Rabu, Maret 3, 2021

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Ahok Belum Selesai!

 "Tak ada manusia yang bisa masuk dua kali di sungai yang sama" Herakleitos Jika mengacu persidangan normatif, persoalan kasus Basuki Tjahaja Purnama sudah sah bersalah atas...

Arah Langkah Media Konvensional di Era Revolusi Industri 4.0

Saat ini kita telah merasakan sebuah fenomena yang dinamakan globalisasi. Globalisasi bermakna bahwa seluruh wilayah di penjuru dunia terhubung nyaris tanpa ada batas, termasuk...

Nilai Sosial Puasa Ramadhan

Manusia dalam mengembangkan dan mengkristalisasikan sifat-sifat Tuhan dalam menjalani kehidupan nyata, sebab manusia menghadapi dinding penghalang, cobaan, dan rintangan yang menghalangi seseorang dalam mencapai...

Berterima Kasih Kepada Paham “Kiri”

Pembukaan tahun 2019 masyarakat Indonesia digemparkan dengan penyitaan buku yang dilakukan oleh aparatur negara (militer dan polisi). Buku-buku yang dibredel merupakan buku dengan nuansa...
Muhamad Fadhol Tamimy
Penulis Buku Sharing Mu Peronal Branding Mu, ASN Lembaga Pemasyarakatan Tenggarong

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan menjadi bencana di kemudian hari.

Pertimbangan kesehatan, manakala menikah di usia muda memanglah baik. Namun kebaikan dalam sisi kesehatan, jika tidak diimbangi dengan persiapan matang dan disempurnakan dengan pengetahuan dibidang keagamaan hanya akan melahirkan janda duda yang usianya semakin muda. Atau bisa lebih buruk lagi, dimana kemiskinan akan semakin berkembang biak.

Berdasarkan data dari Badan Peradilan Agama Indonesia seperti yang dilansir dalam BBC Indonesia, selama Januari hingga Juni 2020 lalu, terdapat sekitar 34 ribu permohonan dispensasi menikah, mereka yang belum genap berusia 19 tahun. Selain daripada kematangan emosi, kematangan dalam perencanaan finansial pun belum mumpuni.

Padahal kemampuan finansial menjadi salah satu faktor kunci yang acapkali menjadi sumber penyebab dari keutuhan sebuah pernikahan. Di sisi lain, mereka yang berusia muda sering membayangkan bahwa pernikahan hanya dari sisi keindahan saja.

Akhirnya setelah menikah, mereka pun menghabiskan uang hasil amplop pemberian, atau tabungan untuk hal-hal yang sebenarnya melebihi budget mereka. Akibatnya top up hutang berbunga diambil, demi memuaskan dahaga hiburan pasca resepsi pernikahan. Setelah masa-masa indah resepsi pernikahan berlalu, barulah kesulitan financial mulai dirasakan.

Setali 3 uang kesulitan financial para keluarga muda, membuat mereka harus menahan malu, manakala tinggal di PMI (Pondok mertua Indah) demi menekan ongkos pengeluaran. Itu pun jika mertua memiliki rumah atau tidak banyaknya anggota keluarga yang tinggal di rumah mertua. Bagi mereka yang tetap kekeh untuk survive, biasanya memilih untuk mencari kontrakan, yang kondisinya tidak lebih baik, bahkan jika mencari kontrakan di kota besar problem harga menjadi masalah lain. Jika mereka mencari yang lebih murah, tentu saja luasnya tidak begitu besar hingga space privasi pun sulit untuk dimiliki.

95% Keluarga Muda Terancam 

Para anak muda yang baru saja menikah, biasanya seiring sejalan dengan belum matangnya karir mereka dalam bekerja. Dampak dari itu, tentu saja pada penghasilan yang didapatkannya, tidaklah besar. Sementara harga property dari waktu ke waktu meningkat beberapa kali lipat.

Hal tersebut menyulitkan para anak muda, terlebih lagi kelipatan kenaikan harga perumahan tidak dibarengi dengan kelipatan kenaikan gaji yang didapatkan. Pun begitu pula dengan pasokan lahan yang terbatas, sedangkan dari tahun ke tahun, jumlah manusia semakin bertambah. Baik itu bertambah karena arus transmirgrasi ataupun disebabkan kelahiran baru.

Jika hal tersebut, maka bukan tidak mungkin kepemilikian rumah bagi keluarga muda adalah suatu hal yang sangat mustahil. Kondisi ini menjadikan keluarga muda terancam menjadi gelandangan di masa mendatang.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPS pada Agustus 2020, rata-rata upah pada buruh hanya berkisar 2,76 juta rupiah, dengan upah buruh tertinggi dari sektor pertambangan sebesar 4,48 juta. Jika didasarkan pada kelompok usia antara 15-19 upah tertinggi hanya pada 3,62 juta. Kita ambil tertinggi jika di satukan dengan para kelompok muda yang berhasil di posisi strategis, PNS dan pengusaha dengan rata-rata penghasilan total adalah 6 juta.

Maka untuk membeli rumah sederhana type 36 di daerah sebesar 175-250 juta (diluar kota besar Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar). Dibutuhkan waktu 3-4 tahun dengan asumsi penghasilan tidak di gunakan sama sekali full menyisihkan, dan harga rumah tidak ada kenaikan.

Dengan fakta seperti itu, bukan tidak mungkin gaya hidup yang boros, disertai dengan tidak baiknya dalam melakukan perencanaan keuangan akan membuat para keluarga muda di masa mendatang menjadi gelandangan, tidak memiliki rumah.

Kemungkinan tersebut telah di sampaikan oleh pakar perumahan General manager Rumah123 Ignatius Untung kepada detik.com 3 tahun lalu yang mengatakan bahwa hanya 5% kaum millennial kelahiran (1982-1995) yang sanggup membeli rumah. Sisahnya sebesar 95% akan kesulitan memiliki tempat tinggal. Artinya butuh segera untuk memperbaiki pola pengeluaran melalui Financial Planner yang baik.

Dengan merencanakan keuangan yang baik maka kita akan lebih mudah dalam memetakan arus keluar masuk, dengan investasi untuk menambah pundi-pundi pendapatan. Perbesaran pundi-pundi pendapatan tidak akan datang dengan sendirinya jika kita tidak mulai untuk berusaha lewat investasi, atau meningkatkan skill diri.

Semoga hal tersebut tidak akan terjadi, dan mulailah sekarang untuk merencanakan keuangan anda dengan baik. Karena perencanaan yang baik, akan membawa kehidupan kita lebih baik. Dan sebaliknya, ketidak siapan dalam merencanakan keuangan, akan menyulitkan kita dan orang lain di sekitar kita tentunya.

Muhamad Fadhol Tamimy
Penulis Buku Sharing Mu Peronal Branding Mu, ASN Lembaga Pemasyarakatan Tenggarong
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.