Sabtu, Desember 5, 2020

Adakah Ruang untuk Agama dalam Komedi?

Selamatkan Generasi Muda atau Tonton Negeri Ini Karam

Menurut catatan komnas perempuan pada tahun 2016, Indonesia memiliki 2399 kasus pemerkosaan dan terus meningkat sepanjang tahunnya. 66% diantaranya terjadi sebelum usia 18 tahun....

Hindari Sikap Saling Mengafirkan

Dalam kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mencuat ungkapan “kafir” yang ditujukan kepadanya. Dan berbagai tanggapan muncul. Ada dua...

Menyoal Debat Raja Juli Antoni dan Fadli Zon

Perdebatan sengit antara Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni dengan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon yang juga Wakil Ketua Umum...

Dilema yang dihadapi ASN di Masa Pandemi

Harus diakui, pandemi Covid-19 mau tak mau membuat roda perekonomian berhenti sejenak dan berdampak serius di sektor ketenagakerjaan Indonesia. Tercatat 1,79 juta buruh di...
Jacko Ryan
Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Airlangga. Alumni program Johannes Leimena School of Public Leadership (2018) dan Kader Bangsa Fellowship Program (2019). Dapat dihubungi di jacko.ryan-2017@fisip.unair.ac.id.

Nila setitik rusak susu sebelanga. Mungkin itu menjadi peribahasa yang paling tepat menggambarkan apa yang dialami seorang pelawak kondang, Andre Taulany, saat ini. Bagaimana tidak, tujuh kata yang ia ungkapkan dalam acara talkshow komedi bertajuk “Ini Talkshow” justru dapat menyeretnya pada meja hijau.

Andre dianggap telah menistakan agama Islam akibat celotehannya yang menyebut badan Nabi Muhammad mirip kebun bunga. “aroma seribu bunga? Itu badan apa kebon?”, ungkapnya.

Walau hal tersebut dilontarkan Andre pada dua tahun silam – yakni tahun 2017 -, namun itu tidak menyurutkan seorang yang bernama Sulistyowati untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Itu terwujud pada 4 Mei 2019 di mana ia menggunakan Pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama untuk melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Telusur punya telusur, Sulistyowati ternyata berprofesi sebagai pengacara. Ia juga tergabung dalam Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Tak banyak yang bisa dilakukan seorang Andre Taulany. Tampaknya tidak ada pembelaan yang berarti yang ia sampaikan ke publik atas kasus yang menimpanya selain permintaan maaf. Itu terwujud ketika ia mengunjungi berbagai tokoh agama, pimpinan Persaudaraan Alumni (PA 212), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pil pahit yang ia telan tidak cukup sampai disitu.

Andre juga diberhentikan sementara dalam acara televisi yang ia pandu bersama rekan komediannya, yakni Sule dalam stasiun televisi Net TV. Selama berminggu-minggu ia telah vakum pada lacar kaca.

Hal yang menarik bahwa banyak orang yang menilai kejanggalan kasus ini. Faktor politik diduga menjadi salah satu alasan yang melatarbelakangi pelaporan yang telah dilakukan. Masih ada beberapa hal yang menyisakan tanya, seperti mengapa pelapor baru melaporkan kasus ini setelah dua tahun berlalu?

Juga dengan latar belakang pelapor dan terlapor. Apakah ada kaitannya dengan kondisi politik saat ini, di mana dikotomi antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto acapkali berbatas tegas?

Kedudukan Komedi dan Komedian

Tidak ada ruang bagi komedi dalam agama. Mungkin itu yang menjadi kredo sebagian orang ketika menilai kedudukan serta relasi antara agama dan komedi. Agama dipandang sebagai suatu hal yang ilahi, superior, berada di ‘atas’, dan menindas keberadaan komedi yang insani, inferior, serta berada di ‘bawah’.

Sang filsuf, Aristoteles, menjadi salah satu contohnya. Ia menyebutkan bahwa komedi memang dilakukan serta diperuntukkan untuk kaum inferior. Dalam karyanya yang bertajuk Poetics, ia menyebutkan bahwa komedi bertindak sebagai mimesis. Komedi, dipandang Aristoteles, sebagai tiruan serta representasi dari masyarakat kelas rendah seperti budak dan petani.

Namun itu tidak menjadikan komedi sebagai suatu hal yang eksklusif (hanya untuk kaum marjinal). Komedi justru digunakan oleh kelompok masyarakat ‘bawah’ sebagai sarana kritik. Dalam komedi dimungkinkan inferior mengkritik superior atau yang berada di ‘bawah’ mengkritik yang berada di ‘atas’. Itulah sebabnya Aristoteles beragumen bahwa ada kekuatan besar yang dimiliki komedi yakni kekuatannya untuk membebaskan mereka.

Kedudukan komedi inilah yang menjadikan komedian bertindak sebagai aktor penting. Bagus Laksana, SJ menyebut komedian sebagai ritual purifier. Masyarakat digambarkan tertahan akibat memiliki segudang kritik, namun tidak punya wadah untuk menyampaikannya. Realita mandek itulah yang kemudian dapat mempertebal kemungkinan terjadinya perpecahan dalam masyarakat.

Ditengah situasi itu, komedian hadir sebagai ritual purifier. Ia menjadi katup atau celah untuk keluarnya letupan-letupan dari tegangan-tegangan masyarakat sehingga akhirnya tidak terjadi perpecahan yang berarti.

Relasinya dengan Agama

Perspektif utama yang harus digunakan dalam memandang komedi dan komedian yakni sifatnya yang terbuka. Douglas menyebutnya sebagai sebuah kebebasan dari bentuk yang mengikat (freedom from form). Karenanya komedi dan komedian harus dapat melintasi batas etnis, kultur, sejarah, dan agama, serta berdampingan dengan pengalaman sosial.

Unsur agama dalam komedi menjadi kajian tersendiri bagi Bakhtin. Ia merincikan kembali apa yang disebutkan Aristoteles pada tulisan yang sudah dijabarkan di atas. Jika Aristoteles mengaitkan komedi dari segi kelas (inferior-superior), Bakhtin justru mengaitkannya dengan agama. Baginya, kritik yang disampaikan oleh komedian dalam komedi juga berlaku bagi agama. Komedi dipandangnya sebagai suatu kekuatan yang memberdayakan (salvific) karena ketegasannya terhadap kekuasaan dan institusi agama.

Maka menjawab pertanyaan yang diusung dalam judul tulisan ini, sebenarnya tidak ada apapun yang dapat menghalangi komedi dan komedian, termasuk agama sekalipun. Tentunya dengan memperhatikan dua syarat bahwa komedi tersebut dilontarkan dengan tujuan sebagai saluran kritik dari masyarakat, dan juga sebagai sarana pembebas dan pemberdaya.

Melihat penjabaran itu semua semakin kita diyakinkan bahwa menjadi komedian itu bukan hal mudah. Ada tanggung jawab yang terbeban baginya untuk dapat ‘mencabik-cabik’ norma sosial, pelbagai stereotipe rasial dan seksual, pandangan politik, bahkan agama sekalipun. Ia harus dapat dengan mudah dan ringan menyentil ketidakberesan yang satu dengan ketidakberesan yang lain. Ia juga harus dapat menjembatani antara yang di ‘atas’ dengan yang di ‘bawah’.

Tugas itulah yang menjadikan komedi dipandang sebagai lahan yang berbahaya. Disebutkan oleh Sindhunata, SJ bahwa, “tawa memang berbahaya bagi otoritas”. Saya kemudian memperluasnya bukan hanya sekedar berbahaya bagi otoritas, namun juga bagi siapapun dan apapun yang bangga akan superioritasnya, yang anti-kritik, serta mengekang kebebasan dan keberdayaan.

Selanjutnya menjadi tugas kita bersama untuk merefleksikan diri tentang kehadiran komedi dan komedian di Indonesia. Apakah ia sampai pada tahap yang sudah dijabarkan di atas, atau hanya sekedar menawarkan tawa yang semu dan hampa? Ingatlah bahwa tawa memang tidak sesederhana yang dipikirkan!

Bacaan lebih lanjut:

  1. Aristoteles, Poetics
  2. Bakhtin, Mikhail. 1984. Rebelais and His World. Indiana: Indiana University Press.
  3. Laksana, Bagus. 2014. Humor sebagai Ruang Budaya: Resistensi, Hibriditas, dan Ambiguitas dalam ECF 5 Desember 2014 Jurnal Universitas Parahyangan. Bandung: Universitas Parahyangan.
  4. Douglas, Mary. 1975. “Jokes,” dalam Implicit Meanings: Essays in Anthropology. Abingdon: Routledge and Kegan Paul.
  5. Sindhunata SJ. “Agama Seharusnya Tertawa”. dalam Majalah BASIS, 03-04 2018.

Jacko Ryan
Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Airlangga. Alumni program Johannes Leimena School of Public Leadership (2018) dan Kader Bangsa Fellowship Program (2019). Dapat dihubungi di jacko.ryan-2017@fisip.unair.ac.id.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.