Selasa, Maret 2, 2021

2019 Ganti Presiden, Terlalu Ekslusif

Masihkah Kaum Feminis Ngeyel Setelah Menonton Film Endgame?

Tingginya dan tidak stabilnya intensitas pertarungan politik antara kedua kubu presiden sekiranya tak membuat Marvel Holic Indonesia kehilangan semangat dalam menyambut rilisnya film Avenger:...

Syariat Islam Versus Pancasila

Syariat Islam sudah lama disoal, ia bukan barang baru bagi sejarah bangsa ini. Ia lahir jauh sekali sebelum negeri ini merdeka. Apalagi sejak ada...

The Dark and Bloody Side of Khilafah

Sudah baca buku Islam Yes, Khilafah No Jilid 2 karya Nadirsyah Hosen? Kalau belum, beli dan bacalah bukunya. Umat Islam perlu mengetahui fakta sejarah kekhilafahan...

Pènèkan

“Minuman berasal dari pucuk tangkai daun yang dipetik di pegunungan, kemudian dikeringkan, diseduh dengan air panas dalam sebuah teko. Dinikamati dengan menambah sedikit gula,...
Ari Putra Utama
Penulis adalah Mahasiswa S1 Ilmu Politik FISIP UI.

Beberapa waktu belakangan ini, terdapat fenomena menarik dalam konstelasi politik di tanah air. Meski pemilihan umum masih cukup lama, yaitu pada April 2019, namun genderang “perang” sudah mulai ditabuh jauh-jauh hari sebelumnya, baik melalui perantara media sosial, duel gerakan sosial, perang tagar, adu kaos, dan unjuk kekuatan dengan deklarasi-deklarasi dukungan.

Tak terkecuali, gerakan #2019GantiPresiden yang mulai merambah ke seluruh pelosok nusantara melalui kampanye yang sedemikian masif, baik oleh tokoh agama, politisi, pengusaha, maupun masyarakat awam yang tergabung dalam banyak aliansi.

Gerakan 2019 Ganti Presiden yang pada awalnya diinisiasi dan menjadi political branding salah satu calon presiden dari PKS, yaitu Mardani Ali Sera, ini berubah menjadi semacam social movement yang didukung oleh beragam kalangan dengan tujuan yang sama, ganti presiden tahun depan.

Meski tampak bahwa Gerakan 2019 Ganti Presiden sudah sedemikian terorganisasi, namun masih terdapat kelemahan yang sangat fatal dan pengaruhnya begitu signifikan bagi keberhasilan gerakan, yaitu kecenderungan bahwa gerakan ini terlalu ekslusif dengan branding yang kurang simpatik bagi mereka yang berada di luar istilah “umat”.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa Gerakan 2019 Ganti Presiden mayoritas digawangi oleh kelas menengah Muslim dan didukung oleh grassroot yang juga Muslim. Mereka berhimpun dengan tujuan yang sama, yaitu menginginkan peralihan tampuk kekuasaan kepada kelompok yang dianggap lebih mewakili umat, terlepas apakah peralihan itu menuju kepada arah yang lebih baik atau sebaliknya.

Branding kampanye yang dibuat oleh pendukung gerakan ini pun, selalu membawa istilah-istilah yang merujuk pada Islam, seperti perjuangan umat, kembalikan kejayaan umat, menuju kebangkitan Islam, bahkan hingga menganalogikan Pemilu sebagai ajang peperangan melawan kedzaliman.

Ketika terminologi-terminologi tersebut dipakai sebagai branding kampanye Gerakan 2019 Ganti Presiden, terlihat jelas bahwa gerakan ini ingin mengkapitalisasi suara umat Islam yang mayoritas di negeri ini demi memuluskan tujuan politik kekuasaannya.

Dalam konteks politik elektoral, apabila suara mayoritas didapat, maka kemenangan akan diraih. Umat Islam beserta segala hal yang meliputinya adalah lahan yang sangat seksi untuk “dimaksimalkan”, jika tidak ingin disebut diesploitasi. Hal itulah yang dilihat sebagai peluang besar oleh pengelola isu dan propaganda Gerakan 2019 Ganti Presiden ini.

Namun di sisi lain, branding Gerakan 2019 Ganti Presiden yang bernuansa “Islam politik” ini, terkesan terlalu ekslusif dan tidak merangkul semua. Jangankan untuk merangkul semua kalangan dari latar belakang agama yang berbeda, bahkan untuk mengkapitalisasi suara umat Islam saja, sebagaimana yang mereka inginkan, kemungkinan akan menjadi hal yang sulit terwujud.

Presiden Joko Widodo meskipun dianggap berasal dari kalangan nasionalis, tetapi beliau mendapat dukungan dari PKB dan PPP yang punya basis sosio-kultural umat Islam yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi kekuatan Jokowi di wilayah Indonesia timur yang mayoritas penganut Nasrani, dan cenderung akan menjadi konstituen tetap Jokowi di 2019 nanti. Hal ini jelas menjadikan narasi #Jokowi2Periode terlihat lebih inklusif dibanding #2019GantiPresiden yang hanya menyasar ke satu latar belakang keagamaan tertentu.

Padahal sangat dimungkinkan, bahwa banyak orang di luar sana, yang bukan merupakan bagian dari “umat”, mereka yang berasal dari basis primordial yang berbeda, juga merasakan kesulitan yang sama, keresahan yang sama, sekaligus keinginan yang sama untuk mengganti presiden di tahun depan. Namun, sekali lagi sangat disayangkan, Gerakan 2019 Ganti Presiden telah mengemas dirinya sedekimian rupa, sehingga orang-orang dengan latar belakang yang berbeda menjadi ragu untuk bergabung dalam gerakan sosial yang fenomenal ini.

Bukankah lebih baik, jika membuat gerakan seinklusif dan seterbuka mungkin, agar semua pihak bisa bergabung? Bukankah lebih baik, jauhkan prasangka terhadap entitas agama lain, agar gerakan ini dapat diterima dengan jangkauan yang lebih luas? Atau bukankah lebih baik, jika gerakan ini tidak membawa term-term agama yang terlalu heroik atau bahkan mengerikan, yang justru menjadikan dirinya sendiri anti-klimaks?

Kita lihat saja, bagaimana ujung dari kisah yang mereka sebut sebagai “perjuangan umat” ini.

Ari Putra Utama
Penulis adalah Mahasiswa S1 Ilmu Politik FISIP UI.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.