Sabtu, Oktober 31, 2020

Realitas Joker dan Situasi Jalanan Kita

Mengapa Tuhan Tidak Bersemayam Di Atas ‘Arsy?

Ada salah satu ayat al-Quran menyatakan bahwa Allah Swt yang Mahakasih itu istawâ ‘alâ al-’Arsy. Bunyi ayatnya, al-Rahmân ‘ala al-‘Arsyi istawâ (QS 20: 5)....

Masih Perlukah Belajar Ke al-Azhar?

Manakala disebut kata al-Azhar, yang terbayang di benak banyak orang pada umumnya ialah ajaran Islam yang moderat, ulama-ulama hebat, dinamika keilmuan yang hidup, masjid...

Sebuah Rumah Bernama Pleiku Stadium

Kebanyakan dari kita akan menganggap bahwa sepak bola adalah semua kegiatan yang berlangsung di dalam stadion—walau tentu saja hal itu benar—namun tidak semua, hanyalah...

Clifford Geertz dan Manusia-Manusia Panggung

Clifford Geertz pernah menulis "The Theatre State" yang barangkali banyak orang abai pada pandangannya itu. Mengapa abai? Ya, karena banyak orang sering hanya fokus...
Fandis Nggarang
Lulusan Bahasa Jerman yang kemudian menekuni Linguistik Budaya. Minat studi pada CDA dan Semiotika. Pecinta Trans Jakarta yang tinggal di selatan ibu kota.

Ketika Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) tertawa dalam durasi yang lama, saya berpikir ia sedang berlatih akting. Ketika wajah psikiater muncul, saya bertanya, mengapa ia tertawa? Ternyata, kebiasaannya tertawa tanpa sebab muncul karena penyakit otaknya.

Tertawanya bisa menjadi-jadi, sehingga ia harus kendalikan dirinya untuk berhenti tertawa dengan memegang tenggorokan. Orang yang berada di sekitarnya selalu merasa tersinggung, ketika penyakitnya itu kambuh. Mereka selalu bertanya “What’s funny” sambil melempar sebogem pukulan ke arahnya. Situasi Gotham yang kacau membuat masyarakat cepat tersinggung.

Arthur adalah representasi masyarakat yang marjinal dan terbuang. Lahir dengan gangguan mental, ia hanya bisa menjadi badut jalanan. Beberapa adegan menunjukkan bagaimana ia dikerjain oleh sekelompok anak-anak beramai-ramai. Ia juga mendapatkan perlakuan yang buruk dari bos yang memotong gaji dan kemudian memecatnya.

Merawat ibunya yang sakit, Arthur pun tak diakui oleh ayahnya, Thomas Wayne, calon walikota Gotham. Ia pun pernah dipukul oleh tiga orang pemuda kaya di kereta yang membuatnya memuntahkan peluru dari pistol pemberian temannya. Arthur yang happy mulai menjadi brutal!

Kasus penembakan membuat masyarakat tercekam. Bagi orang kaya, aksi itu tanda seorang pengecut. Namun bagi orang miskin, pembunuhan itu simbol perlawanan. Sejak itu, masyarakat yang melakukan protes terhadap kebijakan elit di Gotham mengenakan topeng badut.

Jurang kemiskinan membawa mereka ke jalanan dan menjatuhkan keteraturan. Arthur menemukan jati dirinya dan mengatakan di depan televisi yang mengundangnya bahwa ia tidak mau berpura-pura dengan kondisi yang ada. Film ini menunjukkan bagaimana orang yang disepelekan menjadi jahat. Ia menembaki presenter tersebut saat acara sedang live.

Baginya televisi, representasi orang kaya, hanya menghadirkannya untuk bahan tertawaan. Arthur kemudian menjadi Joker, seorang komedian yang menganggap kematian adalah hal yang lucu. Sang presenter dalam acara TV tersebut sempat mengatakan pembunuhan bukan hal yang layak ditertawakan.

Arthur membalas bahwa itu adalah perasaan subjektifnya. “Kalau kalian semua memilih tidak peduli dengan kemiskinan, maka ikhlaskan saya untuk berlaku tidak peduli pada pembunuhan.” Bagi Joker, itu fair. Maka, nasihat ibunya bahwa ia harus memberi keceriaan kepada orang berubah menjadi keharusan memberi pelampiasan.

Dalam film, pembunuhan dirayakan dengan tarian dan musik. Mulanya, tertawa adalah reaksi kelainan yang Arthur terima. Namun, tertawa orang-orang terhadapnya membuat ia merasa disepelekan.

Artinya, tertawa sebagai kelainan kimiawi berbeda dengan tertawa sebagai ekspresi sinis dunia sosial. Sekalipun dialami oleh otak yang sama, Joker bisa membedakannya. Maka, ia mengubah tertawanya menjadi ekspresi yang melampaui keduanya. Dengan bersikap keji, tertawanya adalah ekstasi kepuasaan dan perasaan bahwa betapa signifikan dirinya dalam masyarakat. Seorang yang tidak dianggap mendadak menjadi ada.

Usai menonton Joker, saya jadi berpikir, siapa saja orang yang pernah saya sakiti. Pertanyaan ini mesti menjadi titik tolak refleksi siapapun yang sudah menonton Joker. Kekejaman yang ia timbulkan bukanlah penghalang bagi kita untuk bersimpati pada Joker. Bahwa ada banyak orang-orang di luar sana yang sedang ditindas, itu lah pengingat pertama yang muncul dalam benak.

Hidup dalam pluralitas, ada banyak keberagamaan yang kita temui namun kerap ditertawakan atau dilecehkan. Dalam Joker, kita memahami betapa pentingnya mendengarkan atau menyelami pengalaman orang lain. Tentang ini, ada tayangan yang sangat menyentuh.

Kepada Psikiaternya, Arthur mengungkapkan rasa kecewa karena Psikiaternya tidak pernah mendengarkannya. Yang dilakukan Psikiater hanyalah mengajukan pertanyaan yang sama; apa kabarmu dan bagaimana perasaanmu?

Kekeringan relasinya dengan psikiater terjawab dalam kenyataan bahwa kota sedang susah dan Psikiater mengeluhkan pemotongan anggaran layanan kesehatan. Terhadap Psikiater yang mengeluhkan, Arthur bertanya, bagaimana dengan pengobatannya ke depan. Kebrutalannya bukan semata karena situasi psikisnya yang labil, tetapi juga realitas sosial yang tidak mendukung. Joker menjadi film imajinatif yang punya pijakan sosial yang riil.

Di kita, aksi demo dalam beberapa pekan yang dimotori mahasiswa dan masyarakat membawa tuntutan ketidakpuasan. Ketika saya menanyai beberapa mahasiswa yang terlibat, mereka mengatakan bahwa massa sedemikian cair. Ada yang turun dengan kesadaran penuh tentang pasal kontroversial yang harus ditolak, sehingga lingkupnya hanya sebatas intelektual.

Ada pula yang turun dengan problematika penindasan menahun yang mereka terima, sehingga lingkupnya sampai pada pengalaman. Bahkan ada yang tidak tahu apa-apa, namun tetap ingin turun ke jalan, karena mendapatkan pengalaman diskriminatif dalam konteks yang sepenuhnya  “sehari-hari”.

Apakah Indonesia saat ini sedang mengalami situasi yang mirip seperti di Gotham? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena yang mau disasar adalah premis sederhana bahwa kebrutalan dapat tumbuh dari ketidakadilan.

Masyarakat kita barangkali sedang mengarah ke sana. Joker menjadi film yang memberikan inspirasi bagi praktik protes yang brutal, sehingga film ini begitu ditakuti. Bila kita hanya terpaku pada sisi ini, Joker menjadi film yang dikutuk. Beberapa keluarga korban penembakan brutal di Amerika memprotes adanya film ini, karena Joker mendapatkan simpati. Ini adalah perasaan yang bisa diterima.

Namun, pelajaran terbaik dari Joker bukan pada sisi brutalnya, melainkan pada pentingnya sikap mendengarkan satu sama lain. Sebab, kecendrungan kita mengutuki kejahatan membuat kita berhenti bertanya mengapa orang tersebut menjadi jahat.

Saya melihat, mendengarkan adalah kompetensi yang sulit di tengah arus informasi yang silang sengkarut. Minimnya kompetensi “mendengarkan” membuat orang saling curiga. Ketika prasangka berkembang, kita mudah jatuh pada kecendrungan untuk melecehkan kelompok yang berbeda pandangan. Ini tergambar jelas dalam media sosial akhir-akhir ini.

Karena keterbukaan, begitu banyak data yang kita terima bak sekelebatan cahaya membuat kita merasa tahu segala hal; tentang sesuatu atau mengenai orang lain. Padahal, informasi yang banyak membuat kita kebingungan, sehingga kecendrungan alamiah untuk mengambil informasi yang sesuai dengan keinginan teraktivasi.

Pada titik ini terjadi gejala miskomunikasi akut yang membuat orang paling rentan tersisihkan di negara ini. Siapa mereka? Tak perlu juga kita menjawabnya. Yang jelas, ada banyak orang yang menderita karena ditindas secara sistematis selama bertahun-tahun.

Sederhananya, bila ada yang tertawa terbahak-bahak, jangan serta merta merasa tersinggung, melempar pertanyaan “what’s funny”, dan mendaratkan bogem ke mukanya. Sebab kalau sang korban menembakkan peluru, aksi dan reaksi berikutnya akan membuat masyarakat kita segera menjadi Gotham.

Kasus akhir-akhir ini di Indonesia adalah gejala aksi dan reaksi yang saling melingkar dan terus melaju itu. Kita butuh berhenti sejenak, mengambil jarak, dan mulai saling mendengarkan. Jangan sampai satu dua kecerobohan memunculkan “satu hari sial” dan membuat semua orang menjadi jahat.

Fandis Nggarang
Lulusan Bahasa Jerman yang kemudian menekuni Linguistik Budaya. Minat studi pada CDA dan Semiotika. Pecinta Trans Jakarta yang tinggal di selatan ibu kota.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.