Senin, Januari 25, 2021

Pesantren Digital, Jihad Masa Kini

Lingkungan Hidup dan Pola Pikir Tersumbat

Lingkungan hidup merupakan unsur yang sangat penting dalam melangsungkan kehidupan. Bahkan, baik itu unsur biotik yang terdiri dari berbagai jenis makhluk hidup dan unsur...

Refleksi 5 Tahun Jokowi dalam SDGs

Sustainable Development Goals (SDGs) adalah pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan. Pembangunan yang mampu menjaga peningkatan kualitas hidup dari satu generasi...

Anies Baswedan, Pemimpin Tanpa Kekuatan Politik

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat ini tak ada habis-habisnya dalam pemberitaan di media. Tak jauh beda dengan pendahulunya yaitu Ahok. Bedanya, yang diberitakan...

Dinamika Politik Islam di Indonesia

Masa orde lama yang dimulai saat negara Indonesia terbentuk menunjukkan keharmonisan hubungan antara pemerintahan dan agama (Islam). Hubungan baik tersebut diperkuat dengan dibentuknya Kementrian...
Bisyrul Hafi
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, penulis lepas yang tertarik mengkaji sosial budaya, serta eksplorasi relevansi Islam terhadap perkembangan zaman, sesekali menulis tentang isu-isu politik.

Laju kemajuan dunia dan teknologi makin tidak terbendung dan sudah barang pasti membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Utamanya adalah akses keilmuan dan informasi yang mengalir deras tersebar luas dan dapat diakses di mana pun dan kapan pun kita berada.

Setiap hal baru sangat mudah kita akses. Dengan smartphone, kita bisa melihat secara langsung keadaan di belahan dunia lain. Dengan usapan jari di layar tablet, kita sudah bisa asyik masyuk menikmati luasnya samudra ilmu, atau bahkan dengan wasilah perangkat lain yang terus menambah ilmu dan pengetahuan di otak kita.

Ditambah lagi, menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah pemuda di Indonesia sebesar 63,36 juta jiwa atau 1 dari 4 orang Indonesia adalah pemuda. Jumlah yang sangat signifikan, atau 2.6 kali lipat total populasi Australia atau dua kali lipat total populasi Malaysia di segala kelompok usia.

Dengan didominasinya usia produktif membuat mereka terlibat aktif dalam merespons perkembangan zaman. Dampak sosial dari permasalahan ini sudah dapat kita rasakan. Hal ini dapat dilihat dari sebuah realitas nyata, yang menunjukkan pergeseran tingkah laku manusia, salah satunya menjamurnya budaya instan yang menjangkit manusia.

Menurut Juneman Abraham, psikolog sosial dari Universitas Bina Nusantara, asbab musabab yang memicu budaya instan adalah serbuan tuntutan hidup, kompetisi, serta semarak dan serba cepatnya perubahan di lingkungan. Sementara itu, manusia secara biologis maupun psikologis memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengolah informasi, melakukan refleksi/permenungan, dan merencanakan adaptasi.

Jalan pintas lalu tampak menjadi pilihan yang “realistik dan rasional” di saat orang tidak mampu mengimbangi serbuan perubahan tersebut.

Hal ini menjadi celah yang mengkhawatirkan bagi tunas-tunas bangsa, mengingat arus informasi yang tidak terbendung yang tidak diimbangi dengan budaya tabayun (klarifikasi) dan budaya berguru langsung kepada seseorang yang mempunyai kapabilitas dalam menyampaikan suatu ilmu, sangat mudah disusupi oleh pemahaman-pemahaman menyimpang, yang menjadi titik awal radikalisme.

Dari sini kita harus jernih dalam melihat dan mengidentifikasi persoalan bahwa banyak milenial belajar agama melalui media virtual yang jauh dari tradisi keilmuan agama. Proses instan membuat  Mereka secara otodidak merujuk langsung melalui Google, melalui media social dan media lainnya.

Hal ini berbanding terbalik dari tradisi keagamaan para santri, yang umumnya wajib langsung berguru kepada Kiai/Ustaz, bertahun-tahun mengambil ilmu dan teladan langsung dari Kiai sehingga yang terjadi adalah tersambung sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan antara guru dan murid yang di mana sanad kiai dengan kitab yang diajarkan tersambung dengan Rasukullah.

Hal inilah yang menjadi fondasi awal sebagai proses validasi ideal bagi seseorang yang belajar agama. Imam Abdullah Ibn Mubarok berkata,”Al isnadu minaddin walaw laa isnaad laqaala man syaa a maa syaa a.”

الاسناد من الدين ولو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Tersambungnya sanad adalah bagian dari agama; kalua bukan karena isnad, maka setiap orang akan berbicara sesuai dengan kehendaknya.”

Di sisi lain, hal ini juga menjadi autokritik bagi pesantren agar tidak terkesan ekslusif bagi orang awam. Oleh karena itu, pesantren harus terus bersolek demi meraih masa kaum muda yang dirasa makin tidak mengenal pesantren karena dianggap jauh dari kata modern, sehingga terjadi gap yang jauh antara kaum milenial dan pesantren.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia mempunyai peran penting dalam mengawal dan membentuk karakter bangsa Indonesia. KH. Mustofa Bisrim, ulama karismatik asal Rembang, menjelaskan pesantren memiliki keistimewaan tersendiri dalam menerapkan kurikulum pendidikannya, yaitu pesantren tidak hanya memberikan agenda pengajaran (ta’lim) tentang keilmuan, akan tetapi pesantren juga ikut serta dalam mendidik (tarbiyah) akhlak dan bagaimana mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari agar bermanfaat.

Barangkali hal ini yang terlihat dari persona Gus Mus yang tidak hanya menyampaikan pesan-pesan sejuk ilmu agama dengan tutur kata atau tulisan, namun lebih dari itu beliau berdakwah dengan akhlak al-karimah, menebar kasih sayang terhadap sesama dengan memanusiakan manusia.

Berangkat dari faktor di atas, tentu kita tidak bisa memaksa kaum milenial untuk belajar langsung bertahun-tahun di pesantren untuk mendalam agama, melainkan pesantren sebagai poros utama dalam mempelajari ilmu agama dan akhlak harus terjun langsung, jihad melawan pemikiran-pemikiran ekstrem yang menyalahi kodrat dari agama itu sendiri, yaitu rahmatan lil alamin.

Dengan khazanah kelimuan pesantren, yang kaya akan ilmu pengetahuan dan akhlak budi pekerti, dapat dijadikan brand utama dalam menyuarakan pemahaman Islam yang moderat sesuai dengan nilai-nilai pokok Ahlus Sunnah wal jama’ah. Dan sisanya adalah bagaimana kita membungkus pemahaman ini dengan kemasan kekinian agar pesantren digital diminati kaum milenial yang selama hidupnya tidak pernah mengenal pesantren.

Maka dari itu, sudah saatnya pesantren turun gunung bergegas dari zona nyaman ikut babat alas membasmi hama-hama yang ada di dunia digital dengan menanamkan benih-benih dan ruh pesantren yang moderat dengan pemahaman ahlus Sunnah wal jama’ah.

Jika dulu KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad untuk melawan penjajah, maka sudah saantya para penerus generasi muda melanjutkan perjuangan beliau dengan turut aktif berjihad di dunia digital, menebarkan Islam yang ramah, santun, bermartabat dan Insyaallah kelak akan terwujud media digital yang rahmatan lil alamin.

Bisyrul Hafi
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, penulis lepas yang tertarik mengkaji sosial budaya, serta eksplorasi relevansi Islam terhadap perkembangan zaman, sesekali menulis tentang isu-isu politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.