Sabtu, Oktober 31, 2020

Perlunya Pemerintah Menertibkan Buzzer Politik

Kaum Zionis dan Muslim Aswaja, Ada Apa?

Hingga detik ini, musuh kaum Muslim terus bergelora di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Di Indonesia sampai hari ini...

Terorisme dan Zona Merah Pejabat Negara

Aksi-aksi kekerasan dengan berbagai modusnya terus terjadi di negeri ini. Kekerasan yang kita saksikan dengan bermacam motifnya tentunya mengancam stabilitas dan keamanan bangsa. Keamanan...

Senjakala Tembakau di Indonesia

Itulah sepatah kata dari seorang pecandu rokok yang kebetulan saya temui di salah satu angkringan. Dalam percakapan itu, ia menjelaskan bahwa bisnis rokok pertama...

Cita dan Cinta PKB Kepada Bangsa

Lahirnya era baru di Indonesia yang dikenal dengan istilah era reformasi, menjadi titik klimaks dari keinginan kuat masyarakat Indonesia untuk melakukan perubahan, hal ini...
Jacko Ryan
Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Airlangga. Alumni program Johannes Leimena School of Public Leadership (2018) dan Kader Bangsa Fellowship Program (2019). Dapat dihubungi di jacko.ryan-2017@fisip.unair.ac.id.

Kehadiran penggaung (buzzer) mewarnai rentetan peristiwa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Kehadiran berbagai media sosial yang dipandang telah memberikan ruang keterlibatan masyarakat dalam berbagai peristiwa nasional yang terjadi justru dimanfaatkan segelintir orang demi tujuan dan maksud tertentu. Bahkan, kegelisahan tersebut diutarakan oleh Kepala Staf Presiden Moeldoko.

Sebagaimana diwawancarai oleh media pada Jumat (4/9), Moeldoko berharap bahwa yang diperlukan saat ini adalah dukungan politik yang lebih membangun. Berbagai langkah telah ditempuhnya untuk meredakan gerak buzzer yang dinilai kerap destruktif seperti mengimbau para buzzer untuk menggunakan bahasa yang nyaman dan tak menyakiti pihak lain.

Ia mengaku sudah menyampaikan langsung kepada influencer, relawan dan berbagai tokoh lainnya. Walau ada kelemahan yang dihadapinya saat ini di mana pihaknya tidak bisa menertibkan para buzzer karen mereka dinilai bergerak dengan caranya masing-masing.

Pembiasan Makna

Kehadiran buzzer memang tidak terlepaskan dari platform politik yang semula diidentikan dengan kegiatan offline seperti mobilisasi keramaian berubah menjadi hadir dalam dunia virtual (online). Transformasi tersebut semula dipandang positif. Trend kampanye politik dengan menggunakan media sosial terus mengalami peningkatan hingga saat ini. Alhasil, berbagai konten kreatif membanjiri liminasa dengan harapan menjadi nilai lebih yang dipandang positif bagi pemilih, terutama bagi kalangan kelas menengah dan anak muda.

Buzzer sendiri dapat didefinisikan sebagai akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan/atau membangun percakapan dan bergerak dengan motif tertentu. Dari segi semantik, kata “buzzer” kerap diidentikan dengan bunyi dengung. Karenanya buzzer dikenal juga dengan sebutan penggaung. Ia merupakan pelaku yang terus membuat suara-suara bising seperti dengung lebah.

Akmaliah (2018) setidaknya mengemukakan empat kemampuan yang dimiliki buzzer. Pertama, kemampuan persuasif harus dimiliki seorang buzzer sehingga bisa membuat para pengikutnya membaca apa yang buzzer narasikan dan turut menyebarkannya.

Kedua, buzzer memiliki kemampuan untuk menciptakan jaringan yang luas. Prinsipnya, semakin luas jaringan yang dimiliki, maka daya amplikasinya akan semakin tinggi pula. Ketiga, kemampuannya dalam mengemas konten menjadi menarik dan dapat dimengerti oleh pengikutnya. Terakhir, buzzer digerakkan oleh motif tertentu. Tak menutup fakta bahwa ada buzzer yang bergerak secara sukarela, namun juga ada yang menjadikan itu sebagai sebuah pekerjaan yang menghasilkan pundi-pundi uang.

Motif itulah yang kemudian mengalami pembiasan makna ke arah negatif seperti yang dirasakan saat ini. Penelitian bertajuk The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation karya Samantha Bradshaw dan Philip Howard dari Universitas Oxford (2019) setidaknya mengungkapkan bahwa pemerintah dan partai-partai politik di Indonesia menggunakan buzzer untuk menyebarkan propaganda pro pemerintah/partai, menyerang lawan politik, dan menyebarkan informasi untuk memecah-belah publik.

Itu terwujud melalui berbagai informasi yang menyesatkan media atau publik dan memperkuat pesan dengan terus-menerus membanjiri media sosial dengan tagar. Media sosial yang pernah disanjung sebagai kekuatan kebebasan dan demokrasi kini dikritisi karena perannya yang mengamplifikasi disinformasi, menghasut kekerasan, dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap media dan institusi demokrasi.

Sinergitas Pemerintah dan Masyarakat

Kehadiran buzzer tidak dapat dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Tidak hanya dapat mencederai era kebebasan berpendapat, tidak terkontrolnya buzzer yang terus menarasikan disinformasi dan bersikap desktruktif tentu menjadi ancaman tersendiri bagi terciptanya disintegrasi bangsa.

Kita tahu bahwa gerak cepat pemerintah saat ini terlihat dalam menyusut berbagai kasus hoax, ujaran kebencian, hingga makar dalam media virtual. Juga dengan hadirnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagai unsur legal yang dapat menjerat pelaku. Hal yang sama diharapkan juga berlaku bagi buzzer-buzzer politik yang terbukti membawa pengaruh negatif.

Celakanya, hal berbeda ditunjukkan Kementerian Komunikasi dan Informatika ketika berbicara tentang buzzer. Kominfo menyebutkan bahwa pihaknya tidak memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas buzzer di media sosial, namun hanya sekedar langkah pemantauan yang telah dilakukan.

Berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini tentunya bisa menjadi alarm bagi pemerintah dan terkhusus bagi Kominfo bahwa langkah pemantauan tidaklah cukup untuk menertibkan buzzer. Berbagai regulasi harus tercipta agar sejumlah buzzer yang dikhawatirkan dapat menyebabkan disintegrasi dapat segera ditindak. Itulah yang juga menjadi harapan bagi Kepala Staf Presiden Moeldoko yang menilai bahwa para buzzer memang perlu ditertibkan.

Menjadi kekhawatiran tersendiri yakni ketika buzzer politik memang sengaja dijadikan infrastruktur dalam sistem politik yang ada. Bukan suatu hal yang mustahil jika keberadaan buzzer politik tetap dilestarikan karena menguntungkan pihak penguasa. Peran media massa sebagai penyaji dan pelopor sikap kritis justru meredup karena munculnya buzzer politik.

Di sisi lain, masyarakat yang dalam keadaan minim literasi media dan informasi diposisikan hanya sebatas konsumen dari berbagai informasi yang bersifat propaganda. Inilah kemudian mereduksi kekuatan demokrasi yang selalu mengandaikan kebebasan media. Dalam demokrasi, penting untuk hadirnya media sebagai wahana netral, pengawal jalannya reformasi serta public interest lainnya, dan bisa pula mewakili atau berada di atas semua kelompok masyarakat, tanpa kehendak untuk menguasai satu di antara lainnya.

Menyikapi itu, maka penting literasi media dan informasi dalam masyarakat guna meningkatkan jiwa kritis. Melalui itu, muncul masyarakat yang dapat menginterpretasikan dengan baik suatu pesan yang disampaikan buzzer politik dan informasi yang terkandung di dalamnya. Literasi media dan informasi akan mengajak individu untuk dapat mengakses dan menemukan informasi, melakukan identifikasi informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi informasi, serta menggunakan informasi secara efektif.

Yang terpenting dari proses tersebut yakni kemampuan masyarakat dalam menemukan fakta serta membedakan antara fakta valid dan opini yang ada pada sajian informasi yang membanjiri media virtual.

Juga dengan pentingnya etika dalam menghadapi kemajuan komunikasi dan teknologi. Etika hadir sebagai pedoman dasar dalam kemajuan komunikasi dan teknologi untuk dapat membedakan baik buruknya suatu informasi yang didapatkan. Melalui itu semua, diharapkan bahwa proses komunikasi akan berlangsung dengan ramah dan tetap menjunjung tinggi asas komunikasi dalam media virtual berupa partisipasi, keterbukaan, percakapan, dan komunitas keterhubungan yang baik antara komunikator dan komunikan.

Jacko Ryan
Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Airlangga. Alumni program Johannes Leimena School of Public Leadership (2018) dan Kader Bangsa Fellowship Program (2019). Dapat dihubungi di jacko.ryan-2017@fisip.unair.ac.id.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.