OUR NETWORK

Ramai-Ramai Manhaj Salaf

Tanpa kelapangan jiwa dan dialog yang tulus, perbedaan menjadi wahana adu fatwa dan saling klaim sesat-menyesatkan

Manhaj salaf sedang digemari. Hal ini dilandasi semangat puritanisasi Islam di tengah kondisi ketidakberdayaan umat di dunia yang sedang kacau. Selain itu, ada gejala eskapisme, lari dari masa lalu yang kelam dan hampa ke pangkuan agama. Bergaung aforisme “Islam sebagai solusi” yang disimplifikasi. Tumbuh luapan semangat menghidupkan sunnah Nabi pada wilayah simbol keseharian, seraya melupakan sunnah Nabi pada dimensi substantif, semisal membangun tatanan masyarakat madani dan peradaban utama (khairu ummah).

Al Yasa Abubakar (2015) membagi model pemahaman fikih menjadi tiga: salafiyah, mazhabiyah, dan tajdidiyah. Pertama, mereka yang merujuk langsung pada al-Qur’an dan Sunnah tanpa terikat pada mazhab tertentu disebut salafiyah. Kelompok yang menolak rasionalitas dalam agama ini menyebut diri pengikut sunnah.

Kedua, kelompok mazhabiyah memahami al-Qur’an dan Sunnah dengan menggunakan pemahaman yang dikodifikasikan imam mazhab. Sering menyebut diri ahlussunnah waljamaah. Ketiga, kategori tajdidiyah adalah yang merujuk pemahaman al-Qur’an dan Sunnah dengan melakukan ijtihad atau pembaharuan dan tidak berafiliasi mazhab.

Pengikut manhaj salaf disebut sebagai salafi. Khaled Abou El Fadl (2007) menyatakan bahwa salafisme adalah gerakan Islam yang mengharuskan Muslim untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, serta penafsiran terhadapnya mengikuti ulama al-salaf al-shalih. Tidak adanya definisi mutlak tentang siapa yang dimaksud al-salaf al-shalih menjadi sebab tumbuhnya ragam varian salafi. Manhaj ini punya daya pikat karena seolah memiliki otoritas paham agama, sebagai pewaris Islam yang dibawa Nabi Muhammad sebagaimana dipraktekkan Muslim periode awal.

Legitimasi manhaj salaf ini diperkuat oleh beberapa ayat yang menyebut keistimewaan sahabat, semisal kalimat “al-sabiquna al-awwalun” (Qs At-Taubah: 100) atau hadis Bukhari dan Muslim, “khairu al-nas qarni, tsumma allazina yalunahum, tsumma allazina yalunahum”. Upaya untuk mengikuti dan menafsirkan praktik keagamaan di masa keemasan itu sangat bervariasi. Hal ini menjadi niscaya karena tidak ada yang punya legalitas untuk mengaku sebagai yang paling mengikuti jejak Nabi.

Pemahaman tentang siapa yang tergolong generasi salaf ini tidak tunggal, ada yang mengakui salaf hanya periode nabi dan sahabat, dan ada juga yang memasukkan era nabi dan tiga generasi setelahnya: sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin. Generasi setelah itu disebut sebagai khalaf (lawan kata salaf)yang tidak lagi mengalami internalisasi praktik ideal Islam. Pada fase khalaf yang ditandai dengan kemunculan para imam mazhab ini, pemahanan agama mulai menggunakan dasar argumen, metode, alasan, dan jalan pikiran tertentu.

Kalangan salafi berdakwah di kalangan internal umat Islam supaya menjadi Muslim ideal yang bermanhaj salaf. Kontestasi tafsir manhaj salaf al-shalih sering terjadi di antara sesama seraya menyebut yang di luar kelompoknya bukan al-firqah al-najiyah (golongan yang selamat). Perebutan tafsir itu bahkan disertai dengan sumpah mubahalah untuk membuktikan klaim kebenaran, serta tahzir dan hajr al-mubtadi (mengisolasi atau menyingkirkan pelaku bid’ah). Padahal, salah satu inti ajaran Nabi terletak pada semangat ukhuwah.

Secara geneologis, fenomena absolutisasi paham agama ini bisa dilacak pada Imam Ahmad bin Hanbal sebagai ahl al-hadis dengan pemahaman literal-tekstual. Paham ini semakin populer pada abad ke-12 Hijriah, ketika Ibnu Taimiyah melihat kemunduran Islam setelah jatuhnya Dinasti Abbasiyah dan invasi Mongol. Ibnu Taimiyah menyerukan untuk kembali pada kemurnian Islam, sebagaimana dipraktekkan Nabi dan para sahabat. Diteruskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan muridnya.

Pada abad ke-18 M, Muhammad bin Abdul Wahab mengembangkan purifikasi di Saudi dengan penekanan pada akidah. Ibnu Wahab memurnikan praktik kemusyrikan, bid’ah, takhayul, khurafat, singkretisme kaum sufi dan tradisional. Kalangan wahabi ini sering menyebut diri sebagai salafiyyun atau almuwahhidun.

Mulanya dakwah dilakukan dengan pendekatan lunak, dan mengeras ketika gerakan ini bersenyawa dengan politik, terjadi persinggungan Ibnu Wahab dengan Ibnu Sa’ud. Berbagai artefak, monumen, makan, situs sejarah, dihancurkan. Syeikh dan Amir ini berperan penting dalam perkembangan Arab Saudi modern, yang bersimbol syahadah dan pedang.

Dekade 1970-an ketika harga minyak naik tiga kali lipat, Saudi membangun banyak sarana keagamaan, lembaga pendidikan, dan tempat ibadah. Termasuk mendirikan perguruan tinggi dan mendatangkan para doktor dari Mesir.

Terjadi perkawinan paham Ikhwanul Muslimin dan Wahabisme, melahirkan salafi haraki/sururi, dengan tokohnya Muhammad Surur al-Nayyef Zainal Abidin. Mulai muncul pertentangan antara wahabi yang murni berdakwah dan taat pada ulil amri dengan salafi yang terlibat pergerakan politik dan oposisi. Pada tahap berikutnya melahirkan salafi jihadi.

Fenomena salafi-wahabi modern di Indonesia menggejala sejak era 1980-an. Umumnya diinisiasi lulusan LIPIA Jakarta dan ma’had salafi di Saudi dan Yaman. Lembaga faundingnya antara lain Kuwait Charitable Foundation, Jam’iyyat Ihya’ al-Turats al-Islamiy, dan The Qatari Sheikh Eid Charity Foundation.

Selain pengajian dan pesantren, dakwah melalui Majalah As Sunnah, Majalah Al-Furqon, dan media daring (semisal salafy.or.id dan muslim.or.id) juga berhasil. Mayoritas salafi di Indonesia bercorak salafi yamani yang dipimpin Muhammad Umar as-Sewed dan Lukman Ba’abduh hingga Ja’far Umar Thalib, serta para alumni Madrasah Salafiyah Dar al-Hadis di Desa Dammaj, Kota Sa’dah, Yaman, pimpinan Muqbil bin Hadi al-Wadi’i.

Belakangan, gejala salafiyah yang bercorak gerakan politik juga menguat. Haedar Nashir dalam Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia (2013) mencatat persemaian gerakan ini, yang mencakup tentang sistem keyakinan hingga dinamika sosial-keagamaan yang memberi ruang pertumbuhan.

Salafiyah politik ini dapat dilacak pada pemikiran Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, Sayyid Qutub, hingga Al-Maududi. Mereka mengusung paham integralisme Islam, sebagai sebuah sistem nilai yang komprehensif. Paham ini menganggap Islam sebagai ideologi politik, yang terkadang mereduksi Islam dan mengabaikan konteks historis.

Arus kecil ini memelihara harapan untuk menghadirkan formalisasi syariat di ruang publik, yang mengatur segenap tata kehidupan secara rigid. Penanaman idealisasi dogma Islam terus disuarakan. Absolutisasi pemahaman keislaman, menurut Haedar, selalu menjadi titik rawan lahirnya fanatisme sektarian yang memicu perseteruan. Terlebih jika perbedaan tafsir itu bersenyawa dengan urusan kepentingan politik, maka wilayah dan dampak eskalasinya akan semakin meluas.

Tanpa kelapangan jiwa dan dialog yang tulus, perbedaan menjadi wahana adu fatwa dan saling klaim sesat-menyesatkan, bahkan kafir-mengkafirkan. Dalam kemelut ini, umat Islam hanya menjadi buih yang semakin terbelakang. Padahal Islam sebagai institusi yang multidimensi merupakan ajaran universal yang membawa misi rahmatan lil alamin. Pada akhirnya, semua kita (baik salafiyah, mazhabiyah, dan tajdidiyah) meniscayakan sikap moderat dan menjadikan akhlak sebagai pemandu.

Wartawan Suara Muhammadiyah, Pegiat Komunitas Masa Kini Yogyakarta, Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…