Rabu, Maret 3, 2021

Sepercik Sejarah Intelijen Indonesia

Ingat Pesan Gus Dur: NU Harus Basmi Korupsi!

Gus Dur pernah mengatakan bahwa membiarkan korupsi besar-besaran dengan menyibukkan diri pada ritus-ritus hanya akan membiarkan berlangsungnya proses pemiskinan bangsa yang semakin melaju. Perkataan...

Memimpin adalah Menderita

"Leiden is lijden!". Memimpin adalah Menderita. Begitulah bunyi pepatah kuno Belanda yang dikutip oleh Mohammad Roem dalam karangannya berjudul "Haji Agus Salim, Memimpin adalah...

Belajar Pada Buku Biografi

Salah satu kesukaan saya adalah mengoleksi buku biografi atau otobiografi. Entah kenapa saya selalu ingin tahu rahasia dibalik perjalanan hidup seseorang hingga menjadi seperti...

Surya Paloh dan Pembelotan Partisan

Dukungan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk mencapreskan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan tahun 2024 seperti petir di siang bolong. Tindakan politik...
Reza Hikam
Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga, Aktif di Berpijar.co dan Center for Extresmism, Radicalism, and Security Studies (C-ERSS)

Badan Intelijen Negara atau biasanya disingkat BIN ialah salah satu lembaga negara yang paling “berkabut” sekaligus kontroversial. Konon kabarnya, Indonesia sudah memiliki Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) yang kantornya pun tidak di publish ke khalayak umum.

Namun, dengan “berkabut” nya intelijen Indonesia menandakan bahwa lembaga tersebut justru berhasil menjadi tak kasat mata di kalangan masyarakat awam. Keberadaannya yang angker ini lah yang menarik beberapa peneliti maupun sejarawan menuliskan tentangnya.

Salah satu peneliti yang pernah menuliskan BIN secara “komprehensif” dan kerap dikutip banyak orang adalah Ken Conboy. Orang satu ini termasuk lumayan hebat karena menulis dua buku lain mengenai permasalahan yang sama sulitnya dengan menuliskan intelijen: Kopassus dan Jamaah Islamiyah dalam dua buku yang berbeda (Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces dan The Second Front). Perkara JI, bukunya lumayan menarik karena menyuguhkan bahasan-bahasan yang kerapkali luput di mata sejarawan maupun peneliti di bidang terorisme di Indonesia.

BIN saya sebut kontroversial karena masa lalu nya di zaman Soeharto yang erat dengan dua nama: Ali Moertopo dan Leonardus Benjamin Moerdani. Jika yang pertama suka membina gali, preman dan bromocora untuk digunakan sebagai proxy nya, sedangkan yang kedua tersohor karena membentuk banyaknya pembunuhan terhadap proxy dari yang pertama.

Pembunuhan yang dilakukan oleh L.B. Moerdani ini nantinya dikenal dengan nama “Petrus” (Penembak Misterius). Alat shock therapy dari rezim Orde Baru untuk menjaga “stabilitas” nya.

Di kala Orba, BIN dikenal sebagai BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara), di mana cerita-cerita dari masa lalu menekankan bahwa tidak ada satu pun informasi yang tidak masuk atau keluar Indonesia tanpa melalui BAKIN terlebih dahulu. Maka dari itu Orde Baru dijuluki sebagai Rezim Intelijen oleh Busyro Muqoddas. Bisa dibilang intelijen adalah pondasi dari berdirinya Soeharto sebagai presiden.

Namun kilas balik sejarah intelijen justru tidak dimulai dari L.B. Moerdani maupun Ali Moertopo. Lembaga ini dirintis oleh seseorang bernama Zulkifli Lubis yang pernah dididik di PETA (Pembela Tanah Air), di mana pembentukan intelijen dilakukan dengan kedua temannya: Daan Mogot dan Kemal Idris, dibantu oleh mantan instrukturnya, Kapten Yanagawa.

Kala itu, intelijen Republik Indonesia disebut sebagai Badan Istimewa yang banyak merekrut mantan tentara yang dididik oleh Jepang. Mereka dilatih oleh Lubis sendiri dan bermarkas di Jalan Pejambon.

Materi pelatihan tersebut adalah combat intelligence, yakni meliputi informasi, sabotase dan perang urat syaraf. Setelah usai pelatihan, para anggota Badan Istimewa mendapatkan julukan “Penjelidik Militer Choesoes” (Penyelidik Militer Khusus / PMC) dan disebar ke seantero Jawa dengan tugas mencari dukungan untuk pemerintah Indonesia dan menagwasi sekaligus melaporkan gerak-gerik musuh.

Menurut Matanasi, PMC terkenal sebagai tukang sweeping, jika digambarkan, mungkin mirip dengan Gestapo (Geheime Staatspolizei), Polisi Rahasia di Jerman semasa Partai Nazi berkuasa. Salah satu anggota PMC di Sulawesi Selatan adalah Abdul Kahar Muzakkar yang membangun Darul Islam di daerah tersebut dan juga Sutopo Juwono yang nantinya akan menjadi pimpinan BAKIN ketika Soeharto naik ke tampuk kekuasaan.

Permasalahan intelijen ini nampaknya juga diminati oleh Menteri Pertahanan bernama Amir Sjarifuddin dan membentuk Kementrian Pertahanan Bagian B (disingkat Bagian B). Lembaga ini memiliki beberapa tugas intelijen: Militaire Combat Intelligence, Civiel Combat Intelligence, Militaire Counter Intelligence, dan lain sebagainya.

Penulis juga menguraikan secara singkat mengenai tugas-tugas intelijen tersebut. Menariknya, Bagian B turut memiliki Biro Investigasi nya yang menangani permasalahan penyelidikan.

Selain melihat dari tindakan yang dilakukan oleh intelijen Indonesia di masa kemerdekaan dengan berbagai namanya, Petrik Matanasi juga menguraikan beberapa tindakan Belanda dalam menghadapi intelijen tersebut.

Akan tetapi bahasan tersebut tidak sebanyak ualasan penulis mengenai tindakan intelijen Indonesia saat itu, termasuk melakukan pengintaian terhadap anggota Tentara Republik Indonesia (TRI) dan juga Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Nampaknya Indonesia sempat menghadapi dualisme intelijen, di mana Amir Sjarifuddin memiliki Bagian B, sedangkan dibawah Presiden Soekarno ada BRANI (Badan Rahasia Negara Indonesia).

Demi menghindari dualisme maka keduanya dibubarkan, lalu dibentuklah badan baru dari kedua elemen tersebut bernama Kementerian Pertahanan Bagian V atau KP-V yang tetap dibawah Amir Sjarifuddin selaku Menteri Pertahanan pada 30 April 1947, namun lembaga ini dipimpin oleh Abdoelrachman.

Penggabungan dari dua unsur intelijen tersebut terbukti merugikan Zulkifli Lubis yang menjadi bawahan dari Amir dkk, sehingga ia tidak lagi melapor langsung kepada presiden. Mengutip dari Conboy, kelihatannya penulis buku ini sepakat dengan sebutan Conboy bahwa era Abdoelrachman ini adalah masa suram intelijen Indonesia, dimana KP-V terlalu sarat dengan kepentingan politis.

Gelanggang intelijen Indonesia memang kerap di dominasi oleh kelompok militer dan kepentingan politik, hal ini yang perlu kita pahami sehingga sipil tidak juga bisa berkembang diranah tersebut. Inilah pentingnya buku mungil terbitan Publisher Kendi ini, sebagai pintu masuk kita mengenal dunia intelijen di Indonesia di masa lampau.

Meskipun beberapa kata mungkin terlihat kurang familiar (seperti penggunaan “aku” ketimbang “ujar”), namun buku ini menggunakan bahasa yang cukup populer sehingga bisa dinikmati berbagai kalangan (dan karena harganya terjangkau).

Reza Hikam
Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga, Aktif di Berpijar.co dan Center for Extresmism, Radicalism, and Security Studies (C-ERSS)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.