Sabtu, Desember 5, 2020

Pancasila Kiblat Bangsa

Harapan Korban HAM Berat Kepada Jokowi

Pada 30 Juni 2019, Jokowi kembali ditetapkan sebagai presiden terpilih untuk masa jabatan 2019–2024. RPJM tahun 2014–2019 memberikan harapan yang tinggi bagi para korban,...

Kaum Zionis dan Muslim Aswaja, Ada Apa?

Hingga detik ini, musuh kaum Muslim terus bergelora di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Di Indonesia sampai hari ini...

Muhammadiyah dan Isu Radikalisme

Pada 19 April 1995 bom seberat 2 ton meluluhlantakkan Gedung Federal Alfred P Murrah di Oklahoma City, Amerika Serikat. Kejadian itu terjadi lagi di...

Bedanya Radikalisme dan Fanatisme Agama, Jangan Ngawur!

Akhir-akhir ini, seringkali terjadi kekeliruan—yang dalam fase tertentu—sangat fatal. Salah satunya ialah pemahaman tentang istilah radikal yang selalu diidentikan dengan fanatisme agama. Tentu, penyematan...
Bahrur Rosi
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya Jakarta

Bagi Republik Indonesia, Pancasila merupakan kesepakatan para pendiri agar menjadi pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Pancasila merupakan nilai-nilai luhur yang harus dihayati dan dipedomi seluruh warga negara Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Penghayatan yang mendalam atas seluruh nilai-nilai dasar Pancasila akan memperkuat identitas, jati diri, dan karakter masyarakat Indonesia yang berkepribadian Pancasila. Dari seluruh penghayatan itu maka Pancasila merupakan Kiblat dalam Ibadah Kebangsaan. Kiblat seperti pada umumnya merupakan arah dimana kita menghadap dan menuju, maka Pancasila menjadi arah kemana bangsa dan negara ini menghadapkan dirinya.

Nilai-nilai Pancasila sudah lama mengakar dalam sejarah Nusantara, meski secara wujud dan Istilah Pancasila baru muncul pada 1 Juni 2945 ketika disampaikan oleh Ir Soekarno berpidato pada sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ir Soekarno mengusulkan lima hal yang diberi nama Pancasila, yang merupakan warisan dari nilai-nilai budaya nenek moyang Indonesia.

Pancasila tidak hanya sebagai dasar atau falsafah Negara (philosophische grondslag), tetapi juga pandangan hidup (weltanschauung), ideologi, perekat segenap elemen bangsa, haluan dan tuntunan dinamis ke arah mana bangsa Indonesia akan melaju. Pancasila ini digali Bung karno dari berbagai kearifan suku-bangsa, agama dan aliran kepercayaan yang telah berurat-berakar dalam sanubari bangsa.

Pancasila Sebagai Kiblat Ibadah Kebangsaan

Sebagai kiblat, Pancasila mencerminkan nilai dan pandangan paling prinsip rakyat Indonesia dalam hubungannya dengan semesta, yakni Tuhan Maha Pencipta. Asas ketuhanan ini sebagai asas fundamental kenegaraan (negara yang berdasar pada Ketuhanan yang Maha Esa).

Nilai ini mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang religius dan atau teisme religius. Demikan pula untuk sila-sila yang lain, yang merupakan satu bagian tak terpisahkan antar sila yang mencerminkan kekeluargaan, cinta sesama, dan cinta keadilan.

Indonesia ditakdirkan menjadi negara yang kaya akan segalanya, kaya sumber daya manusia, kaya sumber daya alamnya, dan berbeda suku, berbeda bahasa,  berbada agama, berbeda etnis, berbeda budayanya.

Dari seluruh kekayaan dan perbedaan yang ada, Indonesia memiliki Pancasila sebagai kiblat Bersama yang mempersatukan seluruh perbedaan yang ada. Seperti dalam hukum dasar matematika bilangan-bilangan pecahan tidak mungkin bisa dijumlahkan jika tidak memiliki bilangan penyebut yang sama, maka penyebut itu bernama Pancasila.

Pancasila sebagai kiblat dalam ibadah kebangsaan kita harus bisa diaktualisasikan secara objektif dan subjektif. Seluruh gerak, dan sendi kehidupan kebangsaan harus mengarah pada satu kiblat yang sama yakni Pancasila bukan yang lainnya.

Namun disadari bersama dalam mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila sangat mungkin ditemukan adanya masalah yang berkaitan dengan hidup kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Solusi terbaik untuk mengatasi persoalan kebangsaan adakah dengan kembali pada nilai-nilai Pancasila.

Pancasila sebagai kiblat bersama tidak cukup hanya dipelajari, tetapi harus diresapi, dihayati, dan dipahami secara mendalam. Pancasila adalah dasar persatuan dan haluan kemajuan-kebahagiaan bangsa. Selama kita belum bisa membumikan nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, selama itu pula bangsa Indonesia tidak akan dapat meraih kemajuan-kebahagiaan yang diharapkan.

Dalam membangkitkan semangat itu, diperlukan kepemimpinan yang dapat memulihkan kembali kepercayaan warga pada diri dan sesamanya. Kekuasaan digunakan untuk menguatkan solidaritas nasional dengan memberi inspirasi kepada warga negara untuk mencapai kemuliaanaya dengan membuka diri penuh cinta pada yang lain. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam kehidupan publik untuk bergotong-royong merealisasikan kebajikan bersama.

Setiap pandangan hidup atau ideologi yang ingin memengaruhi kehidupan secara efektif, tak bisa diindoktrinasikan sebatas upacara, melainkan perlu mengalami apa yang disebut Kuntowijoyo sebagai proses “pengakaran” (radikalisasi). Proses radikalisasi ini melibatkan tiga dimensi ideologis: keyakinan (mitos), penalaran (logos), dan kejuangan (etos).

Pancasila dan Khilafah

Ide Hizbut Tahrir Indonesia tentang penerapan Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan ingin membawa kita pada gerakan formalisasi syariat Islam, gagasan usang dan sudah tidak laku diberbagai negara diseluruh belahan dunia. Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai kiblat dalam berbangsa dan bernegara bukan khilafah atau lainnya.

Perdebatan soal Pancasila dan khilafah mungkin tidak akan berkesudahan secara teoritik, tapi dalam praktik para pendiri bangsa sudah bersepakat menjadikan Pancasila sebagai kiblat dalam ibadah kebangsaan. Tidak ada ruang kosong bagi ideologi lain selain Pancasila untuk menjadi kiblat dan penuntun bagi bangsa Indonesia, Pancasila adalah jawaban tuhan atas segala doa agar Indonesia tetap hidup “selama-lamanya”.

Keputusan pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia secara organisasi merupakan keputusan tepat dan patut disyukuri bersama, tapi perlu diwaspadai bahwa gerakan khilafah masih terus melangkah diakar rumput. Gerakan untuk membuat Indonesia menjadi negara khilafah belum mati dan masih menjadi racun dalam kehidupan kebangsaan yang harus disegera diobati.

Pada akhirnya seluruh lapisan, setiap individu tanpa harus bertanya siapa dan darimana harus sama-sama berikhtiar untuk menjaga dan merawat Indonesia, semuanya dimulai dengan tetap bepegang teguh dan menjadikan Pancasila sebagai kiblat dalam Ibadah Kebangsaan kita.

Bahrur Rosi
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.