OUR NETWORK

Perempuan-Perempuan Pemerkosa Diri

Ia terluka, tapi setidaknya kehormatannya berhasil ia jaga

Alkisah, pada masa peperangan, sebuah desa diserang oleh desa lain. Penyerangan terjadi saat desa tersebut hanya dihuni oleh para wanita; laki-laki mereka keluar berperang dengan desa yang lain.

Mendapati desa yang hanya dihuni oleh para wanita, para penyerang meraih kemenangan tanpa perlawanan. Tak cukup dengan memorak-porandakan desa, dengan buasnya, para penyerang itu juga memperkosa setiap perempuan yang ada di desa tersebut.

Tanpa suami, perempuan-perempuan desa tersebut pasrah, merelakan tubuh mereka dilahap para singa yang kelaparan, tanpa perlawanan sedikitpun. Setidaknya, satu tubuh dibagi (digilir oleh) untuk lima singa.

Dari salah satu rumah, seekor singa lari terbirit-birit bersimbah darah dan tubuh penuh luka tusukan. Ia meninggalkan empat temannya yang kini terbujur kaku tak bernyawa,  tergeletak di hadapan seorang perempuan yang semula ingin dilahapnya.

Akan tetapi, nasib buruk terbalik, pemangsa kini dimangsa. Lima lelaki berbadan besar tak menyangka sedikitpun, perempuan yang ingin dilahapnya adalah singa betina yang penuh keberanian dan amarah.

Tanpa sedikitpun rasa gentar, perempuan itu mengambil sebilah pisau dan mulai menyerang para penyerang. Ia terluka, tapi setidaknya kehormatannya berhasil ia jaga. Dan juga, ia hidup, sedang empat penyerang meregang nyawa.

Di saat rumah-rumah lain bergemuruh akibat suara jeritan dan isak tangis para wanita yang tak berdaya dihadapan lima lelaki pemerkosa (entah, itu jeritan kenikmatan atau jeritan kesedihan, aku tak tahu), dari satu rumah justru terdengar suara para lelaki yang menjerit kesakitan di hadapan seorang perempuan.

Di saat rumah lain basah oleh air mata para perempuan yang dilucuti kehormatannya oleh para pejantan,  satu rumah justru basah oleh darah para lelaki yang dilucuti kejantanannya oleh seorang wanita terhormat. Di saat rumah-rumah lain jatuh roboh ke tanah seiring dengan robohnya kehormatan perempuan di dalamnya, satu rumah justru berdiri kokoh ke langit seiring dengan kokohnya perlawanan perempuan di dalamnya.

Selang beberapa jam, usai memperkosa para wanita dan menghancurkan rumah, para penyerang meninggalkan desa. Para perempuan desa itu berkumpul di tanah lapang. Mereka menunggu lelaki-lelaki mereka dengan derai air mata dan rintihan pilu, serta pakaian penuh sobekan dan tubuh penuh bekas jamahan.

Tetiba, datanglah seorang perempuan pemberani dengan empat potongan kepala di tangan kirinya dan sebilah pisau di tangan kanannya. Perempuan itu berjalan tegap, penuh kehormatan mendekati kerumunan perempuan tak berdaya di tanah lapang. Kerumunan perempuan itu segera menyadari, bahwa perempuan di hadapannya adalah satu-satunya perempuan di antara mereka yang berhasil menjaga kehormatannya.

Isak tangis tak lagi terdengar, perempuan terhormat itu mulai berpidato di tengah kerumunan perempuan tak berdaya… “Mengapa kalian tak bangkit melawan bak pahlawan di medan laga? Mengapa kalian membiarkan diri kalian diperdaya bak mayat diliang lahat.. apakah kalian tidak tahu, lebih baik mati mulia daripada hidup terhina?… apa yang akan kalian katakan pada suami-suami kalian nanti?…

Mendengar kobaran pidato itu, kerumunan perempuan tak berdaya mulai gelisah, takut. Mereka takut bila suami-suami mereka pulang dan bertanya mengapa tak membela diri seperti dia si perempuan terhormat. Mereka takut, suami-suami mereka bukannya iba melihat kondisi mereka, justru berang lantaran mereka tak berjuang membela diri.

Ketakutan  demi ketakutan mulai menari-nari di kepala mereka. Mengikis habis logika rasional, dan mulai merencanakan sebuah tindakan emosional. Yah, perempuan-perempuan tak berdaya itu berencana membunuh si perempuan terhormat, sebelum suami-suami mereka kembali. Mereka ingin membunuhnya, agar ketakutan-ketakutan mereka hilang,  agar suami-suami mereka tak bertanya mengapa dan mengapa.

Rencana berjalan, sejurus kemudian, perempuan terhormat itu menjadi bulan-bulanan kerumunan perempuan. Tak cukup hitungan jam, perempuan terhormat itu pun akhirnya tewas di tangan manusia-manusia lemah yang berupaya menyembunyikan kelemahannya.

Tak ada lagi saksi hidup perlawanan perempuan, tak ada lagi kemuliaan dan kehormatan, tak ada lagi keberanian dan perlawanan. Kini, tinggallah saksi hidup matinya para perempuan tak berdaya. Yang tersisa hanya kehinaan dan kerendahan, hanya ketakutan dan ketidakberdayaan.

Perempuan-perempuan tak berdaya itu kembali berkerumun dan menangis, menunggu suami-suami mereka pulang, berharap mendapat iba, ampunan dan perhatian dari suami-suami mereka.

alumni filsafat dan mistisisme Islam, direktur Lyceum Philosophia Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…