Minggu, Oktober 25, 2020

Surya Paloh dan Pembelotan Partisan

Telunjuk Raja di Kening Presiden

Teks Proklamasi versi coretan awal, Proklamasi Klad, ditulis atas nama “wakil2 bangsa Indonesia”. Soekarno dan Hatta ingin teks tersebut ditandatangani oleh semua hadirin di...

Menyoal Urgensi Jaminan Produk Halal

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini tidak lagi berwenang menerbitkan sertifikasi halal untuk produk makanan minuman. Meski demikian, Kementrian Agama (Kemenag) menekankan jika MUI masih...

Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme

Pelaku bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Kota Medan, Sumatera Utara (13/11) ditengarai terpapar pandangan ekstrem dari istrinya sendiri. Fenomena ini menjadi unik...

Lingkungan Hidup dan Pola Pikir Tersumbat

Lingkungan hidup merupakan unsur yang sangat penting dalam melangsungkan kehidupan. Bahkan, baik itu unsur biotik yang terdiri dari berbagai jenis makhluk hidup dan unsur...
zainul abidin
Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Dan sekarang menjadi Asisten Peneliti di Center for Election and Political Party (CEPP) Fisip Universitas Indonesia.

Dukungan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk mencapreskan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan tahun 2024 seperti petir di siang bolong. Tindakan politik yang dinilai terburu-buru tersebut cenderung menciptakan pembelotan partisan.

Perseteruan politik yang mengerucut antara partisan di pilpres 2019 kemarin tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena rivalitasnya akan terus menyengat. Faktor perilaku memilih berdasarkan indentitas aktor dan keperpihakan partai masih mengentalkan dinamika dan konstelasi politik yang akan datang.

Artinya partisan politik mengikatkan diri dengan sikap yang diarusutamakan oleh partai dan kandidat, maupun elite politiknya sendiri. Sehingga ada kedekatan antara partisan dengan partai dan kandidat yang menentukan tindakan politik individu dan kelompok.

Apalagi dalam pendekatan psikologi dari teori voting behavioralisme. Suara individu didasarkan oleh tiga sikap politik. Pertama, partisanship (keberpihakan). Kedua, pendapat terhadap  isu. Ketiga, citra kandidat. Sikap politik tersebut memiliki dampak langsung dan sangat kuat terhadap perilaku memilih.

Anies Baswedan dan Surya Paloh di panggung politik sudah dilihatnya hitam dan putih oleh partisannya. Posisi partai dan kepentingan politik sudah sangat jelas dan mainstrem. Anies Baswedan dicitrakan sebagai gubernur muslim. Keperpihakan politiknya selalu mengartikulasikan nilai-nilai Islam. Identitas keislamannya begitu dilekatkan oleh partisannya yang tidak memisahkan antara agama dan negara dalam politik.

Sedangkan Surya Paloh sepanjang pemerintahan Jokowi selalu dinilai sebagai tokoh yang anti Islam. Posisi dan keperpihakan politik yang tidak bisa dilupakan yaitu ketika aksi bela Islam, Surya Paloh membela penista agama (Ahok).

Konsistensinya tidak hanya dilihat dari kebijakan politik Partai Nasdem, akan tetapi secara pribadi dicitrakan sangat anti terhadap Islam. Sepanjang aksi bela Islam, MetroTv televisi Swasta di bawah kuasa Surya Paloh selalu memberitakan bahwa aksi bela Islam yaitu merusak fasilitas, anarkis, dan mengotori ibu kota. Fakta ini lah yang akan menjadi beban sejarah Surya Paloh dengan Islam.

Akan tetapi, pembelahan di masyarakat Islam secara khusus didasarkan oleh orientasi identitas Islam dengan yang tidak. Hampir semua masyarakat yang mengedepankan identitas Islam dalam politik (non sekuler) mendukung Anies Baswedan dan tidak mendukung Surya Paloh. Kelompok-kelompok tersebut seperti yang tergabung dalam aksi bela Islam, atau masyarakat yang simpatik dan mendukung Ijtima ulama.

Secara menyeluruh pembelahan politik disebut dibagi dalam Cebong dan Kampret. Jadi dinamika pembelahan tersebut menjadi memori kolektif. Namun manuver politik yang dilakukan oleh Surya Paloh berdampak politis. Dimana ada pergeseran peta partisan politik.

Pembelotan Partisan Nasdem

Dukungan politik untuk Anies Baswedan berdasarkan citra identitas Islam (pemimpin muslim) menunjukan tran yang semakin menguat di kalangan masyarakat. Identitas Islam dalam politik terus disuntikan dalam bentuk dukungan loyalitas politik untuk Anies. Sehingga saat ini, Anies memiliki partisan yang kuat di kalangan masyarakat Islam.

Berbeda dengan Surya Paloh, pasca manuver politik mencapreskan Anies Baswedan cenderung mengikis partisan politiknya. Selain label elite dan partai pembela penista agama yang menjadi identitas politiknya. Sprit dan orientasi politik partisannya sangat konsisten menjaga kepentingan politiknya, seperti tidak mengedepankan identitas agama dalam politik. Mendukung Anies Baswedan mengguncang citra dan identitas partisan Nasdem sendiri.

Surya Paloh inkonsistensi dalam keperpihakan politiknya dengan partisannya. Karena pembelahan suara politik di masyarakat tidak seperti di tingkat elite. Yaitu menerima segala kemungkinan dan alternative kepentingan. Sedangkan di arus  partisan politik sangat kaku. Keperpihakan politik tidak boleh abu-abu.

Oleh sebab itu, partisan Nasdem akan cenderung membelot di partai yang bisa menjaga identitas politik dan kandidat yang memiliki prinsip yang sama. Salurkan partisan tersebut, hemat penulis akan tertuju pada partai yang konsisten menjaga kepastian kepentingan partisan tersebut seperti PDI P dan PSI.

Sedangkan pemilih Islam yang mengedepankan identitas dalam politiknya akan sukar dengan Surya Paloh. Artinya mencapreskan Anies tidak akan berdampak sokongan electoral untuk Nasdem. Karena ada trauma sejarah yang melekat di Surya Paloh dan Nasdem sendiri.

Artinya Nasdem masuk dalam pusaran atau buah simalakama. Artinya ada kerugian elektoral untuk Nasdem di atas terawatnya konflik dan pembelahan politik di masyarakat. Hal tersebut harus diperhitungkan oleh Surya Paloh.

zainul abidin
Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Dan sekarang menjadi Asisten Peneliti di Center for Election and Political Party (CEPP) Fisip Universitas Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.