Senin, April 12, 2021

Nadiem Makarim dan Lelucon Link and Match

Gundala Putra Petir dan Hak Kekayaan Intelektual

Hari ini penikmat film tanah air dimanjakan oleh kehadiran salah satu film pahlawan super lokal berjudul Gundala. Film ini merupakan adaptasi dari komik Gundala...

Membuktikan Hoaks Ambulans Pembawa Batu Denny Siregar

Setelah cuitannya tentang ambulans Pemprov DKI membawa batu untuk perusuh terbukti tidak betul, Denny Siregar meminta maaf kepada Pemprov DKI.  Meskipun meminta maaf, ia...

Memimpin adalah Menderita

"Leiden is lijden!". Memimpin adalah Menderita. Begitulah bunyi pepatah kuno Belanda yang dikutip oleh Mohammad Roem dalam karangannya berjudul "Haji Agus Salim, Memimpin adalah...

Tagar Lulusan UI dan Lampu Kuning Perusahaan

Baru-baru ini jagad media sosial diramaikan dengan sebuah tagar #lulusanUI yang menjadi trending topik pembahasan dan hujatan di Twitter. Ya, hal itu disebabkan atas...
Khabibur Rohman
Dosen IAIN Tulungagung

Mengatakan satu pos kementerian atau lembaga pemerintahan lebih baik dan strategis dibanding yang lain tentu saja tidak tepat. Antara satu kementerian dengan kementerian yang lain memiliki peran dan fungsi masing-masing yang sama besar dan bersifat saling melengkapi.

Hanya saja, jika mengacu pada pidato Presiden Joko Widodo pada pelantikannya tempo hari (20/10/2019), rasanya menempatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud  Dikti) sebagai ujung tombak pada Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin rasanya tak berlebihan. Dalam pidato pertamanya usai dilantik, presiden menyampaikan komitmennya menjadikan pembangunan SDM yang unggul sebagai prioritas.

Jika Jokowi memegang teguh komitmen tersebut, bisa dipastikan Kemendikbud–Dikti akan menjadi kementerian yang paling sibuk di pemerintahan Jokowi pada periode kedua ini. Pembangunan sumber daya manusia yang unggul adalah domain kerja Kemendikbud – Dikti, tentu saja tanpa bermaksud mengesampingkan peran Kemenko PMK, Kemenristek KBRIN, dan kementerian yang lain.

Jika pada periode sebelumnya pembantu Jokowi yang mendapat panggung paling banyak adalah Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR, seharusnya pada periode ini Nadiem Makarim adalah penguasa panggung. Nadiem adalah striker yang diharapkan mencetak banyak gol dan membawa Indonesia unggul atas lawan-lawannya.

Tapi, berkaca pada pemerintahan Jokowi pada periode pertama, kita harus bersiap jika kembali dikecewakan untuk kali kedua. Pada 2014 yang lalu, sebenarnya Jokowi juga telah berkomitmen serupa, hanya dengan frasa yang berbeda. Masyarakat Indonesia tentu saja tidak asing dengan jargon fenomenal pemerintahan Jokowi, “Revolusi Mental”. Namun alih-alih membangun dan meingkatkan kualitas sumber daya manusia serta merevolusi mentalitas rakyat Indonesia, Jokowi lebih banyak bergulat dengan pembangunan infrastruktur.

Mudah sekali menyebut pencapaian pemerintahan Jokowi dalam pembangunan infrastruktur ketimbangkan pencapaian pemerintahan dalam bidang pembangunan manusia. Dalam 5 tahun pemerintahannya, ada 980 KM jalan tol, 3.793 KM jalan nasional, 2.778 jalan perbatasan, 15 bandara baru, 65 bendungan, LRT dan MRT, dan masih banyak lagi capaian dalam bidang infrastruktur. Lalu apa capaian pemerintahan Jokowi dalam pembangunan SDM? Meski sulit untuk melakukan pengukuran capaian dalam bidang pembangunan manusia, kita semua tahu bahwa kualitas SDM tak banyak berubah.

Simplifikasi, Miskonsepsi dan lelucon Link and Match

Pemerintah dan terutama Menteri Pendidikan kerapkali melakukan simplifikasi dan miskonsepsi tentang pendidikan. Salah satu contoh simplifikasi yang dilakukan pemerintah dalam dunia pendidikan adalah berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pemerintah berkeyakinan bahwa dengan meningkatkan kesejahteraan para tenaga pendidik, maka secara otomatis kualitas pendidikan akan juga meningkat. Pada kenyataannya kebijakan memberikan sertifikasi pada guru dan dosen tidak pernah benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan secara signifikan. Maka ketika anggaran pendidikan telah sedemikian besar tapi kualitas pendidikan tak kunjung meningkat secara signifikan bisa dimaklumi.

Benar bahwa peningkatan kualitas tenaga pendidik adalah harga mati untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, tapi hal itu tidak bisa dilakukan hanya dengan memberi mereka iming-iming kesejahteran dan memaksa mereka ikut pelatihan.

Lebih dari itu yang sebenarnya lebih perlu ditingkatkan dari para guru dan dosen adalah mentalitasnya. Mentalitas untuk tidak berhenti belajar. Banyak guru dan dosen yang sudah berhenti belajar setelah mereka lulus. Hal yang wajib dilakukan oleh pemerintah adalah menciptakan iklim akademik yang kondusif agar hanya guru yang terus belajarlah yang boleh mengajar.

Sedangkan salah satu bentuk miskonsepsi pemerintah dan juga sebagaian besar masyarakat tentang dunia pendidikan adalah fungsi pendidikan itu sendiri. Baik Jokowi-Ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandi, kompak mengusung program “link and match” pada debat kandidat calon presiden yang lalu.

Paradigma ini mensyaratkan lembaga pendidikan untuk melakukan penyesuaian dengan industri. Lembaga-lembaga pendidikan harus mendesain agar para lulusannya memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh industri. Dengan kata lain, paradigma ini menganggap sekolah adalah sarana untuk mencari kerja, dan lembaga pendidikan adalah produsen tenaga kerja.

Setidaknya hal itulah yang disampaikan Jokowi pada saat memperkenalkan Nadiem Makarim kepada publik sebagai Mendikbud. “Kita akan membuat terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM yang menyiapkan SDM siap kerja, siap usaha yang link and match antara pendidikan dan industri ada di wilayah Mas Nadiem”. Dari sini jelas akan dibawa kemana pendidikan Indonesia.

Jika mengacu pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional Indonesia harusnya adalah mengembangkan potensi para peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan berbagai ketrampilan lain yang dibutuhkan diri dan lingkungannya.

Jika ada hal yang urgen untuk diperbaiki dari dunia pendidikan di Indonesia, maka hal itu adalah cara pandang kita terhadap pendidikan. Pendidikan tidak seharusnya diposisikan seperti lembaga pelatihan yang mencetak tenaga-tenaga terampil sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan harus didudukkan sebagai tempat membahagiakan dimana setiap anak bisa mengembangkan potensi dirinya. Pendidikan harus dijadikan sebagai sarana optimalisasi nilai-nilai kebaikan dalam diri setiap individu.

bahwa banyak yang meragukannya sebagai Mendikbud Dikti, Nadiem dalam wawancara dengan beberapa media menyampaikan bahwa program kerjanya dalam 100 hari pertama adalah mendengarkan masukan dari para pakar pendidikan. Langkah ini tentu saja patut diapresiasi. Kemampuan mendengarkan adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap pejabat dan pemerintah. Selain itu Nadiem juga menyampaikan bahwa salah satu terobosan dalam dunia pendidikan adalah membangun kolaborasi.

Terkahir, saya ucapkan selamat bekerja dan semoga sukses kepada Nadiem Makarim. Izinkan saya mengutip pernyataan Nelson Mandela untuk Anda jadikan pegangan, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Segala permasalah yang dihadapi Indonesia saat ini, baik itu korupsi, narkotika, kemiskinan, intoleransi-radikalisme dan berbagai masalah lainnya, solusinya ada pendidikan.

 

Khabibur Rohman
Dosen IAIN Tulungagung
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.