Senin, April 12, 2021

Ada Buaya Bermain Bola di TVRI

Cacat Makna Gaji Ke 13 dan 14 Aparatur Sipil Negara

Gaji adalah kompensasi dasar berupa honorarium sesuai dengan beban kerja, tanggung jawab jabatan dan resiko pekerjaan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Selain diatur dalam Undang-Undang...

Keteledoran dan Duka Asian Para Games

Di penghujung tahun 2018 ini, Indonesia menjadi tuan rumah dua ajang olahraga terbesar di Asia, yaitu Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018....

MONOPOLI DAN ETIKA PASAR BEBAS

Pengertian pasar Monopoli Pasar monopoli merupakan suatu bentuk pasar dimana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar, memiliki produk barang atau jasa yang dibutuhkan oleh...

Meninjau Kembali Mobile Application untuk Anak

Saat ini, terdapat banyak aplikasi digital yang telah dikembangkan khusus untuk anak. Selain ‘aman’ dan menyenangkan, aplikasi tersebut baik untuk perkembangan kognitif anak. Namun,...
Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka

Penayangan Liga Primer Inggris diduga jadi penyebab dilengserkannya Helmy Yahya sebagai Direktur Utama TVRI oleh Dewan Pengawas TVRI. Salah satu alasan diberontaknya tayangan bola itu gara-gara tidak adanya keselarasan antara substansi acara dengan jatidiri bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pengawas (Dewas) TVRI, Arief Hidayat Thamrin, ketika menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi I di kompleks MPR/DPR di Senayan Jakarta.

Meskipun mantan dirut menyatakan bahwa hal itu tidak ada hubungannya–apalagi jika dikait-kaitkan dengan riuhnya Jiwasraya–namun sebagian publik sudah terlanjur mengamini alasan pelengseran tersebut. Entah dengan alasan apa, publik pun kemudian berpihak pada Dewas TVRI yang mengupayakan dibukanya alasan penanyangan Liga Primer Inggris tersebut.

Publik juga berusaha berpihak pada Dewas TVRI yang berupaya menyelamatkan anggaran trilyunan untuk ‘sekadar’ tayangan rebutan bola tadi. Nilai kebangsaan seharusnya diutamakan oleh roh televisi negeri itu dalam menghadirkan acara yang bisa menambah kekuatan nilai dan rasa cinta tanah air.

Mungkin saja asumsinya begini: yang ditayangkan sepak bola luar negeri, bagaimana caranya supaya sepak bola negeri ini ikut maju? Bagi dewan pengawas, seolah hal itu tidak ada hubungannya. Dan dengan ditayangkannya olah raga negeri lain, maka nilai dan rasa cinta tanah air tadi tidak akan bertambah. Malah kita juga harus membayar hak siar, yang seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan lain yang lebih krusial.

Tupoksi TVRI sebagai media publik, juga menjadi alasan. Konsep tayangan yang seharusnya dihadirkan adalah materi acara yang punya nilai edukasi, jati diri, dan sebagai media pemersatu bangsa.

Tidak ada yang salah dalam rangkaian gagasan Dewas TVRI ini. Namun, jika kita punya rasa prihatin terhadap kemajuan prestasi tim sepak bola kita, maka hal ini pun patut dipertimbangkan.

Memang, tayangan Liga Primer Inggris bukanlah satu-satunya cara dalam menyentuhkan nilai edukasi persebakbolaan modern. Namun paling tidak, seni mengolah bola dan mencetak gol, bisa dipelajari dari tanah Inggris sebagai kiblat sepak bola saat ini. Andai saja pemilik hak siar membolehkan TVRI membeli sebagian kecil saja dari seluruh tayangan yang ada, mungkin tidak akan ada polemik semacam ini.

Ada juga tayangan Discovery Channel yang menurut Dewas TVRI – seraya membandingkan dengan kekayaan binatang buas semacam buaya – ada juga di Indonesia. Tidak harus menampilkan buaya Afrika sebab di Indonesia juga banyak buaya. Pendapat ini pun tidak sepenuhnya keliru. Namun perlu diingat bahwa nilai edukasi para peneliti perilaku buaya di Afrika agaknya bisa ditiru oleh ilmuwan Indonesia.

Jadi, tayangan Liga Primer Inggris dan Discovery Channel, yang sedang dijadikan alasan untuk konflik internal TVRI tidak sepenuhnya keliru. Akan tetapi, mungkin saja ada yang terlewat dari proses komitmen tersebut, yaitu tidak disepakatinya jumlah film, durasi, atau rating kesebelasan yang tidak semuanya harus ditayangkan langsung oleh TVRI. Cukup yang ada di urutan enam besar klasemen terataslah yang dibeli, jika boleh.

Atau untuk tayangan Discovery Channel, khusus tentang binatang yang sudah jarang ditemui di Indonesia, bahkan memang tidak ada, yang dibeli oleh TVRI. Agaknya hal inilah yang sebetulnya jadi ganjalan Dewas TVRI, agar ke depannya tetap bisa jadi media publik yang memintarkan masyarakat pemirsanya.

Dan TVRI juga sepertinya perlu mempertimbangkan pernyataan Helmy Yahya yang berujar bahwa tayangan sepak bola di negeri sendiri, ternyata lima kali lebih lebih mahal daripada yang diimpor dari Inggris. Hah? Benarkah demikian?

 

Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.