Selasa, Maret 2, 2021

Riau Darurat Asap, Tanggung Jawab Siapa?

Bagaimana Gerakan Anti-Feminis Memahami Feminisme?

Rasanya menggemaskan dikala sumber berbagai literatur bisa lebih mudah diakses, ada saja kelompok-kelompok yang masih suka berprasangka terhadap suatu wacana, alih-alih mempelajarinya. Gerakan menolak feminisme...

Kita Tidak Boleh Mati Karena Kabut Asap

Jumat kemarin jutaan orang, sebagian besar siswa sekolah, turun ke jalan untuk berpartisipasi dalam protes perubahan iklim global. Dari New York ke Sydney mereka...

Belajar dari @Katolik Garis Lucu

Saya sangat gembira. Kegembiraan itu tak bisa saya tutup-tutupi. Betapa tidak, saya melihat betapa kita sebenarnya potensial untuk beragama secara spritual, bukan  semata ritual. Itu...

Film “Joker” dan Mimpi Kaum Anarkis

Sudah banyak sebenarnya ulasan tentang film “Joker” tahun 2019, yang cukup fenomenal ini. Tulisan ini ingin mencoba memahami film tersebut dari sudut pandang yang...
Avatar
Nihaya Rina
Penulis Independent

Seruan konsolidasi aksi BEM Universitas Riau jilid V hari ini telah disuarakan, aksi “Kami Siap Membersamai G17S! dengan hastag #RIAUDIBAKARBUKANTERBAKAR” yang akan dilaksanakan 17 September 2019 yang akan datang dinilai akan mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat Riau.

Berbeda dengan problematika kenaikan bahan bakar ataupun sembako yang mana mendemarkasi kalangan bawah dan kalangan atas. Problematika ekonomi yang acap kali menghinggapi negeri ini secara gamblang mencekik masyarakat kalangan menengah ke bawah saja.

Berbeda dengan problematika yang di alami Riau saat ini, mencekik paru-paru setiap lapisan masyarakat tidak peduli strata, harta dan jabatan yang ia miliki. Asap yang mencemari partikel udara di Riau menyatukan masyarakat untuk bersama menyuarakan kesesakan di dada yang semakin memburuk.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi partikulat daerah di Riau mulai merangkak naik menjadi berbahaya. Partikulat (PM10) adalah partikel udara yang berukuran kecil dari mikron (mikrometer). Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien.

NAB PM10 = 150ugram/m3. Tercatat sejak 12 September 2019 Pekanbaru telah memasuki konsentrasi 350 dan memasuki pijakan awal kategori berbahaya dengan warna merah. Pada tanggal 13 September 2019 pada pukul 09.00-14.00 Pekanbaru memasuki angka >400 dengan warna ungu.

Meski pada tanggal 14 September 2019 konsentrasi partikulat sempat mengalami penurunan pada dini hari dikarenakan hujan sesaat, pada siang hari angka terus kembali merangkak naik ke kategori sangat tidak sehat.

Berbagai lapisan masyarakat baik komunitas, mahasiswa hingga instansi membagi-bagikan masker gratis ke masyarakat di jalanan. Problematika asap tidak hanya berhenti dengan pembagian masker gratis. Gubernur dan Wakil Gubernur Riau, Syamsuar-Edy Natar yang dilantik 20 Februari 2019 mendapatkan sorotan tajam.

Terutama pada janji 100 Hari kerja Syamsuar yang mana poin pertama berbunyi, ”sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap pemerintah daerah”. Masyarakat Riau bertambah naik pitam saat mengetahui Syamsuar pergi meninggalkan Riau ke Thailand disaat Riau sangat membutuhkan tindakan atas polemik asap.

Pada awal tahun 2019 di Universitas Riau dalam talkshow dengan tema yang sama dengan artikel ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Edwar Sanger menyatakan bahwa pada 19 Februari 2091 Riau telah ditetapkan sebagai status darurat siaga hingga 8 bulan kedepan.

Kendala karhutla seperti memilin awan yang bertumpuk, selalu ada dan tebal. Replanting atau penanaman cikal bakal lahan sawit baru merupakan monster yang menyeramkan bagi masyarakar Riau.

Tidak hanya petani sawit skala kecil namun juga perusahaan besar melakukan pembakaran secara berjamaah. Tanah gambut di Riau dan Kalimantan Barat memiliki kesamaan yaitu irreversible, mudah terbakar, dan bilamana telah terbakar strukturnya kan rusak sehingga anti-air yang akan mengakibatkan banjir di musim penghujan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa BPBD bertugas di hilir saat bencana telah terjadi, termasuk di saat polemik kabut asap yang menjadi bahan lempar-lemparan tanggung jawab bagi pemerintah.

Permasalahan Asap di Riau telah dimulai sejak 1997 hingga hari ini tidak pernah surut. Sebagaimana polemik lainnya jika masih ditemukan “aktivis” maka isu ini belum menjadi isu strategis utama yang hendak di berangus.

Mitigasi asap di Riau perlu diambil tindakan yang berkelanjutan, salah satunya dengan menjadikan bencana tahunan ini sebagai isu strategis nasional. Pemerintah daerah perlu membuat tim restorai gambut yang terus membersamai dan memantau di lahan sawit.

Terlepas dari menunggu Gubernur Riau yang berpelesir atau mungkin mengungsi ke Thailand? seluruh masyarakat Indonesia harus sadar bahwa permasalahan asap di Riau perlu mendapat sorotan.

Avatar
Nihaya Rina
Penulis Independent
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.