Jumat, Maret 5, 2021

PB Djarum Pamit, KPAI Puas?

Aksi Terorisme, Dana adalah Kunci

Di General Santos, Filipina, sekitar 500 kilometer menyeberangi lautan dari Manado, Sulawesi Utara pada November 2015, Suryadi Mas’ud mengecek senjata. Satu persatu senjata yang...

Fintech, Sebuah Teror Kemiskinan

Musim semi tengah dialami bisnis jasa keuangan berbasis teknologi, berdasarkan data hingga Februari 2019 telah tercatat 99 perusahaan. Padahal, per September 2018 masih sekitar...

Merdeka dari Rasisme Elite Politik Indonesia

Tayangnya film Bumi Manusia menjadi pengobat rindu bagi para penggemar karya legendaris sastrawan nasional Pramoedya Ananta Toer. Jadwal tayang di bioskop bertepatan menjelang perayaan...

Membuktikan Hoaks Ambulans Pembawa Batu Denny Siregar

Setelah cuitannya tentang ambulans Pemprov DKI membawa batu untuk perusuh terbukti tidak betul, Denny Siregar meminta maaf kepada Pemprov DKI.  Meskipun meminta maaf, ia...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Beberapa waktu lalu, dunia sepak bola Indonesia berduka. Kekalahan Tim Nasional atas Malaysia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022 yang disusul arogansi sebagian suporter di luar dan di dalam stadion membuat nama Indonesia benar-benar tercoreng.

Belum juga luka dan derita itu usai, kali ini giliran dunia bulutangkis yang diterpa kemalangan. PB Djarum memutuskan pamit dari pembinaan atlet muda bulutangkis.

Keputusan PB Djarum menyusul tidak adanya kata sepakat dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI menganggap PB Djarum selama ini telah melakukan eksploitasi kepada anak dengan menjadikan mereka sebagai sarana promosi. KPAI beralasan bahwa nama audisi serta kaos yang digunakan dalam audisi, identik dengan brand produk Djarum.

Dulu, ketika awal kasus ini mulai ramai, KPAI mengatakan jika mereka tidak melarang agenda pembibitan yang dilakukan oleh PB Djarum. Kala itu, Sitty Hikmawaty selaku komisioner KPAI memandang seleksi beasiswa bulutangkis Djarum Foundation sebagai bentuk eksploitasi anak. Sitty mengkritik cara PB Djarum yang memasang logo di seragam yang dikenakan dan di beberapa atribut penunjang.

Sebenarnya, PB Djarum sudah menerima tuntutan awal KPAI untuk tidak menggunakan embel-embel kata Djarum dalam pelaksanaan audisi. Namun, belakangan KPAI tidak puas dengan hal itu dan menuntut agar tidak ada keterlibatan Djarum sama sekali dalam audisi tersebut. Di sinilah pada akhirnya PB Djarum memutuskan untuk pamit.

Bentuk Arogansi

Jika saya ditanya, apa peran KPAI dalam hal pembinaan, pelatihan dan pendidikan anak di Indonesia, saya tidak memiliki jawaban untuk disampaikan. Pasalnya, selama ini, KPAI yang lebih akrab dengan Kak Seto-nya lebih sering hadir dalam permasalahan-permasalahan klise seperti kasus kekerasan anak, pelecehan anak dan sejenisnya. Kehadiran mereka pun ibarat polisi India yang selalu datang di akhir kisah.

Oleh sebab itu pula saya kesal dengan sikap arogansi KPAI kali ini. Alasan ekploitasi anak dalam audisi PB Djarum adalah alasan yang delusional dan tidak masuk akal. Meminjam kata Susi Susanti, ia amat keberatan sekali dengan dipermasalahkannya audisi PB Djarum.

Menurutnya, pemerintah selama ini memang sudah perhatian dengan bulutangkis, tapi tidak pada pembinaan atletnya. Ibarat kata, pemerintah mau peduli dengan olahraga jika sedang ada kompetisi, ketika mau ada pertandingan, ada olimpiade dan semacamnya. Namun, untuk pembinaan dan pembibitan, sejauh ini tidak ada upaya.

Kegelisahan Susi Susanti itu tentu bukan tanpa alasan. Faktanya, selama ini memang bulutangkis menjadi salah satu cabang olahraga andalan Indonesia dalam berbagai ajang kompetisi. Semua itu tidak lepas dari PB Djarum.

Sebab, selama ini hanya PB Djarum yang secara serius melakukan pembinaan dengan skala besar serta mampu menjangkau pemain-pemain muda yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Sudah banyak atlet bulutangkis yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia yang terlahir dari pembinaan PB Djarum.

Namun, saat ini, sesuatu yang sudah berjalan dengan baik serta memberikan hasil nyata itu, justru dirusak oleh arogansi KPAI sebagai pihak yang sesungguhnya tidak pernah ada andil sama sekali dalam pembinaan para atlet khususnya dalam hal ini atlet bulutangkis.

Solusi Absurd KPAI

Sebenarnya KPAI memberikan solusi terhadap pembinaan para atlet tanpa melibatkan PB Djarum atau pun produk rokok lainnya. KPAI mendorong agar BUMN terlibat dalam hal pembinaan serta pembibitan atlet nasional. Solusi itu saya baca sebagai sebuah solusi absurd dan sama tidak masuk akalnya dengan alasan eksploitasi anak yang mereka gunakan.

Entah darimana datangnya bisikan solusi yang ditawarkan oleh KPAI tersebut. Sebuah solusi yang membuat saya semakin kesal. Sebenarnya KPAI ini siapa? Apakah KPAI tidak paham bahwa dalam melakukan pembinaan serta pembibitan atlet membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Selama ini PB Djarum tidak hanya melakukan seleksi dan audisi, tapi juga melakukan pembinaan jangka panjang. Apa mungkin BUMN mampu meggantikan peran PB Djarum, sedang yang kita tahu saat ini banyak BUMN yang sedang carut-marut keuangannya?

Berkaca pada sepakbola Indonesia. Dahulu, sejak tahun 2005, Djarum menjadi sponsor utama dalam perjalanan liga Indonesia selama enam tahun kompetisi. Era Djarum kemudian berakhir pada tahun 2011/2012 setelah terbit PP 109/2012 tentang Pengendalian Produk Tembakau.

Djarum hengkang sebab aturan itu menyebut bahwa sponsor rokok tidak boleh memasang atau menampilkan produk pada acara yang disponsori. Barangkali aturan ini juga yang disebut Kak Seto bahwa PB Djarum telah melanggar regulasi dalam auidisi bulutangkisnya.

Tak lama berselang, perginya Djarum dari sponsor diikuti degan konflik dalam tubuh PSSI. Saat itu, terjadi konflik antara PSSI dan operator liga, PT Liga Indonesia. PSSI lebih mengakui Liga Primer Indonesia sebagai kompetisi resmi. Alhasil, sampai 2015 sepakbola Indonesia terpecah oleh dualisme serta finansial yang serba tidak pasti.

Apakah mungkin KPAI tidak pernah berkaca dari sejarah itu? Saya rasa memang tidak. Sebab memang bukan ranah KPAI untuk ikut campur dalam hal olahraga. Oleh sebab itu pula, ketika KPAI menjadikan alasan eksploitasi anak untuk mengebiri pembinaan bulutangkis yang dilakukan PB Djarum, semua itu hanya ketidaktahuan serta kebodohan KPAI dalam memahami tugas pokok dan fungsinya sendiri.

Apa mungkin KPAI sudah tidak ada kerjaan lain sehingga ikut campur hingga urusan olahraga? Semoga KPAI puas dengan keberhasilannya dalam memutus mimpi anak-anak yang ingin menjadi atlet bulutangkis nasional melalui PB Djarum.

Yogya, 2019

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.