Minggu, April 11, 2021

Stigma Negatif PRT Migran

Selamat Datang Jokowikrasi

Pada hari Kamis (26/9) Presiden Jokowi dikabarkan bertemu dengan 40 tokoh dari beragam latar belakang, akademisi, seniman, budayawan, ahli politik, ahli hukum dan ahli...

Sepak Terjang Kekuatan Oposisi Menuju 2024

Pemilihan presiden 2019 menjadi percaturan politik bagi capres petahana Jokowi dengan capres oposisi, Prabowo. Rematch ini membuat sebagian masyarakat Indonesia mengeluh terhadap calon yang digadang...

Bidan Puisi Itu Bernama Facebook

Di era facebook, bermunculan puluhan bahkan ratusan grup dan halaman yang secara khusus mengunggah puisi. Setiap hari bisa ratusan bahkan ribuan puisi ditulis, kemudian...

Demokrasi Mati?

Sebuah iklim demokrasi diakui membuka celah kemerdekaan. Seperti menyampaikan pendapat, ide, gagasan bahkan opini. Hal tersebut akan tumbuh baik apabila merdeka berpendapat dengan bijak,...
fitri lestari
Perempuan muda yang semangat belajar, demokratis dan feminis. Saat ini bekerja sebagai staf divisi Bantuan Hukum Migrant CARE

Lahan-lahan pertanian banyak yang digusur. Para petani pun kebingungan untuk mencari pekerjaan lain. Tak hanya petani laki-laki namun juga petani perempuan yang harus menanggung beban ganda, bekerja sekaligus merawat anak-anak.

Ketika petani perempuan ingin bekerja di pabrik, ternyata juga tidak mudah. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi: pendidikan min. SMA, tinggi badan min. 155 cm, menarik, cantik, molek dan menawan. Kerja sebagai buruh pabrik bahkan juga harus membayar terlebih dahulu, sekitar 3–5 juta. Kalau tidak begitu, ya harus kenal orang dalam.

Di saat seperti itu, otak harus berputar untuk mencari pekerjaan. Membuka usaha pun modalnya sulit. Takut untuk mencoba dan khawatir kalau tidak laku. Rasa-rasanya seperti kebingungan harus bekerja apa untuk memenuhi kebutuhan yang kian hari kian mahal.

Calo-calo untuk penempatan pekerja ke luar negeri pun berseliweran, mendatangi rumah-rumah warga yang kehidupannya susah dan serba kekurangan. Iming-iming pun disampaikan untuk meyakinkan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI): gaji 5 juta, jadi cleaning service di hotel, bisa jalan-jalan, aman dan legal.

Dengan keyakinan dan semangat hidup untuk bekerja demi menghidupi anak-anak dan keluarga, calon PMI pun menyetujui. Kemudian ia ditampung di penampungan PPPMI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia). Di sana calon PMI diberikan pelatihan yang seadanya dan tidak komprehensif, pelatihan bahasa dan pelatihan kerja dengan tingkat dasar, tak ada pelatihan negosiasi juga tak ada simulasi untuk mencari keselamatan apabila bekerja dengan situasi yang tidak aman. Intinya, harus patuh kepada majikan bila tidak maka harus membayar ganti rugi puluhan juta rupiah.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) menjadi salah satu pilihan pekerjaan untuk perempuan. Data dari BNP2TKI mencatat bahwa mayoritas PMI adalah perempuan, 69% PMI yang ditempatkan pada tahun 2017-2018 adalah perempuan dan sebagian besar bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Sepanjang 2017-2018, 74% kasus yang didampingi Migrant CARE adalah kasus yang dialami PMI Perempuan.

Ketika calon PMI sudah ditampung di penampungan. Para tetangga menanyakan ke keluarga calon PMI, “wah anakmu kerja ya ke luar negeri? gajinya besar dong! Siap-siap bangun rumah!”, celetuk tetangga kepada ibu calon PMI. Ada juga tetangga yang bilang ke anak calon PMI, “eh ibumu itu kerja lho di jauh sana, di luar negeri, enak to!”. Padahal usia anak itu masih anak-anak, belum bisa berpikir.

Situasi di penampungan pun menyeramkan. Temboknya tinggi-tinggi. Gerbangnya juga tinggi, selalu ditutup rapat. Para calon PMI tinggal bersama seperti di asrama. Tidur bersama, makan bersama, belajar bersama bahkan mandi juga bersama. Mereka juga dibatasi untuk berinteraksi dengan warga sekitar karena tidak boleh keluar dari penampungan. Sesudah sekitar 1 bulan atau bahkan 1 minggu di penampungan, calon PMI pun berangkat ke negara tujuan.

Tiba di negara tujuan, semua dokumennya dirampas oleh agensi dan majikan. Alhasil, PMI tidak memegang paspor dan visa. PMI juga tidak diberikan salinan perjanjian kerja. Bahkan hape sebagai alat komunikasi juga dirampas. PMI yang dijanjikan bekerja sebagai cleaning service ternyata dipekerjakan sebagai PRT.

PRT Migran mengalami situasi kerja yang eksploitatif. Mereka harus bangun di waktu subuh untuk bersih-bersih rumah dan seisinya, menyiapkan sarapan majikan, menyiapkan pakaian anak-anak majikan. Pekerjaan yang tak henti-henti, PRT Migran juga diantar majikan untuk membersihkan rumah orang tua majikan.

Saat diantar menggunakan mobil, PRT migran rentan mendapatkan pelecehan seksual. Majikan meraba-raba tubuh PRT Migran. Di saat seperti itu, apa yang dilakukan PRT Migran? Ia hanya tunduk, menangis dan memanjatkan doa agar terhindar dari pelecehan dan kekerasan seksual lain. PRT Migran tidak mendapatkan pemahaman mengenai keamanan dan keselamatan diri. Mereka didoktrin untuk tunduk pada majikan.

PRT Migran bekerja dalam situasi yang tidak layak. Gajinya tidak langsung diterima karena ditahan oleh majikan sampai selesai kontrak dan balik ke Indonesia. Sedangkan para tetangga di kampung, dengan nyinyirannya yang pedas bergosip ria, “eh anakmu udah jadi TKI di Malaysia, pasti gajinya banyak! Bisa jalan-jalan”.

PRT Migran yang dirampas hak komunikasinya mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Sedangkan tetangga sekitar berbincang penuh ejekan, “gimana kabar ibumu, udah kerja hampir 2 tahun kan? Dengar-dengar gak pernah kirim kabar, gak pernah kirim uang, kapan balik? Atau jangan-jangan udah kecantol lelaki sono kali!?”

Nyinyiran tetangga membuat hati keluarga PRT Migran kesakitan bahkan merasa trauma untuk keluar rumah. Untuk beli kebutuhan sehari-hari di pasar, keluarga takut dan was-was jikalau nanti ada yang menanyakan kabar dari Malaysia.

Berdasar Data BNP2TKI, sepanjang tahun 2016 dan 2017, negara favorit penempatan PMI adalah Malaysia. Senada dengan data tersebut, PMI yang diadvokasi kasusnya dan didampingi oleh Migrant CARE terbanyak bekerja di negara Malaysia.

PRT Migran harus banting tulang untuk mendapatkan uang demi kehidupan anak-anak dan keluarga. Berbagai eksploitasi seperti kerja paksa, perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, pemanfaatan seksual, pemanfaatan organ serta kekerasan seksual harus mereka alami. Namun kehidupan di kampung halaman tak kunjung berubah. Tembok rumah masih miring hampir roboh. Anak-anak masih kesulitan untuk sekolah bahkan harus pinjam uang kesana kemari. Suami sudah meninggalkan anak-anak dan tidak bertanggung jawab kepada keluarga.

Stigma terhadap PRT Migran selalu tersebar bersama bibir dan mulut orang-orang lain. Keluarga PRT Migran harus menghadapi nyinyiran pedas para tetangga dan mereka mau tak mau harus tutup telinga. Kalau mereka terus mendengarkan dan memasukannya ke hati dan pikiran, mereka bisa-bisa stres menghadapi hal itu.

Belum lagi PRT Migran yang bekerja di Arab Saudi, bahkan diantaranya banyak yang dihukum mati karena membela diri dari majikan yang melakukan kekerasan seksual. Bagaimana kata tetangga? Dengan mudahnya mereka bilang, “anakmu dihukum mati di Arab Saudi ya? Bagaimana bisa kepala dipenggal begitu?” atau para tetangga berbisik di belakang, “itu orang tuanya kan, ya ampun anaknya dipotong-potong dihukum mati karena membunuh majikan”.

Nyatanya, berinteraksi dan berkehidupan sosial sesama warga negara tidak mudah dilakukan. PRT Migran dan anggota keluarganya banyak yang mendapatkan stigma negatif, bahkan hingga mengakibatkan trauma untuk bertemu dengan tetangga atau orang lain.

Bagaimanapun kehidupan harus berlanjut, stigma negatif terus muncul, kalau hal itu dipikirkan dan dimasukan dalam hati maka PRT Migran dan anggota keluarganya akan terus terpuruk. Bagaimanapun kehidupan harus terus maju kedepan, biarlah orang lain berkata apa, biarlah sampai mereka lelah dengan sendirinya. Fokus dengan upaya perlindungan dan pemenuhan hak-hak Pekerja Migran Indonesia dan anggota keluarga, jangan dengarkan stigma itu!

fitri lestari
Perempuan muda yang semangat belajar, demokratis dan feminis. Saat ini bekerja sebagai staf divisi Bantuan Hukum Migrant CARE
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.