Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

2024: HMI atau PMII-kah Presiden Kita?

Menemukan Jejak Filsafat Pendidikan Islam

Sistem pendidikan nasional kita masih centang perenang. Haidar Bagir melalui buku Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia (2019) menunjukkan adanya kerancuan hakikat, sistem, dan tujuan pendidikan kita....

Sejarah Paskibraka dan Nasionalisme Kita

Pasukan khusus yang bertugas di bulan Agustus berlatih untuk menunaikan tugas mulia, yaitu untuk mengibarkan bendera pusaka merah putih. Baik level Kabupaten/Kota, Provinsi, maupun...

Inisiasi Nasionalisme dalam MPLS Peserta Didik Baru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menyita perhatian publik, melalui rencana menggandeng Tentara Nsional Indonesia (TNI) dalam pembinaan pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Digandengnya...

Tentang Perilaku yang Merusak Karya Seni

Karya seni sedang populer di Indonesia, sayangnya popularitas itu disertai cerita tentang rusaknya berbagai karya seni dan para pengunjung yang hanya sibuk melakukan swafoto...
Andi Musdar
berdarah bugis-makassar yang sering dipanggil "mas"

Sebentar lagi kita akan diperhadapkan dengan euforia pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pertengahan April mendatang. Seperti kata kebanyakan orang, pertarungan tahun ini yang mempertemukan kembali Pak Jokowi dan Pak Prabowo bakalan seru.

Karena dua orang putra terbaik bangsa ini sama-sama bertekad untuk menang, sama-sama merasa akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik jika terpilih menjadi Presiden. Semua itu tergantung Cebong dan Kampret bagaimana menilai keduanya.

Kalaulah Jokowi menang kembali, maka terbukti bahwa warga sipil pun boleh dua periode jadi Presiden. Kalaulah Prabowo kalah lagi, maka terbukti Pak Prabowo satu-satunya yang dua kali jadi Capres dan dua kali pula kalah dari kalangan militer.

Berarti masih mending, Pak Wiranto yang hanya mencoba sekali lalu kapok (tidak nyapres lagi) dan tau diri (jadi cawapres Pak JK tahun 2009) namun belum beruntung juga. Maka Pak Wiranto memilih jalan lain untuk memperjuangkan hati nurani rakyat. Tapi jangan lupa Pak Prabowo juga maju cawapres kala itu.

Dan Pak Prabowo tak mampu seperti Pak Harto dan Pak SBY. Walau menang, Pak Prabowo masih butuh satu periode lagi untuk menyamai rekor Pak SBY. Berarti ujian kedua hadap-hadapan dengan politisi-politisi muda di 2024. Satu hal yang pasti, Pak Prabowo tidak mampu menyamai rekor Pak Harto.

Nah bicara 2024, konteks pertarungan betul-betul berubah. Ada AHY yang siap dengan segudang amunisi dan pencitraan yang mulai digarap tahun ini, ada Sandiaga Uno dengan ketampanannya dan pasukan emak-emak yang doyang zumba di belakangnya, serta masih banyak lagi tokoh-tokoh yang akan bermunculan di tahun 2024 nanti.

Tapi pernahkah kita berfikir untuk membagi beberapa tokoh-tokoh muda nasional ini ke dalam dua organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia, yaitu HMI dan PMII. Terbesar?  Iya karena kedua organisasi ini mengklaim memiliki cabangnya masing-masing di wilayah administrasi pemerintah yang memiliki perguruan tinggi.

HMI dan PMII dalam kancah pertarungan politik nasional tidak boleh dipandang sebelah mata. Kader-kader progresif dan militan mereka bertebaran di beberapa partai politik bahkan masuk sebagai penyelenggara pemilu.

Tokoh-tokoh politiknya yang memiliki basis gerakan akar rumput pun tidak sedikit. Setidaknya ada beberapa nama, kader HMI dan PMII yang namanya malang melintang di media nasional karena advokasi, prestasi dan kontroversi yang dilakukan kader tersebut.

Sejarah mencatat belum pernah kader keduanya mencapai tampuk tertinggi negara ini. PMII tidak boleh mengklaim Gus Dur, tapi HMI boleh mengklaim JK (wakil presiden 2 periode). Justru beberapa kader militan mereka mengalami nasib malang. Sebut saja Anas Urbaningrum dan Surya Darma Ali, yang sama-sama terjerat kasus korupsi.

Walau begitu, kader HMI dan PMII punya kans besar untuk berpose di kertas suara capres 2024 nanti. Bagaimana tidak? Beberapa politisi nasional hari ini, lahir dari rahim dua organisasi tersebut, ada Muhaimin Iskandar, Imam Nahrawi, dan Hanif Dhakiri, Khofifah Indra Parawansa, dari PMII. Ada Romahurmuziy, Abraham Samad, Mahfud MD, Anies Baswedan, dari HMI. Serta masih banyak lagi, bahkan Habib Riziq masuk alumni salah satu organisasi terbesar ini (cek wikipedia HMI dan PMII).

Bisa dibayangkan pertarungan mereka bila betul masing-masing menempatkan kadernya jadi capres 2024. Ini seperti ajang perebutan kader yang sering terjadi di lingkungan kampus antara HMI dan PMII ketika mahasiswa baru mulai berdatangan. Ada saja dinda-dinda yang terpikat pada kanda-kandanya serta sahabati-sahabati yang diam-diam menaruh perasaan pada sahabatnya. Aduh dik, para sahabat dan kanda-kanda ini memang piawai memainkan kata-kata. Namun kali ini skalanya lebih besar, ini level RI 1.

Tidak cukup hanya dengan berkunjung dari kosan satu ke kosan lainnya atau meminjamkan buku untuk dibaca atau membantu mengerjakan tugas kuliah. Tidak, ini lebih dari itu.

Kunjungan ke daerah-daerah untuk mendulang suara, punya koneksi dalam dan luar negeri, memiliki partai pendukung, dan mau tidak mau anda harus memiliki sejumlah uang untuk operasional timses. Jadi bisakah kader HMI dan PMII terpilih mempersiapkan semua itu? Pasti bisa.

Prediksi saya, tahun 2024 jika betul HMI dan PMII akan hadap-hadapan. Maka nama-nama tadi akan mengerucut masing-masing  pada satu nama. Yaitu Muhaimin Iskandar dan Mahfud M.D. Keduanya saling menyerang dalam diam. HMI pun tahu mengapa kanda Mahfud-nya batal menjadi cawapres Jokowi.

Semoga jika pertarungan keduanya terjadi, memberi dampak yang baik bagi negeri ini. Bisa bertarung secara sehat, meminimalisir hoax, dan tunduk kepada pancasila dan UUD 1945. Karena Indonesia “Yakin Usaha Sampai” melalui “Dzikir, Fikir dan Amal Saleh”.

Andi Musdar
berdarah bugis-makassar yang sering dipanggil "mas"
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.