Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

70 Tahun GMKI dalam Pelayanan

Corona dan Pembudayaan E-Learning

Virus corona atau coronavirus disease (COVID-19) ditetapkan World Health Organization (WHO) sebagai pandemi atau wabah global. Pemrintah menetapkan sebagai sebagai bencana nasional. Berbagai kebijakan...

Aktivis, Sains, dan Kemajuan Peradaban Manusia

Setiap kali para pejuang HAM dan pembela masyarakat yang tertindas melakukan aksi, ada saja orang yang nyir-nyir: “Ngapain sih berdiri-berdiri ga jelas,” “Aduh, ngapain repot-repot,” "BUBAR WOY!" Ada...

Hukum Tata Negara Darurat pada Situasi Pandemi

Dalam Kondisi Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia seperti saat ini, seharusnya seluruh negara di dunia menerapkan darurat nasional di masing-masing negaranya untuk mencegah...

Subsidi Gaji Karyawan di Bawah Lima Juta?

Penyebaran wabah virus corona telah berdampak pada perekonomian nasional, khususnya pada pendapatan masyarakat. Pendapatan masyarakat Indonesia yang menurun, memaksa pemerintah mengambil berbagai program bantuan...
Sepri Sitopu
Mahasiswa Fakultas Hukum UNSIKA/Aktivis/Founder Kritik.ID(Kritik Institute)

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang lahir pada 9 Febuari 1950 yang mana sebelumnya cikal bakal dari organisasi yaitu atas peleburan dari CSV (Cristenlik Student Vegenering Ov Java) dengan PMKI (Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia) yang mana ini merupakan kilas balik dari wujud persatuan organisasi mahasiswa kristen.

Sehingga sampai saat ini, masih tetap menjadi salah satu organisasi kepemudaan yang besar dan tentunya dapat diperhitungkan. Selain itu mengutip pidato yang disampaikan oleh salah satu Tokoh pendiri GMKI yaitu: Tindakan ini adalah suatu tindakan historis bagi dunia mahasiswa umumnya dan masyarakat Kristen pada khususnya. GMKI menjadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia.

GMKI menjadilah suatu pusat sekolah latihan (leershool) dari orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia. GMKI bukanlah merupakan Gesellschaft, melainkan ia adalah suatu Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya.

Dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam nusa dan bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari iman dan roh, ia berdiri di tengah dua proklamasi: Proklamasi Kemerdekaan Nasional dan Proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injilnya, ialah Injil Kehidupan, Kematian dan Kebangkitan.

Pesan Johanes Leimena atau yang sering dikenal dengan Om Joe dimana lembaran sejarah GMKI juga menuliskan catatan Johannis Leimena yang pernah berproses dan meletakkan dasar-dasar gerakan ini, dan menjadi pejabat Presiden sampai tujuh kali, atas kepercayaan Presiden Soekarno karena kesetiaannya dalam berbangsa.

Memang ditahun-tahun 1960-an, berbagai organisasi kemahasiswaan tumbuh subur. Sebut saja GMNI, PMKRI, HMI, Mapancas serta organisasi lainnya. Semua berebut massa sebanyak-banyaknya.

Akibatnya terjadilah persaingan antar organisasi-organisasi itu. Berdirinya GMKI sebagai organisasi kemahasiswaan tak kalah saing juga dengan organisasi lainnya. Kehadiran GMKI masih sangat dibutuhkan untuk menciptakan semakin banyak kader-kader untuk kebaikan bangsa.

Kita berharap semakin banyak kader-kader GMKI yang berjuang bagi orang-orang kecil dan berani menyatakan kebenaran serta suara kenabian ditengah-tengah medan layan yaitu gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Sehingga bangsa Indonesia harus beruntung, yang mana GMKI berdiri sebagai lokomotif penguatan kader bangsa terutama dalam memperjuangkan prinsip nasionalis dan Ouikumene. Dimana bahwa Gerakan Oikumenisme dan Nasionalisme adalah nilai yang mesti terus diupayakan.

Inilah karya Tuhan bagi kita semua dan bagi bangsa kita Indonesia. Kebhinekaan Indonesia yang menjadi ciri bangsa ini makin terus digerogoti. Menyebabkan ancaman keutuhan Indonesia sebagai sebuah Bangsa dan Negara.

Semakin tingginya semangat egosentrisme di masing-masing agama di Indonesia adalah sebuah ancama ber-Bangsa. Ditambah kemajuan teknologi yang memudahkan manusia untuk melakukan segala sesuatu dengan mudah sehingga menciptakan masyrakat yang individualis dan kecenderungan untuk tidak peka terhadap kondisi persoalan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyrakat.

Oleh karena itu rasa perbedaan yang menjadi anugerah bangsa ini seringkali tidak mampu diterima dengan baik oleh segenap anak bangsa. Transfer ideologi dari luar negeri juga memberikan dampak yang kurang baik pada ke-Bhineka-an yang disatukan oleh Pancasila.

Tentunya perlu di ketahui bahwa GMKI adalah salah satu organisasi yang menitik beratkan pada firman Tuhan yang tertuang dalam Alkitab. Hal ini pastinya bahwa seorang kader GMKI harus mampu menjawab apa yang namanya panggilan dari Firman Tuhan misalnya kita ketahui dalam Matius 16:24-26:

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Teman-teman, zaman sudah berubah namun prinsip kebenaran Tuhan tidaklah berubah, kalau mau menjadi murid Kristus yang sejati, lakukanlah ketiga hal berikut:

Pertaman, sangkal diri; artinya kita harus sedia menyangkal diri kita alias tidak menuruti hawa nafsu. Serta yang perlu kita ketahui bahwa Hidup yang di dalam penyangkalan diri berarti hidup yang di dalamnya ada perubahan yang nyata.

Mengingat kembali masa lalu kita, rasanya kita malu kalau saat ini kita boleh bersama dengan Tuhan. Namun orang yang menyangkal diri mengikut Tuhan ia harus tinggalkan masa lalunya. Benar dahulu hidup kita seperti seorang penjahat atau lebih kasar seperti “bajingan”. Tetapi tatkala Yesus mengatakan, ayo ikut Aku? Yang mana menyambung bahwa Kristus sendiri adalah harapan akan masa depan dalam arti Lain segala-galanya yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu yang buruk itu harus disingkirkan (seperti nafsu amarah, kemalasan, iri, dendam, mencemooh, dll).

Kedua, memikul salib kita; secara historis sebenarnya salib itu adalah salah satu alat yang digunakan oleh orang Romawi untuk menjalankan hukuman mati terhadap seseorang yang berbuat kejahatan.

Salib dianggap sebagai alat untuk mendatangkan kematian dengan cara yang pelan namun sangt menyakitkan. Orang Romawi biasanya menggunakan salib untuk menghukum mati budak atau orang Asing. Orang yang dijatuhi hukuman diharuskan memikul salib atau balok lintang ( atau balok mendatar) ke tempat eksekusi. Pada jaman Yesus, masyarakat sering melihat orang-orang yang disalib, sehingga dijadikan lambang kehidupan orang percaya.

Sehingga kita sebagai kader GMKI harus mampu menjalani hidup yang penuh dengan tantangan/godaan (dalam pekerjaan, pelayanan, studi, dll) dengan penuh iman hingga kita berhasil melewatinya); pengertian lainnya adalah meninggalkan dosa kita baik yang terang-terangan dilakukan (seperti nyontek pada saat ujian atau korupsi berjamaah) maupun dosa yang sengaja disembunyikan karena tidak ingin diketahui orang lain. Menyalibkan dosa tersebut sampai kita benar-benar merdeka alias mampu melepaskan diri dari ikatan dosa tersebut.

Ketiga, Mengikut Tuhan; Kata mengikut Aku ini di dalam bahasa Yunaninya dipakai kata apisw yang artinya di belakang (Matius 10 :38). Ternyata untuk mengikut Yesus ada terpasang dua syarat yang cukup berat. Tidak ada kesemptana untuk negosiasi atau KKN (sogok). Itu sebabnya walaupun pemuda yang dating itu adalah orang kaya, tetap saja pulang dengan tangan hampa.

Karena bagi pemuda itu, tugas yang diberikan Tuhan Yesus itu sangat berat. Sehingga dapat diartikan mengikuti teladan Yesus. Melayani Tuhan merupakan salah satu wujud mengikuti telandan Yesus Kristus yang tentunya akan banyak hal yang akan kita korbankan. Mau melayani Tuhan? Berani bayar harga dan harus mampu untuk berprilaku layaknya Tuhan Yesus sebagai mana merupakan gambaran wujud dari gambar rupa Allah.

Jadi teman-teman segerakan hendaklah kita menjadi kader GMKI yang melayani dengan motivasi yang benar dilandasi dengan ketaatan kepada Tuhan dan belas kasih (mercy) yang kita turuh untuk sesama kita.

Sadarilah bahwa ladang sudah menguning siap untuk dituai, namun tuaian memang banyak tapi pekerja sedikit. Sehingga kader GMKI harus tetap berbangga menjadi bagian orang terpilih dan terpanggil untuk senantiasa melayani dengan sungguh-sungguh dibalik tantangan perjalanan atas persoalan sosial yang terjadi ditengah-tengah masyrakat. Yang kita ketahui seperti masalah intoleransi yang berimbas pada suatu tindakan radikal yang tentunya menggangu kerharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara

Akhir kata, Tinggilah iman kita. Tinggilah ilmu kita. Tinggilah pengabdian kita. Ut omnes unum sint. Shalom

Sepri Sitopu
Mahasiswa Fakultas Hukum UNSIKA/Aktivis/Founder Kritik.ID(Kritik Institute)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.