OUR NETWORK

Realitas Joker dan Situasi Jalanan Kita

“Kalau kalian semua memilih tidak peduli dengan kemiskinan, maka ikhlaskan saya untuk berlaku tidak peduli pada pembunuhan.”

Ketika Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) tertawa dalam durasi yang lama, saya berpikir ia sedang berlatih akting. Ketika wajah psikiater muncul, saya bertanya, mengapa ia tertawa? Ternyata, kebiasaannya tertawa tanpa sebab muncul karena penyakit otaknya.

Tertawanya bisa menjadi-jadi, sehingga ia harus kendalikan dirinya untuk berhenti tertawa dengan memegang tenggorokan. Orang yang berada di sekitarnya selalu merasa tersinggung, ketika penyakitnya itu kambuh. Mereka selalu bertanya “What’s funny” sambil melempar sebogem pukulan ke arahnya. Situasi Gotham yang kacau membuat masyarakat cepat tersinggung.

Arthur adalah representasi masyarakat yang marjinal dan terbuang. Lahir dengan gangguan mental, ia hanya bisa menjadi badut jalanan. Beberapa adegan menunjukkan bagaimana ia dikerjain oleh sekelompok anak-anak beramai-ramai. Ia juga mendapatkan perlakuan yang buruk dari bos yang memotong gaji dan kemudian memecatnya.

Merawat ibunya yang sakit, Arthur pun tak diakui oleh ayahnya, Thomas Wayne, calon walikota Gotham. Ia pun pernah dipukul oleh tiga orang pemuda kaya di kereta yang membuatnya memuntahkan peluru dari pistol pemberian temannya. Arthur yang happy mulai menjadi brutal!

Kasus penembakan membuat masyarakat tercekam. Bagi orang kaya, aksi itu tanda seorang pengecut. Namun bagi orang miskin, pembunuhan itu simbol perlawanan. Sejak itu, masyarakat yang melakukan protes terhadap kebijakan elit di Gotham mengenakan topeng badut.

Jurang kemiskinan membawa mereka ke jalanan dan menjatuhkan keteraturan. Arthur menemukan jati dirinya dan mengatakan di depan televisi yang mengundangnya bahwa ia tidak mau berpura-pura dengan kondisi yang ada. Film ini menunjukkan bagaimana orang yang disepelekan menjadi jahat. Ia menembaki presenter tersebut saat acara sedang live.

Baginya televisi, representasi orang kaya, hanya menghadirkannya untuk bahan tertawaan. Arthur kemudian menjadi Joker, seorang komedian yang menganggap kematian adalah hal yang lucu. Sang presenter dalam acara TV tersebut sempat mengatakan pembunuhan bukan hal yang layak ditertawakan.

Arthur membalas bahwa itu adalah perasaan subjektifnya. “Kalau kalian semua memilih tidak peduli dengan kemiskinan, maka ikhlaskan saya untuk berlaku tidak peduli pada pembunuhan.” Bagi Joker, itu fair. Maka, nasihat ibunya bahwa ia harus memberi keceriaan kepada orang berubah menjadi keharusan memberi pelampiasan.

Dalam film, pembunuhan dirayakan dengan tarian dan musik. Mulanya, tertawa adalah reaksi kelainan yang Arthur terima. Namun, tertawa orang-orang terhadapnya membuat ia merasa disepelekan.

Artinya, tertawa sebagai kelainan kimiawi berbeda dengan tertawa sebagai ekspresi sinis dunia sosial. Sekalipun dialami oleh otak yang sama, Joker bisa membedakannya. Maka, ia mengubah tertawanya menjadi ekspresi yang melampaui keduanya. Dengan bersikap keji, tertawanya adalah ekstasi kepuasaan dan perasaan bahwa betapa signifikan dirinya dalam masyarakat. Seorang yang tidak dianggap mendadak menjadi ada.

Usai menonton Joker, saya jadi berpikir, siapa saja orang yang pernah saya sakiti. Pertanyaan ini mesti menjadi titik tolak refleksi siapapun yang sudah menonton Joker. Kekejaman yang ia timbulkan bukanlah penghalang bagi kita untuk bersimpati pada Joker. Bahwa ada banyak orang-orang di luar sana yang sedang ditindas, itu lah pengingat pertama yang muncul dalam benak.

Hidup dalam pluralitas, ada banyak keberagamaan yang kita temui namun kerap ditertawakan atau dilecehkan. Dalam Joker, kita memahami betapa pentingnya mendengarkan atau menyelami pengalaman orang lain. Tentang ini, ada tayangan yang sangat menyentuh.

Kepada Psikiaternya, Arthur mengungkapkan rasa kecewa karena Psikiaternya tidak pernah mendengarkannya. Yang dilakukan Psikiater hanyalah mengajukan pertanyaan yang sama; apa kabarmu dan bagaimana perasaanmu?

Kekeringan relasinya dengan psikiater terjawab dalam kenyataan bahwa kota sedang susah dan Psikiater mengeluhkan pemotongan anggaran layanan kesehatan. Terhadap Psikiater yang mengeluhkan, Arthur bertanya, bagaimana dengan pengobatannya ke depan. Kebrutalannya bukan semata karena situasi psikisnya yang labil, tetapi juga realitas sosial yang tidak mendukung. Joker menjadi film imajinatif yang punya pijakan sosial yang riil.

Di kita, aksi demo dalam beberapa pekan yang dimotori mahasiswa dan masyarakat membawa tuntutan ketidakpuasan. Ketika saya menanyai beberapa mahasiswa yang terlibat, mereka mengatakan bahwa massa sedemikian cair. Ada yang turun dengan kesadaran penuh tentang pasal kontroversial yang harus ditolak, sehingga lingkupnya hanya sebatas intelektual.

Ada pula yang turun dengan problematika penindasan menahun yang mereka terima, sehingga lingkupnya sampai pada pengalaman. Bahkan ada yang tidak tahu apa-apa, namun tetap ingin turun ke jalan, karena mendapatkan pengalaman diskriminatif dalam konteks yang sepenuhnya  “sehari-hari”.

Apakah Indonesia saat ini sedang mengalami situasi yang mirip seperti di Gotham? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena yang mau disasar adalah premis sederhana bahwa kebrutalan dapat tumbuh dari ketidakadilan.

Masyarakat kita barangkali sedang mengarah ke sana. Joker menjadi film yang memberikan inspirasi bagi praktik protes yang brutal, sehingga film ini begitu ditakuti. Bila kita hanya terpaku pada sisi ini, Joker menjadi film yang dikutuk. Beberapa keluarga korban penembakan brutal di Amerika memprotes adanya film ini, karena Joker mendapatkan simpati. Ini adalah perasaan yang bisa diterima.

Namun, pelajaran terbaik dari Joker bukan pada sisi brutalnya, melainkan pada pentingnya sikap mendengarkan satu sama lain. Sebab, kecendrungan kita mengutuki kejahatan membuat kita berhenti bertanya mengapa orang tersebut menjadi jahat.

Saya melihat, mendengarkan adalah kompetensi yang sulit di tengah arus informasi yang silang sengkarut. Minimnya kompetensi “mendengarkan” membuat orang saling curiga. Ketika prasangka berkembang, kita mudah jatuh pada kecendrungan untuk melecehkan kelompok yang berbeda pandangan. Ini tergambar jelas dalam media sosial akhir-akhir ini.

Karena keterbukaan, begitu banyak data yang kita terima bak sekelebatan cahaya membuat kita merasa tahu segala hal; tentang sesuatu atau mengenai orang lain. Padahal, informasi yang banyak membuat kita kebingungan, sehingga kecendrungan alamiah untuk mengambil informasi yang sesuai dengan keinginan teraktivasi.

Pada titik ini terjadi gejala miskomunikasi akut yang membuat orang paling rentan tersisihkan di negara ini. Siapa mereka? Tak perlu juga kita menjawabnya. Yang jelas, ada banyak orang yang menderita karena ditindas secara sistematis selama bertahun-tahun.

Sederhananya, bila ada yang tertawa terbahak-bahak, jangan serta merta merasa tersinggung, melempar pertanyaan “what’s funny”, dan mendaratkan bogem ke mukanya. Sebab kalau sang korban menembakkan peluru, aksi dan reaksi berikutnya akan membuat masyarakat kita segera menjadi Gotham.

Kasus akhir-akhir ini di Indonesia adalah gejala aksi dan reaksi yang saling melingkar dan terus melaju itu. Kita butuh berhenti sejenak, mengambil jarak, dan mulai saling mendengarkan. Jangan sampai satu dua kecerobohan memunculkan “satu hari sial” dan membuat semua orang menjadi jahat.

Lulusan Bahasa Jerman yang kemudian menekuni Linguistik Budaya. Minat studi pada CDA dan Semiotika. Pecinta Trans Jakarta yang tinggal di selatan ibu kota.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…