OUR NETWORK

Siapa yang Menciptakan Tuhan?

Betapapun panjangnya silsilah tersebut, akal yang sehat akan menuntut adanya keterputusan silsilah itu

Bayangkan sekarang Anda dan beberapa orang dari teman Anda sedang duduk nongkrong di sebuah kafe dengan membentuk satu barisan panjang ke arah belakang. Selang beberapa menit kemudian, orang yang ada di belakang Anda menyodorkan sebuah botol minuman kosong kepada Anda.

Setelah Anda lihat ke belakang, misalnya, ternyata orang itu juga menerima botol tersebut dari orang yang ada di belakangnya. Yang ada di belakangnya juga menerima botol dari orang yang ada di belakangnya lagi. Orang keempat ini juga menerima botol dari orang yang ada di belakangnya lagi, dan begitu seterusnya.

Sampai kemudian silsilah penyerahan botol itu berakhir dengan satu orang yang dia tidak menerima botol dari orang yang lain. Dan anggaplah orang itu adalah pembuat botol itu sendiri, yang ikut hadir bersama Anda dan teman-teman Anda. Dia duduk di barisan paling belakang, karena dia yang mengawali silsilah penyerahan.

Botol itu berasal dari dirinya, yang kemudian dia serahkan kepada orang-orang yang ada di hadapannya. Kalau ada yang bertanya: mungkinkah di sana terjadi silsilah penyerahan botol yang tak berujung, sehingga tidak ada sosok utama yang mengawali silsilah penyerahan itu? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin.

Betapapun panjangnya silsilah tersebut, akal yang sehat akan menuntut adanya keterputusan silsilah itu. Harus ada satu orang yang tidak menerima botol dari orang yang lain. Orang itu adalah pembuat botol itu sendiri, yang tanpa dirinya, botol itu tidak akan pernah ada. Dan botol itu tidak akan bisa diserahkan kepada orang-orang yang ada hadapannya.

Inilah cara termudah untuk memahami satu ketentuan yang dikemukakan oleh para teolog bahwa silsilah yang tak memiliki ujung itu adalah mustahil. Dalam bahasa ilmu kalam, silsilah atau regresi yang tak berkesudahan itu disebut dengan istilah tasalsul (infinite regress).

Atas dasar itu, rangkaian sebab-akibat yang terjadi di alam semesta ini harus berakhir dengan satu wujud yang keberadaannya tidak diwujudkan oleh sesuatu yang lain. Kalau tidak, maka di sana akan terlahir silsilah yang tak berujung itu. A diciptakan oleh B, B diciptakan oleh C. C diciptakan oleh D. Sampai seterusnya, tidak berujung.

Akal yang sehat tak akan mudah untuk menerima kenyataan itu. Untuk memutus regresi yang tak berkesudahan tersebut, maka harus ada satu Dzat, yang keberadaannya karena dirinya sendiri, bukan karena keberadaan sesuatu yang lain. Dia tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Tetapi keberadaan sesuatu yang lain justru bergantung pada keberadaan dirinya.

Dzat itulah yang dalam Agama diyakini sebagai Tuhan. Tuhah itulah yang menjadi sebab dari seluruh sebab, atau illat al-‘Ilal, dalam bahasa para filsuf. Karena Tuhan yang menjadi sebab dari seluruh sebab, maka logika yang sehat akan mengatakan bahwa dia tidak mungkin diciptakan oleh suatu sebab. Kalau dia diciptakan oleh suatu sebab, itu artinya dia tidak menjadi sebab dari seluruh sebab.

Dan ketika dia tidak menjadi sebab dari seluruh sebab, maka ketika itu dia tidak bisa lagi disebut sebagai Tuhan. Bisakah kita menerima keyakinan bahwa sesuatu itu disebut sebagai Tuhan, tapi dalam saat yang sama kita juga percaya bahwa Dia itu adalah sesuatu yang diciptakan dan ada dari ketiadaan? Sudah pasti tidak bisa. Mengapa? Karena kalau sudah diciptakan ya namanya bukan Tuhan, tapi ciptaan.

Karena itu, pertanyaan siapa yang menciptakan Tuhan, dalam hemat saya, adalah pertanyaan yang keliru. Karena ketuhanan itu sendiri meniscayakan ketak-terciptaan. Kalau ketuhanan itu sendiri meniscayakan ketak-terciptaan, lalu bagaimana mungkin kita mengajukan pertanyaan siapa yang menciptakan Tuhan?

Bagaimana mungkin Anda memberlakukan sesuatu kepada sesuatu, sementara sesuatu yang kepadanya hendak diberlakukan sesuatu itu sendiri tidak bisa menerima sesuatu itu?

Tidak benar jika ada ungkapan yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu diciptakan. Yang benar adalah: segala sesuatu yang terbukti ada dari ketiadaan—sekali lagi, yang ada dari ketiadaan—sudah pasti ada yang menciptakan.

Dan memang faktanya begitu. Apapun yang Anda lihat ada, dan Anda tahu bahwa sebelumnya dia itu tidak ada, maka pasti di sana ada sesuatu yang menjadikannya ada. Adapun sesuatu yang tidak ada dari ketiadaan, seperti halnya Tuhan, akal kita tidak menuntut adanya sebab yang menciptakan sesuatu itu.

Justru kita keliru kalau menanyakan sebab di balik keberadaan sesuatu itu. Mengapa? Karena kalau dia disebabkan oleh sesuatu yang lain, dan yang lain itu juga disebabkan oleh yang lain, pada akhirnya kita akan memungkinkan adanya silsilah yang tak berujung itu.

Kalau segala sesuatu ada yang menciptakan, lantas siapa yang menciptakan Tuhan? Pertanyaan ini sejujurnya berangkat dari satu presuposisi yang keliru. Yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu itu diciptakan, sehingga dengan dengan begitu yang bersangkutan berhak untuk mempertanyakan siapa yang menciptakan Tuhan.

Padahal, hukum kausalitas sendiri tidak mengamini hal itu. Hukum kausalitas hanya menyatakan bahwa setiap akibat pasti memiliki sebab. Ingat, setiap akibat, bukan setiap sesuatu. Setiap akibat pasti keberadaannya disebabkan oleh suatu sebab. Karena Tuhan bukan akibat, maka tidak ada ruang bagi kita untuk mencari sebab di balik keberadaan-Nya.

Karena itu, keyakinan bahwa Tuhan tidak diciptakan sama sekali tidak bertentangan hukum kausalitas, sebagai salah satu hukum rasional yang diamini oleh semua orang yang berakal. Mengapa? Karena memang Tuhan bukan akibat, sehingga kita tidak perlu bertanya tentang sebab.

Keyakinan bahwa Tuhan tak diciptakan justru selaras dan hukum-hukum akal yang sehat. Dengan meyakini hal itu, kita percaya bahwa silsilah sebab-akibat itu berakhir dengan Tuhan, yang menjadi sebab dari seluruh sebab, dan dia tidak diawali oleh suatu sebab.

Karena dia yang menjadi sebab dari seluruh sebab, maka keberadaannya harus karena dirinya sendiri, bukan karena sesuatu yang lain. Atas dasar itu, tidak ada ruang bagi kita untuk mempertanyakan siapa yang menciptakan Tuhan?

Karena ketuhanan itu sendiri meniscayakan ketak-terciptaan. Ketika sesuatu sudah diciptakan, maka pastilah sesuatu yang diciptakan itu tidak layak disebut sebagai Tuhan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.

Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…