Minggu, Desember 6, 2020

3 Tahun JKW-JK, ekonomi pariwisata menjadi catatan

Pertemuan IMF-World Bank 2018, Pemborosan atau Investasi?

Tahun 2018 menjadi tahun yang monumental bagi Indonesia, negara kita dipercaya dunia sebagai tuan rumah dua acara besar berskala internasional yaitu Asian Games 2018...

HAM untuk Perlindungan ABK

Peristiwa atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di di kapal besar penangkap ikan milik China...

Warga Lakardowo, Mojokerto, Bertarung Melawan Limbah B3

Delapan tahun telah berlalu, warga Lakardowo masih hidup berdampingan dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sudah berkali-kali warga Lakardowo, Djetis Mojokerto melakukan aksi,...

Revolusi Industri 4.0 dan TKDN

Menteri Perindustrian RI, pada Selasa, 25 September 2018 menyampaikan guna menindaklanjuti peta jalan Industri 4.0 (Making Indonesia 4.0) Kementerian Perindustrian RI, menetapkan lima sektor...
Ghilman Hanif
Ghilman seorang Mahasiswa UIN JAKARTA Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, dia Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam dan organisasi kepemudaan lainnya, dia lahir di bogor sejak 21 tahun yang lalu.

Pariwisata sudah menjadi trend Industri di setiap provinsi untuk menumbuhkan perekonomian, karena lemahnya perdagangan dunia dan berdampak kepada ekspor Indonesia yang terus menurun, dari mulai ekspor batu bara, mineral, minyak bumi, dll. Maka kebutuhan alternatif akan pendapatan negara sangat penting, salah satunya pariwisata yang sangat strategis bagi Indonesia yang memiliki tempat wisata diseluruh daaerah.

Awal tahun 2017 pemerintah memiliki target devisi negara dari sektor pariwisata yaitu 186 Triliun. Dengan perhitungan 12 juta wisata mancanegara yang ditargetkan untuk bisa di datangkan di Indonesia. Dan itu masih perhitungan wisatawan mancanegara, belum wisatawan nusantara yang juga menyumbangkan pendapatan negara.

Agar target pendapatan dari sektor pariwisata terealisasi, Kemenpar sudah menyiapkan langkah strategis. Misalnya optimalisasi 10 destinasi wisata bahari yang tersebar di berbagai wilayah seperti Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Pulau Seribu Jakarta, Mandalika Lombok, Pulau Komodo, Wakatobi, Maluku Utara, dan Morotai.

Adapun realitas yang terjadi hari ini apakah bisa mencapai target yang sudah direncakan. Jika kita melihat kembali  data wisatawan mancanegara dari tahun 2016 – 2017 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, jika wisatawan mancanegara terus istiqomah berwisata ke Indonesia, maka akan tercapai target pendapatan devisa negara dari sektor pariwisata.

Namun ada beberapa data yang secara detail dilansir oleh BPS (Badan Pusat Statistik)dari wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Data ini didapatkan pada tahun 2014. Dengan total pendatang dari amerika 385.707 Wisatawan, Asean Total 3.751.074 Wisatawan, Asia Pasifik 3.741.016 Wisatawan, Eropa 1.332.593 Wisatawan , dan total keseluruhan 9.435.411 Wisatawan Mancanegara yang datang ke Indonesia.        

Menjadi catatan juga, bahwa, target Wisatawan mancanegara di tahun 2017 tercapai, dengan naiknya wisatawan mancanegara dari tahun 2014-2017.

Namun ada beberapa hal yang harus diselesaikan dari pihak pemerintahan. Yaitu pariwisata berkelanjutan. Karena Indonesia yang kaya akan keindahan alamnya ini juga butuh keseimbangan akan kelestarian alam, agar anak cucu kita bisa menikmati keindahan ini. Apalagi target pemerintah yang ingin mendatangkan pengunjung yang besar juga akan berdampak pada masalah ekosistem di tempat pariwisata alam. Kita tahu setiap manusia pasti memiliki sifat perusak, maka pemerintah harus membuat sistem yang ketat untuk menjaga kelestarian alam dari para wisatawan

Bukan hanya masalah kelestarian alam pariwisata Indonesia, tetapi juga harus coba mencari ekonomi alternative lain selain pariwisata, karena memang jika kita hanya fokus dalam pariwisata, maka kita akan belajar dari negara yunani yang pendapatan negaranya hanya di fokuskan pada sektor pariwisata.

Kita ketahui bersama, negara Yunanni terkenal dengan peninggalan sejarah filsuf, yang sampai saat ini masih terjaga perawatan bangunannya, namun Yunani menjadi negara bangkrut karena dampak besar dari ekonomi dunia yang semakin melemah. Jika kita tidak belajar dari Yunani maka Indonesia pun akan dapat melemah ekonominya, karena alam harus dilestarikan dan perekonomian harus di cari alternative lain selain sektor pariwisata.

Bisa dengan kampung wisata Nganggelaran, yang melibatkan masyarakat desa membangun kampungnya menjadi desa pariwisata, dengan memperlihatkan mata pencaharian dari masyarakat desa tersebut, dan menkjual hasil produksi masyarakat tani maupun yang lainnya kepada para wisatawan, agar wisatawan tahu, di desa nganggelaran memiliki Produksi kakao, kambing, susu dan lain lain.

Semoga pemerintah bisa lebih memfokuskan ekonomi desa dari sektor pariwisata, agar dari setiap sektor bisa di jadikan potensi ekonomi.

*Penulis adalah mahasiswa UIN Jakarta jurusan Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Semester 7, dan aktif di organisasi mahasiswa Intra kampus maupun ekstra kampus.  

Ghilman Hanif
Ghilman seorang Mahasiswa UIN JAKARTA Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, dia Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam dan organisasi kepemudaan lainnya, dia lahir di bogor sejak 21 tahun yang lalu.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.