Sabtu, Oktober 31, 2020

Oligarki Menguat dan Reformasi 2.0

Generasi Milenial untuk Indonesia Emas 2045?

Agustus 2018 yang lalu, pemuda dan pemudi dari 34 provinsi di Indonesia dan dari organisasi Diaspora Indonesia berkumpul dalam sebuah konferensi untuk merancang visi...

Dilema Kabut Asap Riau

Musim kemarau kembali datang dan musibah yang tidak menjadi hal baru di Riau (khususnya) kembali terulang. Permasalahan ini sudah terjadi sejak tahun 1997 dan...

Menyoal Keterpilihan Megawati

Kongres ke-V Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Bali kembali mengukuhkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum. Memimpin partai pada usia tak lagi muda jelas...

Refleksi 5 Tahun Jokowi dalam SDGs

Sustainable Development Goals (SDGs) adalah pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan. Pembangunan yang mampu menjaga peningkatan kualitas hidup dari satu generasi...
Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community

Revolusi Industri telah menjadi penanda adanya perubahan besar secara radikal terhadap cara manusia memproduksi barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari transformasi yang melibatkan penemuan teknologi tersebut telah memengaruhi perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat, seperti: politik, ekonomi, budaya dan militer.

Salah satu grand design Revolusi Industri 4.0 ini adalah pemanfaatan Internet of Thing (IoT). Dan sekarang berbondong-bondong mau melawan Oligarki dengan modal banjirnya informasi, ikut diskusi beruntung bisa sebulan sekali, belum lagi tradisi baca tulis yang isinya plagiasi.

Oligarki berasal dari Bahasa Yunani yaitu, Oligon dan Arkho. Oligon berarti sedikit, dan Arkho berarti memerintah. Maka, pemaknaan dua kata yang diambil dari bahasa Yunani itu menghasilkan istilah Oligarki atau Oligarkhia, yaitu suatu bentuk pemerintahan atau kekuasaan yang dijalankan oleh sekelompok elit kecil (sedikit).

Istilah ini diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang Sosiolog muda Jerman bernama Robert Michels dalam bukunya ‘Politic Parties‘ tahun 1911. Menurutnya, suatu organisasi (kelembagaan) akan selalu dipengaruhi adanya sebuah pertarungan tanpa henti antara kepentingan massa dengan kepentingan elit.

Sehinggu, gagalnya sistem demokrasi oleh karena terjadinya dinamika didalam internal organisasi yang cenderung direpresentasikan oleh elit politik sebagai penyedia intelektualitas, finansial dan pemimpin. Lalu, bagaimana dengan dua dekade reformasi negeri kita?

Dalam buku Jeffry A. Winters “Oligarchy” disebutkan bahwa oligarki dapat dikelompokkan ke dalam dua dimensi sesuai dengan mekanismenya. Pertama, oligarki terjadi atas dasar kekuatan modal kapital. Kedua, oligarki dapat menggurita secara sistematik dalam kerangka kekuasaan.

Fenomena yang terjadi saat ini, dengan iklim demokrasi yang menumbuh suburkan multi partai namun kenyataannya masih memberikan celah terjadi gurita oligarki. Partai politik dikuasai oleh segelintir elit dengan kepentingannya. Sementara, Ketua Partai beserta lingkarannya memiliki kewenangan penuh dan bersifat superioritas dalam pengambilan keputusan (Decision Making).

Hal ini yang menyebabkan Partai Politik mengalami kemunduran dalam proses kaderisasi, oleh karena Partai mengutamakan finansial untuk membesarkan pengaruh Partai. Sementara, konstituen (masyarakat) hanya dilibatkan sebagai obyek politik lima tahunan. Banyak konstituen tidak mengenali latar belakang, visi dan misi calon wakil rakyatnya. Partai politik menjadi sangat pragmatis dalam perekrutan caleg. Mengesampingkan kualitas kader parpol karena kalah dengan pendanaan dan popularitas.

Sesuai dengan beberapa fakta yang terjadi belakangan ini, seolah rezim saat ini tidak lagi mengindahkan cita-cita reformasi. Reformasi pemilu misalnya, sistem kepartaian kita semakin menunjukkan peran dan fungsi partai yang melemah.

Sistem pemilu proporsional terbuka menjadikan high cost politic sebagai ruang demokrasi transaksional di dalam internal partai. Politik transaksional yang semakin menguat terjadi karena sudah bukan hal yang baru jika terjadi adanya praktik tidak sehat antara kolaborasi penyelenggara Pemilu, Parpol, dan Birokrasi.

Jika dilihat dari segi elektoral tentu masyarakat memiliki antusias yang cukup membaik setiap edisi pemilu, namun dari segi hukum dan budaya justru sebaliknya semakin memburuk. Demokrasi elektoral masih dapat dikatakan belum secara substantif berjalannya sebuah demokrasi yang semestinya.

Dengan kata lain, tidak koheren untuk pelaksanaan sistem presidensial yang dicita-citakan. Tumpang tindih antara sistem presidensial dengan kekuatan parlemen. Kombinasi antara sistem presidensial dengan multi partai masih tidak ideal.

Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.