Senin, Oktober 26, 2020

Situasi Seperti Apa yang Membentuk Perangai Arteria Dahlan?

Film “Joker” dan Mimpi Kaum Anarkis

Sudah banyak sebenarnya ulasan tentang film “Joker” tahun 2019, yang cukup fenomenal ini. Tulisan ini ingin mencoba memahami film tersebut dari sudut pandang yang...

Jawaban UAS Dituding Picu Konflik

Jawaban Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam sebuah acara ceramah agama, dituding bisa memicu konflik antarumat beragama di Indonesia. UAS diduga kuat telah melakukan penistakan...

Masih Perlukah Belajar Ke al-Azhar?

Manakala disebut kata al-Azhar, yang terbayang di benak banyak orang pada umumnya ialah ajaran Islam yang moderat, ulama-ulama hebat, dinamika keilmuan yang hidup, masjid...

Refleksi 5 Tahun Jokowi dalam SDGs

Sustainable Development Goals (SDGs) adalah pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan. Pembangunan yang mampu menjaga peningkatan kualitas hidup dari satu generasi...
Khabibur Rohman
Dosen IAIN Tulungagung

Sebenarnya bukan kali ini saja Arteria Dahlan mempermalukan dirinya sendiri dengan berkelakuan tidak terpuji. Sebelumnya dia pernah memancing kemarahan banyak orang saat menyebut kementrian agama dengan kata kotor “bangsat” pada sebuah kesempatan rapat di komisi III.

Dulu dia juga mendapat kecaman banyak pihak, tidak hanya dari kementerian agama dan orang-orang yang bekerja di dalamnya, tapi dari juga masyarakat Dapil VI Jawa Timur daerah konstituennya.

Kemarahan orang-orang terhadap Arteria Dahlan kala itu selain disebabkan tuduhannya tidak berdasar, juga karena kata tersebut dianggap tidak sepantasnya keluar dari mulut seorang anggota dewan yang seharusnya terhormat.

Seolah tidak jera dengan hal tersebut, Arteria Dahlan kembali berulah dengan berperilaku tidak sopan kepada Profesor Emil Salim pada acara Mata Najwa pada salah satu stasiun TV. Hadir dalam kapasitasnya sebagai anggota dewan perwakilan rakyat, Arteria beberapa kali berkata dengan nada tinggi, mengeluarkan kalimat umpatan serta menunjukan gesture tidak sopan terhadap lawan diskusi hari itu yang notabene sudah sepuh dan disegani publik.

Rasanya terlalu tergesa-gesa menjustifikasi Arteria Dahlan memiliki masalah kompetensi komunikasi, namun mengatakan bahwa Arteria “sehat secara mental” juga tidak tepat setidaknya berdasar dari 2 kejadian tersebut.

Arteria harusnya tahu, bahwa kepercayaan masyarakat terhadap DPR sedang berada pada titik nadir. Penting bagi dia dan para anggota dewan yang lain untuk memperbaiki citra, alih-alih justru memperburuknya.

Dalam perseprektif psikologi, menganggap sebuah kejadian berdiri sendiri dan tidak memiliki keterkaitan dengan kejadian lain adalah sebuah kesalahan. Perangai buruk Arteria Dahlan mustahil muncul begitu saja dari ruang hampa.

Perangai–atau bahkan karakter-tersebut tentu saja terbentuk dari proses yang panjang dan membentuk personality traits (ciri-ciri kepribadian). Setiap ciri kepribadian yang melekat pada diri seseorang pastilah juga disebabkan oleh kejadian-kejadian yang orang tersebut alami pada masa lampau.

Setiap orang, betapa pun buruk tabiatnya, dia tidak membawa sifat tersebut dari lahir, dan tidak pula dengan sendirinya menjadi seperti itu saat dewasa. Ada situasi yang mengkonstruknya sehingga berkepribadian seperti itu, baik itu yang ia alami dan rasakan secara langsung, maupun yang ia lihat, baca atau dengar.

Menarik untuk mengkaji kira-kira, situasi atau kondisi seperti apa yang menjadikan seorang Arteria Dahlan memiliki tabiat seperti itu. Mari berbaik sangka bahwa tabiat tersebut tidak dia pelajari dari sekolah apalagi rumah.

Di rumah maupun di sekolah tentu saja dia belajar tentang pentingnya menjaga sopan santun terutama di ruang publik. Daerah pemilihan (dapil) VI Jawa Timur yang meliputi Kota dan Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung serta Kota dan Kabupaten Blitar tempat Arteria Dahlan mencari dukungan untuk ke Senayan juga bukan daerah yang lazim berkata kotor dan berperilaku tidak sopan pada orang yang lebih tua.

Lantas situasi dan kondisi seperti apa yang mempengaruhi Arteria Dahlan sehingga menjadi sosok yang seperti sekarang ini?

Khabibur Rohman
Dosen IAIN Tulungagung
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.