Kamis, Maret 4, 2021

75 Tahun Menjaga NKRI dan Persatuan di Tengah Pandemi

Hilangnya TPS, Hilangnya Demokrasi: Penggusuran di Bandung

Sistem demokrasi memberikan narasi bahwa paska pemilu, warga negara akan menjadi "supir” (yang duduk) di kursi belakang". Nyatanya ada perpindahan giliran pemimpin terpilih dan...

Duet Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri Masih Perlu Sosialisasi Extra

Hasil Ijtima' Ulama dan Tokoh Nasional Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) merekomendasikan dua nama untuk mendampingi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto pada Pilpres 2019...

Pentingnya Pendidikan Karakter Era Milenial

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar...

Pro-Kontra Ahok Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru

Ahok atau dikenal BTP sudah sering kita dengar dengan berbagai kapasitasnya memimpin sejumlah instansi baik di daerah maupun BUMN. Track record beliau dalam memimpin...
Anno Hartono
Mahasiswa

Kita semua pasti bersepakat bahwa kemerdekaan adalah hak setiap negara di dunia. Sesuai dengan Pembukaan UDD 1945 bahwa kemerdekaan itu merupakan hak segala bangsa dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan momen yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia pasalnya pada waktu itu bangsa Indonesia dengan hasil perjuangan rakyat Indonesia secara berani untuk memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Artinya, Indonesia secara teguh dan berdaulat bebas dari cengkaraman penjajahan dan membentuk suatu negara sendiri yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Dengan kemerdekaan itu, bangsa Indonesia bersepakat menetapkan Pancasila sebagi dasar dan ideologi negara dengan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan keadilan. Nilai-nilai itu merupakan nilai yang mesti dipegang oleh setiap warga negara Indonesia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Serta UUD 1945 sebagi Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia., serta semboyan kebanggan kita ‘Bhineka Tunggal Ika’.

Kita semua patut bersyukur karena atas kerja keras para pendiri bangsa ini, serta direstui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sampai saat ini kini bisa merasakan buah dari kemerdekaan itu sendiri. Proses menuju kemerdekaan itu sendiri tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Banyak hal yang harus dikorbankan untuk meraih kemerdekaan itu termasuk nyawa.

Kini, pada tanggal 17 Agustus 2020 bangsa besar kita memasuki usia yang ke-75 tahun. Usia yang tidak mudah lagi bagi bangsa yang besar ini. Banyak hal-hal yang patut kita apresiasi dari perkembangan dan perjalanan bangsa kita selama 75 tahun ini baik dari segi pembangunan infrastruktur, perkembangan ekonomi, politik, sosial dan perkembangan Sumber Daya Manusianya.

Namun, ada beberapa catatan penting bagi kita dalam merefleksikan ulang kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-75 pada tahun ini. Pertama, mari kita secara bersama untuk melihat potret bangsa Indonesia selama 75 tahun telah berjalan dalam mengamalkan nilai-nilai dasar pancasila seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan keadilan. Untuk mengetahui semua hal tersebut biarlah rakyat Indonesia yang menilai sendiri.

Kedua, kita secara bersama untuk hadir dan melihat bagaimana peran kita saat ini dalam menjag dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia? Dua pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang bagi saya sangat mendasar untuk direfleksikan oleh semua elemen masyarkat termasuk rakyat dan pemangku kepentingan di Indonesia dalam hal ini pemerintah, sehingga hari Kemerdekaan buka sekedar seremonial belak untuk membacakan kembali teks proklamsi.

Namun, lebih dari itu hari kemerdekaan adalah hari untuk kita berbenah diri, sehingga kita bisa merubah segala hal-hal buruk yang pernah terjadi di Negara kita dapat kita rubah.

Upaya Menjaga NKRI

Kemerdekaan mesti terus dijaga dan dipertahankan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Apa yang dikatan oleh Bung Karno merupakan suatu pesan yang besar agar bangsa Indonesia harus hidup berdamai dan menghilangkan ego baik ego agama, daerah, suku maupun golongan sehingga banga besar kita tidak mengalami perpecahan.

Tugas dan kewajiban besar kita hari ini sangatlah berat. Tugas dan kewajiban itu adalah bagaimana untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan yang telah bangsa kita raih 75 tahun lalu.

Salah satu upaya untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah termuat dalam UUD 1945 BAB XII Pasal 30 ayat (1) yang berbunyi “ Tiap tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”.

Mengapa usahan mempertahankan NKRI dimulai dari pertahanan dan keamanan negara?Bagi saya Pertahanan dan Keamanan adalah kunci utama mempertahankan dan menjaga kemerdekaan itu sendiri. Karena pada dasarnya semua orang menginginkan keamanan baik dari dalam maupun dari luar sehingga segala sendi kehidupan manusia dapat berjalan dengan lancar.

Usaha mempertahankan negara Republik Indonesia dapat dilakukan oleh semua warga negara Indonesia. Banyak cara kita mempertahankan negara RI tidak hanya dilakukan dengan cara mengangkat senjata. Namun di era ini, upaya untuk mempertahankan negara RI adalah dengan menunjukan prestasi-prestasi anak bangsa di kancah Internasional, mempertahankan negara dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh setiap warga negara termasuk memanfaatkan potensi-potensi daerah untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia.

Lebih dari itu, upaya untuk mempertahankan NKRI yang paling penting bagi saya dengan melihat keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia baik itu keragaman agama, suku, daerah, ras, bahasa, golongan dan keragamanlainnya adalah bagaimana menjaga dan menerima segala perbedaan dengan senang hati dan menganggap itu sebagai kekayaan yang mesti dijaga. Salinga menerima adalah hal penting yang mesti dijalankan sehingga kita tidak terjadi perpecahan.

Hal di atas mungkin merupakan hal klasik dan terlalu bosan untuk kita dengar. Namun, kita harus tetap menegaskan hal tersebut. Karena menerima perbedaan kunci utama menjaga NKRI agar tidak menimbulkan perpecahan. Membuang etnosentrisme sangatlah perlu untuk kita lakukan demi menjaga perdamaian di negara besar kita ini.

Semangat Pesatuan Kita di Tengah Pandemi

Kita tidak dapat mengelakan lagi bahwa pandemi covid-19 merupakan bencana global yang telah merusak segala sendi kehidupan manusia. Tidak lupat lagi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami kerugian karena adanya pandemi ini.Dalam tulisan ini saya tidak perlu lagi mengurai secara terperinci dampak adanya pandemi covid-19 terhadap segala bidang kehidupan manusia khususnya di negara kita. Saya rasa pembaca sudah memahami semua dampak tersebut baik dari segi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan yang lainnya.

Namun dalam tulisan ini, saya lebih kepada bagaimana kita semua ditengah pandemi ini mengedepankan semangat persatuan kita untuk secara bersama mengusir penjajah baru (baca: Covid-19).

Ditengah situasi yang serba sulit ini, hanya semangat persatuan dan kesatuan kitalah sebagai identitas nasional yang dapat secara bersama menyelesaikan persoalan ini. Hal yang dapat kita lakukan dari semangat persatuan ini adalah secara bersama mengampanyekan dan menghargai segala protokol kesehatan sehingga virus ini bisa menghilang dari bumi pertiwi. Kita juga diharapkan untuk saling membantu keluarga, sanak saudara kita yang paling merasakan dampak dari adanya pandemi ini.

Hal tersebut di atas sangat penting untuk kita mengisi kemerdekaan RI yang ke 75-tahun di tengah pandemi ini. Kita yakin dengan semangat persatuan, segala persoalan akan terselesaikan.

Akhirnya saya mengucapkan “ Dirgahayu RI ke-75 tahun, semoga kita tetap mengedepankan semangat persatuan kita dan tetap menjaga kemerdekaan kita”.

 

Anno Hartono
Mahasiswa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.