Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Muhammadiyah untuk Papua

Menunggu Jawaban Sang Maestro Hukum

Selamat dilantik kembali Presiden Jokowi. Banyak sekali harapan kita selaku rakyat kecil terhadap kemajuan bangsa ini. Akan tetapi banyak pula kekecewaan dan keresahaan pada...

Tite dan Pondasi Kejayaan Brazil

Mimpi Brazil bersinar di Piala Dunia 2018 sirna. Lajunya terhenti di babak perempat final akibat gagal menaklukkan Belgia. Tim favorit juara itu harus menelan...

Menyoal Urgensi Jaminan Produk Halal

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini tidak lagi berwenang menerbitkan sertifikasi halal untuk produk makanan minuman. Meski demikian, Kementrian Agama (Kemenag) menekankan jika MUI masih...

Virus Politik Pembunuh Demokrasi Kita

Apa yang menjadi sinyalemen penulis beberapa waktu ke belakang kini semakin menjadi kenyataan. Usulan amandemen terhadap UUD 1945 untuk menghidupkan kembali GBHN berkembang menjadi...
Abdul Rasyid
Milenial Muhammadiyah | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University

Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia sekaligus organisasi Islam tertua yang masih eksis hingga saat ini. Selain dikenal sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah juga dikenal sebagai organisasi sosial-kemasyarakatan. Hal ini tidak lepas dari kiprah Muhammadiyah dalam merespon isu-isu sosial-kemasyarakatan dalam rangka membangun manusia dan negeri ini.

Indonesia bagi Muhammadiyah sudah seperti anak kandung sendiri. Sebelum Indonesia lahir, Muhammadiyah jauh sebelum itu sudah lahir pada tahun 1912. Maka dari itu, Muhammadiyah selalu membersamai anaknya yakni Indonesia untuk terus bergerak maju dengan berbagai amal usaha dan kiprah kader-kadernya di semua lini. Jargon ta’awun (memberi) untuk negeri selalu menggema di tengah-tengah warga Muhammadiyah grass root (akar rumput) sampai jajaran pimpinan pusat.

Pada awal berdirinya Indonesia, kader-kader terbaik Muhammadiyah turut memberikan sumbangsih yang amat besar. Soekarno mewakili salah satu kader Muhammadiyah yang berjasa besar bagi negara ini. Ada nama-nama lain seperti KH Ahmad Dahlan, Siti Walidah, KH Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Kahar Mudzakkir, Jenderal Soedirman, Mohamad Roem, Ir Djuanda, hingga dr Soetomo. Mereka berdedikasi maksimal di bidangnya masing-masing.

Bentuk kecintaan Muhammadiyah kepada bangsa ini yaitu melalui kerja nyata dalam membangun Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan istilah Muhammadiyah sedikit bicara banyak bekerja. Kerja nyata Muhammadiyah dapat dengan mudah kita jumpai melalui amal usahanya. Muhammadiyah mendirikan banyak AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) yang terdiri dari taman kanak-kanak, SD/MI, SMP/MTs, SMA/K, pondok pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan dan lain sebagainya yang jumlahnya lebih dari 10 ribu.

Amal usahanya membentang dari Sabang sampai Merauke, dari kota hingga pelosok desa. Semuanya dilakukan untuk memuliakan martabat manusia. Bukan untuk mengislamkan atau bahkan memuhammadiyahkan semua orang. Tapi gerakan dakwah Muhammadiyah dilakukan atas dasar prinsip-prinsip kemanusian universal, murni untuk melaksanakan tugas suci kemanusiaan.

Kiprah Muhammadiyah dilakukan dengan tulus dan ikhlas berlanjut hingga sampai hari ini. Muhammadiyah tidak ingin sekadar membantu dengan memberikan bantuan saja, lebih dari itu Muhammadiyah ingin memberdayakan masyarakat, menjadi masyarakat mandiri dan berdikari dengan berbagai program pemberdayaannya. Muhammadiyah bukan akan, tapi sudah melakukan program pemberdayaan ini dan akan terus mengembangkannya. Khususnya berbuat lebih untuk Indonesia bagian Timur dan menjadikannya sebagai prioritas.

Kampung Warmon Kokoda di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat merasakan betul suntikan vaksin masyarakat berdaya dari Muhammadiyah. Melalui MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) masyarakat Kokoda yang semula nomaden karena belum memiliki rumah, kini sudah memiliki lahan perkampungan sendiri.

Mulai dari pembebasan lahan, memberikan bantuan rumah, hingga mengajarkan masyarakat untuk bercocok tanam dan berternak. Dalam rangka menguatkan pendidikan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kemudian mendirikan taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan rumah baca.

Selain itu Muhammadiyah mendirikan SMP, SMA Muhammadiyah Sorong, juga perguruan tinggi Muhammadiyah yaitu Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda Sorong).  Belum lagi SMP, SMA/K Muhammadiyah dan perguruan tinggi Muhammadiyah yang berada di Provinsi Papua.

Menurut Prof Lincolin Arsyad (Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan), amal usaha di bidang pendidikan ini tujuannya hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan bersifat inklusif (terbuka). Bukan alat untuk memuhammadiyahkan atau mengislamkan.

Inklusif dalam artian menerima siswa atau mahasiswa dari mana saja, etnis mana saja, dan agama mana saja. Oleh karena itu 80 persen lebih mahasiswa Unimuda adalah non Muslim. Unimuda juga memiliki SMP dan SMA Labschool di sebuah pulau yang bernama Pulau Arar. Penduduknya 98 persen masyarakat Papua. Dengan adanya SMP dan SMA Unimuda, anak-anak di pulau tersebut ada yang sudah jadi TNI, Polri, PNS, guru, bidan dan lain sebagainya.

Dalam rangka menguatkan program pemberdayaan yang dilakukan Muhammadiyah, Universistas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sejak 2014 sudah melaksanakan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal).

Pada tahun 2019 UMY menerjunkan sebanyak 204 mahasiswa yang ditempatkan di Sorong, Papua Barat untuk penguatan pendidikan dan minat baca. Kemudian dalam waktu dekat Muhammadiyah melalui Majelis PKU (Pembina Kesehatan Umum) akan membangun rumah sakit di Papua, sebelumnya Muhammadiyah juga membangun rumah sakit di Sorong, Papua Barat.

Menurut Prof Sunyoto Usman (Guru Besar UGM) pernah mengatakan, bahwa apa yang dilakukan Muhammadiyah di Indonesia Timur menjadi satu referensi dalam menjaga keutuhan bangsa. Muhammadiyah mendirikan  lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Pembangunan di Jawa oritentasinya adalah membawa keuntungan, kalau pembangunan di Indonesia Timur lebih membawa rasa keadilan.

Belakangan ini, Muhammadiyah bersama Perkumpulan Sepakbola Uni Papua melakukan penandatangan MoU, menjadikan sepakbola sebagai salah satu sarana membangun bangsa, mempersatukan bangsa.

Menurut Dr Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah, sepakbola merupakan wahana yang paling cair, tapi yang disesalkan belakangan ada muatan negatif rasialisme. Kerjasama tersebut bertujuan untuk membangun karakter bangsa, agar sepakbola bisa melahirkan masyarakat yang cinta damai, cinta persaudaraan, dan cinta keragaman.

Pemerintah tidak bisa sendirian untuk membangun negeri. Tentu harus melibatkan seluruh elemen masyarakat Indonesia, termasuk organisasi sosial-kemasyarakatan Muhammadiyah dan yang lainnya. Muhammadiyah sebagai orangtua sudah barang tentu akan selalu membantu, memberikan yang terbaik untuk anaknya, Indonesia.

Abdul Rasyid
Milenial Muhammadiyah | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Civil Society, Pariwisata Nasional, dan Dikotomi Ekonomi Vs Kesehatan

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa terbesar nomor dua (280 triliun Rupiah pada 2019) di Indonesia untuk kategori non-migas. Ini...

PKI dan Narasi Sejarah Indonesia

Bagaimanakah kita menyikapi narasi PKI dalam sejarah Indonesia? Sejarah resmi mencatat PKI adalah organisasi politik yang telah menorehkan “tinta hitam” dalam lembaran sejarah nasional,...

Janji Manis Penyelesaian HAM

Setiap memasuki bulan September, negeri ini selalu dibangkitkan dengan memori tentang sebuah tragedi kelam yang terjadi sekiranya 55 tahun silam. Peristiwa diawali dengan terbunuhnya enam...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.