Minggu, Maret 7, 2021

Abu Bakar Aceh: Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur’an di Indonesia

Manuver Pesantren dan Sistem Pendidikan Laten

Sejenak singgah dari hiruk pikuk pilpres 2019. Kita masih punya secarik mimpi untuk mewujudkan Indonesia yang berintegritas. Di luar sana masih banyak benih kemakmuran...

Fenomena “Share Link” dan Masifnya Revenge Porn

“Share link dong!” menjadi kalimat yang tidak asing didengar saat ini. Beredarnya video-video mesum di media sosial yang tidak seharusnya disebarluaskan. Seolah nampak diwajarkan,...

Segudang Kemelut BPJS Kesehatan

Berdasar pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 perihal Jaminan Kesehatan. Berbagai elemen masyarakat...

Mahasiswa, Antara Membaca dan Karaoke

Solo Membaca, tajuk acara yang keterlaluan tidak tahu menakar diri itu sudah sejak lama kisruh. Bahkan di internal Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan UNS...
Sirajuddin Bariqi
Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sebelum menjadi disiplin ilmu tersendiri, pembahasan sejarah Al-Qur’an masuk ke dalam sub-kajian ‘ulum al-qur’an. Judul yang biasanya digunakan adalah rasm al-qur’an, tashif al-qur’an, kitabah al-qur’an, dan berbagai istilah lainnya.

Sejarah Al-Qur’an baru menjadi disiplin ilmu sendiri setelah kehadiran karya orientalis berkebangsaan Jerman, Theodor Noldeke, pada tahun 1860. Di bawah judul Geschichte des Qorans (The History of the Qur’an), Noldeke mengkaji sejarah Al-Qur’an menggunakan metode historis dan linguistik-filologis.

Di antara hasil yang didapat dari penggunaan metode tersebut adalah Noldeke membagi kronologi turunnya Al-Qur’an menjadi empat (empat) periode. Yakni 48 surat di periode Makkah Awal, 21 surat di periode Makkah Tengah, 21 surat di periode Makkah Akhir, dan 24 surat di periode Madinah.

Setelah Noldeke, barulah sarjana Muslim terpantik untuk melakukan kajian serupa. Ada yang mengikuti jejak metode yang digunakan Noldeke, ada yang merespon baik secara akademik maupun apologetik, ada juga yang sekadar menulis karya dengan tema sejarah Al-Qur’an.

Pelopor Kajian di Indonesia

Sarjana Muslim pertama yang menulis kitab dengan tema sejarah Al-Qur’an adalah Abu Abdullah az-Zanjani dengan judul Tarikh Al-Qur’an. Karya az-Zanjani diterbitkan pada tahun 1935, sekitar 75 tahun setelah karya Noldeke pertama kali diterbitkan.

Setelah az-Zanjani, sarjana lain seperti Ibrahim al-Ibyari (Tarikh Al-Qur’an, 1965), Abd al-Sabur Shahin (Tarikh Al-Qur’an, 1966), dan Muhammad Abdullah Daraz (Madkhal ila Al-Qur’an Al-Karim: ard Tarikhi wa-Tahlil Muqarin, 1971) turut meramaikan kajian.

Di Indonesia, pelopor kajian sejarah Al-Qur’an adalah Abu Bakar Aceh. Ulama Aceh kelahiran 28 April 1909 ini menulis buku dengan judul Sedjarah Al-Qur’an pada tahun 1948. Sebenarnya, pada tahun 1941, Adnan Lubis telah menghasilkan karya berjudul Tarikh Al-Qur’an. Sayangnya, karya tersebut persebarannya terbatas di Medan, dan saat ini dokumennya tidak dapat dilacak.

Seperti halnya Adnan Lubis, Abu Bakar Aceh merasakan kegelisahan ketika mengetahui minimnya literatur yang membahas sejarah Al-Qur’an. Karyanya ditulis sebagai upaya memperkaya khazanah keilmuan dalam disiplin ilmu sejarah Al-Qur’an di Indonesia sekaligus membuka jalan bagi sarjana Muslim Indonesia pada masa mendatang untuk melakukan kajian serupa.

Hal ini dinyatakan Abu Bakar dalam bukunya, “Sdr. Adnan Lubis, seorang bekas Nadwa College (Lucknow), jang melihat djuga kekurangan kita dalam pembatjaan sedjarah Qur’an, sungguh telah berdjasa dalam merintis djalan dan membuka lapangan pekerdjaan baru bagi pengarang-pengarang Indonesia” (Aceh cet. IV 1956: xi).

Secara sepintas, pernyataan Abu Bakar tersebut dan fakta bahwa Adnan Lubis telah menulis karya bertema sejarah Al-Qur’an pada tahun 1941, seharusnya membuatnya menyandang status sebagai pelopor kajian sejarah Al-Qur’an di Indonesia. Akan tetapi, atas pertimbangan lingkup persebaran karya dan ketiadaan akses dokumen milik Adnan Lubis, penulis menganggap Abu Bakar Aceh lebih tepat dikatakan sebagai pelopor kajian sejarah Al-Qur’an di Indonesia, alih-alih Adnan Lubis.

Kondisi tersebut mirip dengan kasus Noldeke. Meskipun ia bukan tokoh pertama yang mengkaji sejarah Al-Qur’an –karena sebelumnya sudah ada nama-nama seperti Gustav Weil, William Muir, dan Aloys Sprenger–, tetapi ia tetap dianggap sebagai pelopor. Ini karena Noldeke-lah tokoh pertama yang secara serius dan komprehensif mengkaji sejarah Al-Qur’an di bawah judul “The History of the Qur’an” (Karimi-Nia 2013: 49).

Abu Bakar tertarik menulis buku dengan tema sejarah Al-Qur’an setelah membaca karya Noldeke. Akan tetapi, berbeda dengan karya Noldeke yang padat data dan kaya analisis, karya Abu Bakar ini seolah ‘hanya’ bertujuan untuk membuka jalan bagi para pengkaji di masa mendatang.

Meski diberi judul Sedjarah Al-Qur’an –dan memang di dalamnya membahas sejarah Al-Qur’an–, Abu Bakar juga membahas hal-hal yang sedikit keluar dari tema pembahasan. Selain membahas konsep wahyu, awal mula turunnya Al-Qur’an, pandangan Al-Qur’an sebagai kalamullah, ragam qira’at, pembagian surat (makky-madany), dan sejarah mushaf, Abu Bakar juga membahas sejarah perkembangan peradaban Islam, aliran-aliran dalam Islam, dan masuknya Islam ke tanah ‘Jawa’.

Tidak heran jika kemudian dalam sambutannya untuk cetakan yang ketiga, M. Natsir menyatakan kalau karya Abu Bakar Aceh ini lebih tepat disebut sebagai Sejarah Islam. “… sdr. H. Aboebakar menguraikan hampir seluruh soal dalam Islam jang berhubungan dan ada sangkut-pautnja dengan kitab Al-Qur’an, sehingga Sedjarah Al-Qur’an karangan sdr. H. Aboebakar tersebut lebih tepat dinamakan Sedjarah Islam seluruhnya daripada sedjarah jang hanja mengenai mushaf”.

Terhadap karya Abu Bakar ini, Taufik Adnan Amal dalam bukunya Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an juga melontarkan komentar mengenai banyaknya rujukan yang tidak mempunyai keterkaitan dengan sejarah Al-Qur’an (Amal 2013: xv).

Terlepas dari komentar tersebut, Sedjarah Al-Qur’an karya Abu Bakar Aceh ini mempunyai keunggulan dalam segi keindahan narasi yang digunakan. Dengan menggunakan bahasa ‘sastrawi’, Abu Bakar mengantarkan pembaca untuk terlibat secara intim di dalam dinamika sejarah Al-Qur’an yang ia tulis.

Sayang sekali, meski telah dipelopori oleh Abu Bakar Aceh, disiplin ilmu sejarah Al-Qur’an saat ini masih sedikit mendapat perhatian. Ini terbukti dari minimnya literatur yang dapat diakses. Terhitung tidak lebih dari sepuluh karya dalam bentuk buku yang lahir dari tangan sarjana Muslim Indonesia. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain.

Sirajuddin Bariqi
Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.