Selasa, Maret 2, 2021

Ada Hantu Komunisme di Indonesia

Retorika Pemerintah Soal Virus Korona

Pada hari Sabtu yang lalu, 1/3/20, saya bersama dengan dua orang teman, ngobrol santai di sebuah rumah makan di pinggiran Jakarta. Obrolan itu sampai...

Beberapa Alasan Kenapa Kita Harus Berhenti Belajar Filsafat

“Lama ga ketemu, nih. Udah kuliah ya? Kuliah di mana sekarang?” “Sekarang saya kuliah di UI, Om.” “Wah, hebat ya! Ambil jurusan apa di UI?” “Saya jurusan...

Zonasi Guru Besar, Mungkinkah ?

Di era global-digital hari ini, pendidikan tetap merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan juga sebagai salah satu faktor utama yang akan...

Menelisik Tingkat Religiusitas Seseorang

Ketika kita mendengar perselisihan antar umat beragama terutama di negara kita Republik Indonesia tercinta ini perasaan miris muncul di benak kita. Walaupun perseteruan antar...
Andika Kasatria
Seorang yang tengah menempuh jalan sunyi.

Ketika Youtube dipenuhi konten misteri. Mengangkat konsep “perhantuan” lantaran tema inilah yang ramai ditonton masyarakat kita. Tentu saja para youtuber mengangkat tema “perhantuan” tujuan utamanya adalah mendongkrak viewers dan menjaring subscriber. Mengherankan. Jutaan orang menyukai hantu-hantu di dunia maya.

Sementara, menilik pada realitas, “perhantuan” juga digemari. Sayangnya orang yang “mencintai” ini mempunyai power yang lumayan. Mereka berada dalam rangkulan ketiak kecut kepentingan. Hantu yang mereka gembar-gemborkan adalah hantu komunisme.

Saya tercengang ketika tengah berkendara menuju kediaman kawan, baliho besar (atas nama sebuah Ormas), bertuliskan “Komunisme Musuh Bersama” dan bergambar simbol larangan palu arit (seperti tanda dilarang parkir). Baliho itu melekat pada dinding underpass di Kota Satria, yang masyarakatnya lugu, barangkali acuh. Mengejutkan sekali. Komunisme kembali dibangkit-bangkitkan. Entah lantaran pesanan belaka, ataukah paranoia?

Di Indonesia komunisme digambarkan sebagai hantu yang menyeramkan dan mengancam. Walaupun “demam” komunisme di seluruh dunia sudah reda, dan negara-negara yang menganut “agama” demokratis sudah tidak menganggap komunisme sebagai suatu ancaman. Namun, di Indonesia justru sebaliknya. Komunisme masih dianggap genderuwo, pocong, atau kuntilanak yang suatu saat akan menampakkan dirinya.

Ironisnya, mereka yang percaya akan kebangkitan hantu ini, mereka gencarkan secara gamblang, bahwa hantu ini merupakan musuh bersama; musuh ciptaannya sendiri. Mereka memanfaatkan orang-orang korban doktrinasi dan mengalami trauma masa lalu, yakni akibat tragedi Gerakan 30 September. Pasalnya, dari hasil pengamatan selama ini, yang ditakuti oleh mereka yakni kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka tidak bisa membedakan, mana sebuah partai dan mana sebuah gagasan atau ideologi. Mereka hanya takut pada simbol dan partai. Ketakutan buta.

Seringkali, di saat iklim perpolitikan di negeri ini mulai memanas, mulailah para politisi dan beberapa tokoh “menggoreng” isu kebangkitan komunisme. Yang lebih menohok adalah, isu komunisme kadang dihembus begitu liar, isu bahwa komunisme akan bangkit untuk melawan agama dan Pancasila, atau adanya kelompok etnis Tionghoa yang bekerja sama dengan Partai Komunis China untuk membangkitkan PKI, dan lain sebagainya. Walaupun isu ini sangat tidak masuk akal, bahkan bisa dibilang sableng, ratusan bahkan ribuan orang awam di luar sana banyak yang mempercayainya.

Perlu diketahui, lebih dari 150 tahun yang lalu, Karl Marx sang pencetus ideologi komunisme melahirkan karya agungnya Manifesto Komunis, pada pembukaannya ia menulis, “Ada hantu berkeliaran di Eropa – hantu komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah berhimpun ke dalam satu persekutuan suci untuk mengusir hantu ini … Di manakah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di manakah ada partai oposisi yang tidak melontarkan kembali cap tuduhan komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih maju maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?”

Dengan pembukaan ini, Marx dengan jitu telah memprediksi hingar bingar isu komunisme. Sementara di Indonesia, mereka yang kritis, mereka yang berpihak pada petani, buruh, kaum miskin kota, dan rakyat tertindas, secara otomatis dituduh komunis. Ketakutan terhadap komunisme begitu terpatri pada tiap kaum penguasa, sehingga sampai hari ini tuduhan komunis terus digunakan sebagai momok tidak hanya untuk memberangus gerakan, tetapi juga menghantam lawan-lawan politik di antara diri mereka sendiri.

Isu komunisme ini bukan hanya di Indonesia saja. Di Amerika, protokol kesehatan Covid-19 ditentang banyak politisi Konservatif sebagai konspirasi komunis oleh Demokrat untuk berkuasa. Kemudian, Pemerintahan Liberal Trudeau di Kanada juga kerap dituduh komunis oleh lawannya Partai Konservatif. Belum lama ini ada seorang serdadu yang mendobrak gerbang kompleks rumah Perdana Menteri Trudeau dengan mobil, sembari menenteng senapan otomatis, jelas dengan tujuan membunuhnya. Alasan yang dikemukakan adalah dia khawatir negeri ini akan menjadi kediktatoran komunis di bawah kepemimpinan Liberal.

Menurut sejarawan, Romo Magnis Suseno, komunisme sudah berpulang pada tahun 1989, dan tidak ada orang yang tertarik pada ide-ide kuno dari seratus tahun yang lalu. Kita diherankan oleh Romo Magnis dalam menulis banyak buku untuk membantah gagasan Marx. Untuk gagasan yang sudah gagal, mengapa harus terus dipercayai akan bangkit kembali? Kecuali memang kalau gagasan tersebut masih hidup.

Jika faktanya komunisme bangkit, saya menunggu siapa dan bagaimana wujud gerakan komunisme itu. Padahal, jika seseorang dituduh sebagai komunis, bagaimana cara membuktikannya, lantaran komunisme adalah sebuah gagasan. Sedangkan gagasan berada dalam pikiran. Melalui jalan manakah untuk memvalidasi bahwa seorang tersebut komunis?

Menyedihkan sekali ketika mereka yang kritis, mereka yang memperjuangkan rakyat tertindas dituduh sebagai komunis. Selama mereka tidak mengakitbatkan bencana kemanusiaan, tidak ada salahnya, toh, yang mereka lakukan mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang tertuang sila kelima dalam Pancasila.

Seandainya, kebangkitan komunisme benar adanya, terbukti mengancam martabat dan keutuhan bangsa, maka perlu diusut tuntas, kalaupun memang dianggap sebuah larangan. Namun, apabila hanya hantu belaka, sekedar isu yang diciptakan semestinya tidak diteruskan. Sebab, akan terjadi polarisasi yang mengakibitkan clash pada lapisan masyarakat. Tentunya kita tidak menginginkan konflik horizontal terjadi, bukan?

Seyogyanya, kita fokus pada pandemi Covid-19 yang terus menggerogoti sendi perekonomian. Korban-korban di sejumlah daerah masih terus berjatuhan. Negara perlu kedewasaan dan keseriusan untuk menangani. Sementara, masyarakat diuji kearifannya mencerna informasi yang datang. Kondisi seperti sekarang ini, tidaklah pantas menebar ketakutan, tetapi kita seharusnya saling menguatkan dan menyelamatkan.

Andika Kasatria
Seorang yang tengah menempuh jalan sunyi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.