Minggu, Februari 28, 2021

Pesantren Digital, Jihad Masa Kini

Selamat Datang Jokowikrasi

Pada hari Kamis (26/9) Presiden Jokowi dikabarkan bertemu dengan 40 tokoh dari beragam latar belakang, akademisi, seniman, budayawan, ahli politik, ahli hukum dan ahli...

Siapa Sosok Guru Ranggawarsita?

Mendengar nama Ranggawarsita, kilas ingatan pasti membayang gelar agung yang disandang “Sang Pujangga besar Kraton Surakarta”. Begitu pula dengan nama Masjid Tegalsari, barang pasti...

PB Djarum Pamit, KPAI Puas?

Beberapa waktu lalu, dunia sepak bola Indonesia berduka. Kekalahan Tim Nasional atas Malaysia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022 yang disusul arogansi sebagian suporter...

Kepulangan Mbah Moen, Ihwal yang Tak Dibicarakan

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, pada Selasa, 6 Agustus 2019, dinding linimasa media sosial warga Indonesia tampak kelabu dan berselimut duka. Penyebabnya tak...
Bisyrul Hafi
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, penulis lepas yang tertarik mengkaji sosial budaya, serta eksplorasi relevansi Islam terhadap perkembangan zaman, sesekali menulis tentang isu-isu politik.

Laju kemajuan dunia dan teknologi makin tidak terbendung dan sudah barang pasti membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Utamanya adalah akses keilmuan dan informasi yang mengalir deras tersebar luas dan dapat diakses di mana pun dan kapan pun kita berada.

Setiap hal baru sangat mudah kita akses. Dengan smartphone, kita bisa melihat secara langsung keadaan di belahan dunia lain. Dengan usapan jari di layar tablet, kita sudah bisa asyik masyuk menikmati luasnya samudra ilmu, atau bahkan dengan wasilah perangkat lain yang terus menambah ilmu dan pengetahuan di otak kita.

Ditambah lagi, menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah pemuda di Indonesia sebesar 63,36 juta jiwa atau 1 dari 4 orang Indonesia adalah pemuda. Jumlah yang sangat signifikan, atau 2.6 kali lipat total populasi Australia atau dua kali lipat total populasi Malaysia di segala kelompok usia.

Dengan didominasinya usia produktif membuat mereka terlibat aktif dalam merespons perkembangan zaman. Dampak sosial dari permasalahan ini sudah dapat kita rasakan. Hal ini dapat dilihat dari sebuah realitas nyata, yang menunjukkan pergeseran tingkah laku manusia, salah satunya menjamurnya budaya instan yang menjangkit manusia.

Menurut Juneman Abraham, psikolog sosial dari Universitas Bina Nusantara, asbab musabab yang memicu budaya instan adalah serbuan tuntutan hidup, kompetisi, serta semarak dan serba cepatnya perubahan di lingkungan. Sementara itu, manusia secara biologis maupun psikologis memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengolah informasi, melakukan refleksi/permenungan, dan merencanakan adaptasi.

Jalan pintas lalu tampak menjadi pilihan yang “realistik dan rasional” di saat orang tidak mampu mengimbangi serbuan perubahan tersebut.

Hal ini menjadi celah yang mengkhawatirkan bagi tunas-tunas bangsa, mengingat arus informasi yang tidak terbendung yang tidak diimbangi dengan budaya tabayun (klarifikasi) dan budaya berguru langsung kepada seseorang yang mempunyai kapabilitas dalam menyampaikan suatu ilmu, sangat mudah disusupi oleh pemahaman-pemahaman menyimpang, yang menjadi titik awal radikalisme.

Dari sini kita harus jernih dalam melihat dan mengidentifikasi persoalan bahwa banyak milenial belajar agama melalui media virtual yang jauh dari tradisi keilmuan agama. Proses instan membuat  Mereka secara otodidak merujuk langsung melalui Google, melalui media social dan media lainnya.

Hal ini berbanding terbalik dari tradisi keagamaan para santri, yang umumnya wajib langsung berguru kepada Kiai/Ustaz, bertahun-tahun mengambil ilmu dan teladan langsung dari Kiai sehingga yang terjadi adalah tersambung sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan antara guru dan murid yang di mana sanad kiai dengan kitab yang diajarkan tersambung dengan Rasukullah.

Hal inilah yang menjadi fondasi awal sebagai proses validasi ideal bagi seseorang yang belajar agama. Imam Abdullah Ibn Mubarok berkata,”Al isnadu minaddin walaw laa isnaad laqaala man syaa a maa syaa a.”

الاسناد من الدين ولو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Tersambungnya sanad adalah bagian dari agama; kalua bukan karena isnad, maka setiap orang akan berbicara sesuai dengan kehendaknya.”

Di sisi lain, hal ini juga menjadi autokritik bagi pesantren agar tidak terkesan ekslusif bagi orang awam. Oleh karena itu, pesantren harus terus bersolek demi meraih masa kaum muda yang dirasa makin tidak mengenal pesantren karena dianggap jauh dari kata modern, sehingga terjadi gap yang jauh antara kaum milenial dan pesantren.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia mempunyai peran penting dalam mengawal dan membentuk karakter bangsa Indonesia. KH. Mustofa Bisrim, ulama karismatik asal Rembang, menjelaskan pesantren memiliki keistimewaan tersendiri dalam menerapkan kurikulum pendidikannya, yaitu pesantren tidak hanya memberikan agenda pengajaran (ta’lim) tentang keilmuan, akan tetapi pesantren juga ikut serta dalam mendidik (tarbiyah) akhlak dan bagaimana mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari agar bermanfaat.

Barangkali hal ini yang terlihat dari persona Gus Mus yang tidak hanya menyampaikan pesan-pesan sejuk ilmu agama dengan tutur kata atau tulisan, namun lebih dari itu beliau berdakwah dengan akhlak al-karimah, menebar kasih sayang terhadap sesama dengan memanusiakan manusia.

Berangkat dari faktor di atas, tentu kita tidak bisa memaksa kaum milenial untuk belajar langsung bertahun-tahun di pesantren untuk mendalam agama, melainkan pesantren sebagai poros utama dalam mempelajari ilmu agama dan akhlak harus terjun langsung, jihad melawan pemikiran-pemikiran ekstrem yang menyalahi kodrat dari agama itu sendiri, yaitu rahmatan lil alamin.

Dengan khazanah kelimuan pesantren, yang kaya akan ilmu pengetahuan dan akhlak budi pekerti, dapat dijadikan brand utama dalam menyuarakan pemahaman Islam yang moderat sesuai dengan nilai-nilai pokok Ahlus Sunnah wal jama’ah. Dan sisanya adalah bagaimana kita membungkus pemahaman ini dengan kemasan kekinian agar pesantren digital diminati kaum milenial yang selama hidupnya tidak pernah mengenal pesantren.

Maka dari itu, sudah saatnya pesantren turun gunung bergegas dari zona nyaman ikut babat alas membasmi hama-hama yang ada di dunia digital dengan menanamkan benih-benih dan ruh pesantren yang moderat dengan pemahaman ahlus Sunnah wal jama’ah.

Jika dulu KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad untuk melawan penjajah, maka sudah saantya para penerus generasi muda melanjutkan perjuangan beliau dengan turut aktif berjihad di dunia digital, menebarkan Islam yang ramah, santun, bermartabat dan Insyaallah kelak akan terwujud media digital yang rahmatan lil alamin.

Bisyrul Hafi
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, penulis lepas yang tertarik mengkaji sosial budaya, serta eksplorasi relevansi Islam terhadap perkembangan zaman, sesekali menulis tentang isu-isu politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.