Minggu, Februari 28, 2021

Oligarki Menguat dan Reformasi 2.0

Mengenali Motif Pelaku Mutilasi

Masih tentang kabar mutilasi. Jari tangan kita yang terkena jarum suntik saja terasa perih, bagaimana dengan korban mutilasi? Seakan enggan memikirkan rasa perihnya, namun...

Episode Baru Kontroversi KPK

Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023 telah ditetapkan. DPR sebagai pihak penguji calon pimpinan lembaga antirasuah tersebut telah memberikan suaranya untuk menentukan komposisi...

Bagaimana Gerakan Anti-Feminis Memahami Feminisme?

Rasanya menggemaskan dikala sumber berbagai literatur bisa lebih mudah diakses, ada saja kelompok-kelompok yang masih suka berprasangka terhadap suatu wacana, alih-alih mempelajarinya. Gerakan menolak feminisme...

Arah Kabinet Jilid II Joko Widodo?

Di era perjuangan kemerdekaan hingga berakhirnya orde baru kita nyaris tak pernah mendengar adanya nama-nama bakal calon menteri yang beredar di koran, radio dan...
Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community

Revolusi Industri telah menjadi penanda adanya perubahan besar secara radikal terhadap cara manusia memproduksi barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari transformasi yang melibatkan penemuan teknologi tersebut telah memengaruhi perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat, seperti: politik, ekonomi, budaya dan militer.

Salah satu grand design Revolusi Industri 4.0 ini adalah pemanfaatan Internet of Thing (IoT). Dan sekarang berbondong-bondong mau melawan Oligarki dengan modal banjirnya informasi, ikut diskusi beruntung bisa sebulan sekali, belum lagi tradisi baca tulis yang isinya plagiasi.

Oligarki berasal dari Bahasa Yunani yaitu, Oligon dan Arkho. Oligon berarti sedikit, dan Arkho berarti memerintah. Maka, pemaknaan dua kata yang diambil dari bahasa Yunani itu menghasilkan istilah Oligarki atau Oligarkhia, yaitu suatu bentuk pemerintahan atau kekuasaan yang dijalankan oleh sekelompok elit kecil (sedikit).

Istilah ini diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang Sosiolog muda Jerman bernama Robert Michels dalam bukunya ‘Politic Parties‘ tahun 1911. Menurutnya, suatu organisasi (kelembagaan) akan selalu dipengaruhi adanya sebuah pertarungan tanpa henti antara kepentingan massa dengan kepentingan elit.

Sehinggu, gagalnya sistem demokrasi oleh karena terjadinya dinamika didalam internal organisasi yang cenderung direpresentasikan oleh elit politik sebagai penyedia intelektualitas, finansial dan pemimpin. Lalu, bagaimana dengan dua dekade reformasi negeri kita?

Dalam buku Jeffry A. Winters “Oligarchy” disebutkan bahwa oligarki dapat dikelompokkan ke dalam dua dimensi sesuai dengan mekanismenya. Pertama, oligarki terjadi atas dasar kekuatan modal kapital. Kedua, oligarki dapat menggurita secara sistematik dalam kerangka kekuasaan.

Fenomena yang terjadi saat ini, dengan iklim demokrasi yang menumbuh suburkan multi partai namun kenyataannya masih memberikan celah terjadi gurita oligarki. Partai politik dikuasai oleh segelintir elit dengan kepentingannya. Sementara, Ketua Partai beserta lingkarannya memiliki kewenangan penuh dan bersifat superioritas dalam pengambilan keputusan (Decision Making).

Hal ini yang menyebabkan Partai Politik mengalami kemunduran dalam proses kaderisasi, oleh karena Partai mengutamakan finansial untuk membesarkan pengaruh Partai. Sementara, konstituen (masyarakat) hanya dilibatkan sebagai obyek politik lima tahunan. Banyak konstituen tidak mengenali latar belakang, visi dan misi calon wakil rakyatnya. Partai politik menjadi sangat pragmatis dalam perekrutan caleg. Mengesampingkan kualitas kader parpol karena kalah dengan pendanaan dan popularitas.

Sesuai dengan beberapa fakta yang terjadi belakangan ini, seolah rezim saat ini tidak lagi mengindahkan cita-cita reformasi. Reformasi pemilu misalnya, sistem kepartaian kita semakin menunjukkan peran dan fungsi partai yang melemah.

Sistem pemilu proporsional terbuka menjadikan high cost politic sebagai ruang demokrasi transaksional di dalam internal partai. Politik transaksional yang semakin menguat terjadi karena sudah bukan hal yang baru jika terjadi adanya praktik tidak sehat antara kolaborasi penyelenggara Pemilu, Parpol, dan Birokrasi.

Jika dilihat dari segi elektoral tentu masyarakat memiliki antusias yang cukup membaik setiap edisi pemilu, namun dari segi hukum dan budaya justru sebaliknya semakin memburuk. Demokrasi elektoral masih dapat dikatakan belum secara substantif berjalannya sebuah demokrasi yang semestinya.

Dengan kata lain, tidak koheren untuk pelaksanaan sistem presidensial yang dicita-citakan. Tumpang tindih antara sistem presidensial dengan kekuatan parlemen. Kombinasi antara sistem presidensial dengan multi partai masih tidak ideal.

Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.