekerasan, Hasrat mimesis inilah yang kemudian banyak muncul dalam beberapa tindakan masyarakat. Tanpa sadar, tindakan-tindakan tersebut menjadi pemicu aksi terror yang terjadi.

Henrikus Setya Adi Pratama
Pendiri Sekolah Komunitas Bhinneka Ceria. Penikmat musik Rap dan tukang gosip skena
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.