OUR NETWORK

Persoalan yang Lebih Penting, Tanggapan untuk GM

Mengapa Goenawan Mohamad tiba-tiba ‘skeptis’ pada Festival Sastra Internasional di Indonesia?

Perihal Festival Sastra Internasional yang belakangan marak di Indonesia, Goenawan Mohamad (GM) menunjukkan sikap ‘skeptis’.

Mengapa GM tiba-tiba ‘skeptis’ pada Festival Sastra Internasional di Indonesia? Bagaimana dengan beberapa Festival Sastra Internasional di Indonesia sebelum ini yang mana, dengan suatu dan lain cara, GM terlibat di dalamnya?

Di status Facebook-nya, GM menulis dengan gayanya yang khas: [Di tahun 1950-an sampai awal 60-an, majalah sastra dan kebudayaan meriah. Ada “Basis”, “Seni”, “Zenith”, “Budaya”, “Indonesia”, “Konfrontasi”. Di sana terdapat — melanjutkan tradisi “Poedjangga Baroe” tahun 1930-an — telaah, perdebatan, ramai kritik yang tidak cemplang-cemplung seperti yang kita sering dengar di pertemuan-pertemuan yang disebut “sastra”]

Baginya, lebih penting melanjutkan tradisi seperti itu daripada membangun suatu festival sastra Internasional. Dana publik, kata GM, akan lebih berguna bila dimanfaatkan untuk “memproduksi tiga buah berkala sastra (katakanlah tiga bulanan)” dan “membeayai rintisan pendidikan sastra kembali di sekolah.”

GM benar sekaligus salah. Ia benar bahwa bahwa rintisan pendidikan sastra di sekolah dan kritik sastra itu penting—entah dalam bentuk terbitan berkala atau apapun, tetapi mengatakan itu lebih baik daripada festival sastra Internasional adalah sebuah kekeliruan.

Suatu klaim serakah bila ‘sastra Indonesia’ yang masih terlalu muda ini—serta masih meninggalkan banyak pekerjaan yang belum selesai, hanya diberi garis tebal pada suatu periode zaman saja. Apalagi, dari dari zaman itu, yang dilihat sebatas meriahnya majalah sastra dan kebudayaan. Meskipun kontribusinya jelas, namun apa yang dilakukan para pendahulu di era 30an sampai 60an itu tidak bisa dipandang sebagai keberhasilan tertinggi dalam arena sastra Indonesia sejauh ini.

Dalam membangun suatu ekosistem sastra, aspek-aspek yang semestinya berjejaring, tidak bisa dipandang dengan cara melihat ‘A lebih penting daripada B’ sebagaimana yang dipakai GM. Ekosistem sastra tidak dibangun dari satu aspek saja. Apakah kritik sastra dan terbitan berkalanya penting? Yoi. Apakah persebaran toko buku berguna? Sangat. Apakah berkembangnya penerbit dengan corak berbeda punya manfaat? Yuhu. Apakah pendidikan sastra di sekolah mesti diperbaiki? Harus. Masih pentingkah penghargaan sastra? Uye. Apakah festival sastra perlu? Tentu saja. Dan masih banyak lagi.

Apakah semua elemen ekosistem sastra di Indonesia sudah berjalan dengan maksimal? Belum. Tapi, apa yang dilakukan oleh banyak pihak, dengan semarak, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir adalah usaha untuk memperbaiki apa yang sudah ada, mengisi apa yang masih kosong, ataupun menciptakan apa yang belum ada.

Sekadar sebagai contoh—untuk menyebut beberapa saja setelah Orde Baru berdiri, dari aspek kelembagaan. Ketika Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) berdiri tahun 1969, lembaga ini, salah satunya, mengisi posisi penting dalam aspek penciptaan karya sastra dan kritik sastra yang dianggap kompeten. Tentu kehadiran DKJ secara umum mengisi kekosongan yang kentara di era-era sebelumnya.

Yang jelas, di masa tertentu, banyak sastrawan besar Indonesia yang sekarang menjadi tonggak penting, mulai dikenal karyanya lewat berbagai program DKJ. Sayembara Novel atau Naskah Drama, misalnya. Seiring berjalan waktu, DKJ yang kemudian dianggap terlalu pusat, memantik munculnya Dewan Kesenian di daerah-daerah lain di Indonesia. Dewan Kesenian pun banyak yang sekarat dan komunitas-komunitas sastra berskala kecil pun tersebar dan mempunyai capaian tersendiri yang tak terjangkau oleh lembaga-lembaga formal sebelumnya.

Contoh lain, dari aspek promosi Internasional, ketika Yayasan Lontar berdiri tahun 1986, lembaga ini mengisi bagian promosi sastra Indonesia melalui penerjemahan ke bahasa asing. Karya-karya sastra Indonesia yang dianggap kanon pun umumnya telah bisa dinikmati oleh pembaca berbahasa Inggris. Selain itu, Lontar juga sempat membuat dokumentasi berharga dari beberapa tokoh penting dalam sastra Indonesia di kurun waktu tertentu.

Tapi, tentu saja, Lontar bukan “Kantong Doraemon” yang bisa menyediakan semua yang dibutuhkan “Nobita Kesastraan Indonesia”. Paling tidak, akses jejaring Internasional yang dimiliki sedikit pengarang Indonesia, keberadaan Borobudur Agency—sedikit dari agen sastra di Indonesia, atau kehadiran Komite Buku Nasional (KBN) telah mengisi beberapa aspek yang katakanlah belum dijangkau oleh Yayasan Lontar atau lembaga lain yang mempunyai tujuan untuk mempromosikan sastra Indonesia ke dunia Internasional.

Kalau soal kerja “Go International” ini, yang dalam belakangan sangat marak di Indonesia—tak cuma festival tentunya—saya sepakat bahwa banyak hal yang harus kita kritik sebagaimana banyak hal yang harus kita bangun untuk kemajuan bersama. Sebagai contoh, saya kira—di ruang yang lain tentunya—diskusi tentang makna “keinternasionalan” penulis Indonesia dalam rangka Tamu Kehormatan pada Book Fair di Jerman dan UK penting dilakukan. Apalagi soal hubungan yang tak selalu sejalan antara “promosi pengarang” dengan “karya” yang ditulisnya. Sangat penting sekali posisi kritik dalam gejala ini.

Selanjutnya, pengenalan sastra untuk siswa sekolah dulu pernah dilakukan Majalah Horison dan kemudian hilang sama sekali. Beberapa tahun belakangan Komunitas Salihara membuat Kompetisi Kritik Sastra untuk siswa sekolah dan masih berlangsung sampai sekarang. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga membuat program Seniman Mengajar dan masih banyak contoh yang pernah ada dan yang masih berjalan soal aspek ini. Selain itu, komunitas sastra yang dikelola secara swadaya juga bergerak—dengan keterbatasan tertentu—untuk mengenalkan sastra ke sekolah-sekolah.

Majalah Horison pernah berjaya, lalu karam. Di tengah berkembangan penerbitan digital, Majalah Majas mencoba mengisi sisi lain. Jurnal Kalam masih menjadi salah satu jurnal terbaik untuk kritik sastra, meski sekarang para akademisi sastra lebih memilih menulis di jurnal berindeks Scopus.

Penerbit yang dianggap bergengsi tak hanya Gramedia, Grasindo, Mizan dll. Meski penerbit besar tersebut masih menunjukkan capaian-capaian terbarunya, tapi Sastra Indonesia tak akan begitu semeriah sekarang bila tak bertahannya penerbit-penerbit (yang tak sebesar Gramedia tapi punya nilai yang tak bisa dianggap remeh) seperti Marjin Kiri, Banana, Baca, dll.

Begitu juga toko buku yang dianggap representatif untuk buku-buku terbaik, tak lagi sepenuhnya dipegang oleh Gramedia. Mulai dari toko buku seperti Post Santa, Aksara, hingga JBS punya kontribusinya sendiri terhadap ekosistem sastra kita. Sekali lagi, semua ini hanya sekadar contoh saja. Tentu saja, ekosistem kita lebih ramai, kompleks, dan saling-silang daripada contoh sederhana dan umum di atas.

Barangkali, menyebutkan contoh-contoh di atas kepada GM tentu saja bisa dianggap tidak perlu, karena dari sebagian besar contoh di atas, dengan taraf serta periode yang berbeda-beda, ada kontribusi GM di dalamnya. Namun begitu, dari situlah poin utama yang saya kira sangat krusial dibicarakan untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan: soal otoritas GM yang tak harus sama.

Kita mengakui bahwa GM punya rekam-jejak yang panjang dalam Sastra Indonesia. Bahkan bila kita mesti membuat kanon puisi Indonesia, tak mungkin untuk tidak menyebut salah satu buku karya pensyair GM. Tak cuma itu, otoritas GM—terutama sejak Orde Baru berdiri dan juga Orde Baru tumbang—tak diragukan lagi.

Selain menulis karya sastra, ia telah ikut terlibat dalam banyak lembaga, program, dll yang berperan dalam pembentukan karakteristik tertentu dalam sastra Indonesia. GM punya pengaruh sedemikian rupa. Dengan suatu dan lain cara, ia bahkan mempunyai daya-upaya untuk mengarusutamakan sastrawan-sastrawan yang terbaik menurut versinya sendiri.

Tapi, sekarang, alangkah baiknya bila GM bisa menerima kenyataan bahwa otoritas di dalam arena sastra kita sudah begitu berkembang dan secara wacana punya kekuataan masing-masing, dari yang cuma ‘sekali berarti setelah itu mati’ sampai ke yang ‘ingin hidup 1000 tahun lagi’.  Tidak semua ‘panggung besar’ harus ada GM di atas ataupun di belakangnya.

Saya tak hendak berkata bahwa GM harus pamit undur diri dari sastra Indonesia, melainkan saya ingin menekankan soal kemustahilan untuk menyertakan kehadiran GM—apapun bentuknya—di semua  urusan apapun yang dianggap penting dalam sastra Indonesia. GM mesti paham bahwa tidak melibatkannya tentu saja bukan berarti tidak menghormatinya sebagai sesepuh sastra Indonesia. Dan bila GM tetap ingin berpendapat, tentu saja tak ada larangan.

Juga soal festival sastra, bagi saya, tidak semua festival sastra di Indonesia ini mesti sesuai dengan kehendak GM. Mulai dari agenda besar seperti festival sastra-pariwisata seperti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Literary and Ideas Festival (LIFEs) sebagai pengembangan dari Biennal Sastra Salihara, sampai festival sastra dengan wacana geopolitik seperti Makasar Internastional Writers Festival (MIWF) hingga Payakumbuh Literary Festival (PLF) yang tidak Internasional sama sekali dan hanya bisa sekali tegak, punya potensi, isu, dan persoalan masing-masing.

Festival sastra Internasional terbaru, Jakarta International Literary Festival (JILF), punya produksi wacana sendiri yang barangkali selama ini belum tersentuh oleh program-program sastra yang di dalamnya ada otoritas GM atau otoritas lainnya.

Sejauh pemahaman saya, JILF sedang mencoba mengakomodir pertemuan sastrawan dari berbagai negara, tapi  makna internasional yang diusung berangkat dari sekelumit persoalan negara-negara bagian bumi sebelah ‘Selatan’. Bagi saya, isu itu bisa disebut baru dalam festival sastra di Indonesia. Saya kira, apa yang sedang dirancang, dibangun, dan dikembangkan oleh penyelenggara adalah hal yang patut didukung bersama-sama. (Saya mengatakan begitu bukan berarti saya panitia JILF atau bagian peserta undangan. Ini memang karena saya berpikir bahwa gagasan tersebut sangat penting).

Kembali ke soal ekosistem, persoalan yang akan dihadapi tak hanya soal tantangan ke depan, tetapi juga pemberesan persoalan sebelumnya yang juga berdampak krusial pada arena sastra kita. Festival perlu dipertahankan meski kritik sastra juga butuh perhatian.

Bisa saja, dalam contoh sederhana, hubungan yang kuat antara festival, institusi akademik, dan lembaga lain dapat membantu membangkitkan kritik sastra. Atau hubungan jejaring antara festival, pemerintah daerah, dan komunitas sastra membuat gerakan sastra masuk sekolah menjadi lebih mungkin daripada sebelumnya. (Lihat misalnya Festival Multatuli di Banten, bukankah sirkuit seperti itu sudah mulai berjalan?)

Tugas besar telah menanti. Indonesia dalam konteks kesastraan sangatlah luas, plural, dan tak semua diketahui sekaligus. Salah satu sumber yang bisa dipakai, hasil Kongres Kebudayaan Indonesia tahun lalu dalam bidang sastra, setidaknya mencatat dengan cukup panjang perihal persoalan-persoalan di arena sastra Indonesia.

Selain isu-isu yang sedang ‘naik daun’, masih banyak lagi isu yang mungkin sempat diperhatikan serius tapi tak kalah krusial dibanding isu lainnya. Begitu banyak dan betapa sulitnya untuk membereskan hanya dengan beberapa pihak saja. Tanggung jawab berjejaring sangat penting. Sudah begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari kasus arena sastra terdahulu. Semua itu mesti menjadi pertimbangan.

Kini, tugas kita bersama dalam ekosistem sastra ini—sebagaimana ekosistem seni dalam wilayah yang lebih luas—adalah mengembangkan yang sudah berjalan, memanfaatkan yang sudah ada, membina yang belum berkembang, dan melindungi apa yang diwariskan.

Tentu, demi membangun eksosistem itu bukan berarti harus meniadakan saling-kritik. Justru kritik semakin dibutuhkan satu sama lain. Begitu juga, demi membangun ekosistem bukan berarti harus selalu bekerja dengan corak yang sama. Justru keberbagaian percobaan dalam berkebudayaan sangat penting dilakukan. Mengoneksikan banyak aspek dalam satu ekosistem besar tidak harus setiap aspeknya berhubungan atau berurusan secara langsung, tetapi juga saling mengandalkan secara tidak langsung. Segalanya on progress.

Kita pikul beban berat di jalan panjang. Bayangkan, bila misalnya, dalam kondisi sekarang, masih ada yang hanya mempersoalkan dirinya sendiri lebih pantas diundang daripada yang lain. Betapa terlalu sepele.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…