Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Abu Bakar Aceh: Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur’an di Indonesia

Hantu Itu Bernama Seminar Merah Jambu

Pagi itu, saya harus cepat-cepat bergegas menuju kampus untuk mengikuti salah satu mata kuliah pilihan yang saya ambil semester ini. Mata kuliah yang menurut...

Al-Qur’an dan Tantangan Modernitas*

Hingga detik ini, kita tentu merasakan zaman yang kian berkembang dan selalu menawarkan tantangan modernitas yang begitu kompleks. Begitupun buah hasil dari modernitas seperti...

Zonasi: Tidak Rugi Tak Masuk Sekolah Favorit

Dengan berkembangnya dunia pendidikan ada beberapa macam pembaharuan di dunia pendidikan salah satunya sistem pendaftaran berbasis zona di mana sekolahan negeri menerima siswa dari...

Selamatkan Otak, Selamatkan Anak

Mana ada anak kecil yang benar-benar niat ke sekolah untuk belajar. Mana tau dan peduli mereka dengan pelajaran yang disiapkan guru-guru dalam kurikulum atau...
Sirajuddin Bariqi
warga negara biasa

Sebelum menjadi disiplin ilmu tersendiri, pembahasan sejarah Al-Qur’an masuk ke dalam sub-kajian ‘ulum al-qur’an. Judul yang biasanya digunakan adalah rasm al-qur’an, tashif al-qur’an, kitabah al-qur’an, dan berbagai istilah lainnya.

Sejarah Al-Qur’an baru menjadi disiplin ilmu sendiri setelah kehadiran karya orientalis berkebangsaan Jerman, Theodor Noldeke, pada tahun 1860. Di bawah judul Geschichte des Qorans (The History of the Qur’an), Noldeke mengkaji sejarah Al-Qur’an menggunakan metode historis dan linguistik-filologis.

Di antara hasil yang didapat dari penggunaan metode tersebut adalah Noldeke membagi kronologi turunnya Al-Qur’an menjadi empat (empat) periode. Yakni 48 surat di periode Makkah Awal, 21 surat di periode Makkah Tengah, 21 surat di periode Makkah Akhir, dan 24 surat di periode Madinah.

Setelah Noldeke, barulah sarjana Muslim terpantik untuk melakukan kajian serupa. Ada yang mengikuti jejak metode yang digunakan Noldeke, ada yang merespon baik secara akademik maupun apologetik, ada juga yang sekadar menulis karya dengan tema sejarah Al-Qur’an.

Pelopor Kajian di Indonesia

Sarjana Muslim pertama yang menulis kitab dengan tema sejarah Al-Qur’an adalah Abu Abdullah az-Zanjani dengan judul Tarikh Al-Qur’an. Karya az-Zanjani diterbitkan pada tahun 1935, sekitar 75 tahun setelah karya Noldeke pertama kali diterbitkan.

Setelah az-Zanjani, sarjana lain seperti Ibrahim al-Ibyari (Tarikh Al-Qur’an, 1965), Abd al-Sabur Shahin (Tarikh Al-Qur’an, 1966), dan Muhammad Abdullah Daraz (Madkhal ila Al-Qur’an Al-Karim: ard Tarikhi wa-Tahlil Muqarin, 1971) turut meramaikan kajian.

Di Indonesia, pelopor kajian sejarah Al-Qur’an adalah Abu Bakar Aceh. Ulama Aceh kelahiran 28 April 1909 ini menulis buku dengan judul Sedjarah Al-Qur’an pada tahun 1948. Sebenarnya, pada tahun 1941, Adnan Lubis telah menghasilkan karya berjudul Tarikh Al-Qur’an. Sayangnya, karya tersebut persebarannya terbatas di Medan, dan saat ini dokumennya tidak dapat dilacak.

Seperti halnya Adnan Lubis, Abu Bakar Aceh merasakan kegelisahan ketika mengetahui minimnya literatur yang membahas sejarah Al-Qur’an. Karyanya ditulis sebagai upaya memperkaya khazanah keilmuan dalam disiplin ilmu sejarah Al-Qur’an di Indonesia sekaligus membuka jalan bagi sarjana Muslim Indonesia pada masa mendatang untuk melakukan kajian serupa.

Hal ini dinyatakan Abu Bakar dalam bukunya, “Sdr. Adnan Lubis, seorang bekas Nadwa College (Lucknow), jang melihat djuga kekurangan kita dalam pembatjaan sedjarah Qur’an, sungguh telah berdjasa dalam merintis djalan dan membuka lapangan pekerdjaan baru bagi pengarang-pengarang Indonesia” (Aceh cet. IV 1956: xi).

Secara sepintas, pernyataan Abu Bakar tersebut dan fakta bahwa Adnan Lubis telah menulis karya bertema sejarah Al-Qur’an pada tahun 1941, seharusnya membuatnya menyandang status sebagai pelopor kajian sejarah Al-Qur’an di Indonesia. Akan tetapi, atas pertimbangan lingkup persebaran karya dan ketiadaan akses dokumen milik Adnan Lubis, penulis menganggap Abu Bakar Aceh lebih tepat dikatakan sebagai pelopor kajian sejarah Al-Qur’an di Indonesia, alih-alih Adnan Lubis.

Kondisi tersebut mirip dengan kasus Noldeke. Meskipun ia bukan tokoh pertama yang mengkaji sejarah Al-Qur’an –karena sebelumnya sudah ada nama-nama seperti Gustav Weil, William Muir, dan Aloys Sprenger–, tetapi ia tetap dianggap sebagai pelopor. Ini karena Noldeke-lah tokoh pertama yang secara serius dan komprehensif mengkaji sejarah Al-Qur’an di bawah judul “The History of the Qur’an” (Karimi-Nia 2013: 49).

Abu Bakar tertarik menulis buku dengan tema sejarah Al-Qur’an setelah membaca karya Noldeke. Akan tetapi, berbeda dengan karya Noldeke yang padat data dan kaya analisis, karya Abu Bakar ini seolah ‘hanya’ bertujuan untuk membuka jalan bagi para pengkaji di masa mendatang.

Meski diberi judul Sedjarah Al-Qur’an –dan memang di dalamnya membahas sejarah Al-Qur’an–, Abu Bakar juga membahas hal-hal yang sedikit keluar dari tema pembahasan. Selain membahas konsep wahyu, awal mula turunnya Al-Qur’an, pandangan Al-Qur’an sebagai kalamullah, ragam qira’at, pembagian surat (makky-madany), dan sejarah mushaf, Abu Bakar juga membahas sejarah perkembangan peradaban Islam, aliran-aliran dalam Islam, dan masuknya Islam ke tanah ‘Jawa’.

Tidak heran jika kemudian dalam sambutannya untuk cetakan yang ketiga, M. Natsir menyatakan kalau karya Abu Bakar Aceh ini lebih tepat disebut sebagai Sejarah Islam. “… sdr. H. Aboebakar menguraikan hampir seluruh soal dalam Islam jang berhubungan dan ada sangkut-pautnja dengan kitab Al-Qur’an, sehingga Sedjarah Al-Qur’an karangan sdr. H. Aboebakar tersebut lebih tepat dinamakan Sedjarah Islam seluruhnya daripada sedjarah jang hanja mengenai mushaf”.

Terhadap karya Abu Bakar ini, Taufik Adnan Amal dalam bukunya Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an juga melontarkan komentar mengenai banyaknya rujukan yang tidak mempunyai keterkaitan dengan sejarah Al-Qur’an (Amal 2013: xv).

Terlepas dari komentar tersebut, Sedjarah Al-Qur’an karya Abu Bakar Aceh ini mempunyai keunggulan dalam segi keindahan narasi yang digunakan. Dengan menggunakan bahasa ‘sastrawi’, Abu Bakar mengantarkan pembaca untuk terlibat secara intim di dalam dinamika sejarah Al-Qur’an yang ia tulis.

Sayang sekali, meski telah dipelopori oleh Abu Bakar Aceh, disiplin ilmu sejarah Al-Qur’an saat ini masih sedikit mendapat perhatian. Ini terbukti dari minimnya literatur yang dapat diakses. Terhitung tidak lebih dari sepuluh karya dalam bentuk buku yang lahir dari tangan sarjana Muslim Indonesia. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain.

Sirajuddin Bariqi
warga negara biasa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.