OUR NETWORK

Muhammadiyah, Kebudayaan sebagai Panglima?

Inilah salah satu alasan mengapa Muhammadiyah terus ikut serta dalam ritual-ritual gerebek Kesultanan.

Jika kita mencermati asal usul kata sejarah dapat kita temukan bahwa kata sejarah sesungguhnya berasal dari bahasa Arab, yaitu syajaratun, yang berarti pohon, silsilah dan asal usul. Yang dapat dibaca syajarah yang berarti pohon kayu.

Seperti dapat kita cermati bersama bahwa sebuah pohon senantiasa mendeskripsikan proses bertumbuh dan berkembang dari bumi ke udara. Dalam proses tumbuh dan berkembang tersebut, kemudian memunculkan cabang, dahan atau ranting, daun, kembang, dan buah. Karena memang, sejarah selalu menggamrkan proses tumbuh, hidup dan berkembang terus-menerus.

Dengan demikian, karena manusia sebagai makhluk yang berpikir, sehingga mampu menciptakan aneka-aneka perubahan dan kebudayaan. Sejarah tidak akan ada tanpa manusia karena hanya manusia yang mampu membangun (merekonstruksi) dan menciptakan segala sesuatu dibanding kehidupan, dibanding dengan makhluk hidup lain.

Selain itu, sejarah membutuhkan waktu, waktu adalah isi, kreativitas dan perubahan. Tanpa waktu, sejarah tidak akan ada. Karena dengan waktu sejarah menjadi dinamis. Pun jika manusia diam, statis atau tidak berubah maka tidak bisa melakukan perubahan dan menciptakan kebudayaan.

Artinya bahwa, dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini adalah bagian dari proses sejarah umat manusia, karena manusia sebagai manusia sejarah yang mampu melahirkan aneka-aneka perubahan di masyarakatnya.

Oleh karena itu, keberadaan sejarah sangat penting ketika manusia menjalani kehidupan di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di organisasi gerakan. Begitupun kita sebagai manusia bisa mencermati proses kelahiran dan dinamika perubahan yang dialami masyarakat maupun organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah.

Ketika Muhammadiyah berdiri tahun 1912, seluruh dunia muslim masih berada di bawah penjajahan. Belum banyak yang merdeka secara politis dari cengkeraman imperialisme dan kolonialisme Barat. Di tengah-tengah kesulitan seperti itu Muhammadiyah berdiri dengan membawa optimisme baru. Kata-kata atau slogan “Islam yang berkemajoean” amat didengung-dengungkan saat itu.

Mungkin belum disebut Islam “modern” atau reformis” seperti yang disematkan orang dan para pengamat pada paroh kedua abad ke-20. Namun, dalam perjalanan waktu selanjutnya, identitas gerakan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari arti penting dakwah dan tajdid.

Kata kunci dakwah dan tajdid terkait dengan mengemban dan mengamalkan risalah Islam, mengajak kepada kebaikan (al-khair) dan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar. Sedangkan sistem tata kelolanya, usaha dakwah dalam artian luas tersbut memerlukan tajdid, baik yang bersifat pemurnian maupun pembaruan.

Dengan demikian, ada 2 poin penting mengenai relevansi pemikiran kebudayaan organisasi Muhammadiyah di era awal (masa lalu) dan era sekarang (masa depan):

1. Merawat Kebudayaan

Organisasi Muhammadiyah tidak anti budaya atau mengabaikan budaya Jawa. Karena memang pada dasarnya, ketika kita membaca dan mencermati sejarah berdirinya organisasi Muhammadiyah sendiri memiliki hubungan yang sangat kuat dan dinamis dengan budaya local (Jawa).

Karena memang Muhammadiyah secara geografis lahir di Yogyakarta yang merupakan pusat kebudayaan Jawa. Pendirinya, Raden Ngabehi Muhammad Darwisy (KH Ahmad Dahlan), adalah abdi dalem pamethakan di Keraton Ngayogyakarta Haginigrat. KH. Dahlan mampu mewarnai keraton dan masyarakat Jawa tanpa harus memusuhinya atau menyingkirkannya.

Justru pada saat periode awal berdirinya menjadikan Islam dan kebudayaan sebagai entitas tunggal. Contoh nyata, Muhammadiyah mengapresiasi budaya Jawa adalah sikapnya terhadap gerebek.

Tiga garebek besar secara rutin diadakan di Kesultanan Yogyakarta, yaitu Gerebek Mulud, Gerebek Besar, dan Gerebek Pasa. Muhammadiyah menganggap praktik-praktik gerebek sebagai sarana dakwah Islam. Inilah salah satu alasan mengapa Muhammadiyah terus ikut serta dalam ritual-ritual gerebek Kesultanan.

2. Sikap Toleran/Inklusif

Di saat yang sama poliklinik Muhammadiyah menyediakan santunan bagi rakyat miskin, orang-orang Tionghoa dan Belanda. Bersamaan itu pula gerakan ini juga menerima dari bangsa-bangsa lain yang beragama bukan Islam.

Kepedulian gerakan ini pada penderitaan orang lain PKO dengan lembaga rumah miskin, yatim-piatu dan santunan bagi gelandangan, membuat gerakan ini cepat berkembang dan memperoleh dukungan dari berbagai kalangan, baik umat Islam atau Nasrani juga Konghucu dan Budha.

Sikap toleran dan terbuka serta adaptif terhadap pengalaman kebaikan diri bangsa-bangsa lain seperti itu justru antara lain membuat gerakan ini memeroleh sorotan dan kritikan tajam dan cemoohan.

Misalnya muncul ucapan, Muhamamdiyah itu kafir, agama baru, menghilangkan kesucian agama Islam, ajarannya sesat”. Kalimat-kalimat ini merupakan bagian dari cemoohan publik terhadap warga muhammadiyah dan organisasinya diberbagai daerah di tahun-tahun awal gerakan ini berdiri hingga 1950-an. Ketika muhammadiyah menyebar ke suatu daerah di tahun-tahun tersebut, aktivisnya akan segera memeroleh dampratan dengan cap-cap miring seperti itu.

Di satu sisi, sikap tersebut merupakan pembangkitan nergi dari luar bagi kegiatan Muhammadiyah pada era awal gerakan ini berdiri, tumbuh dan berkembang. Kemudian hari, gerakan ini terkesan anti-jawa, anti-sufi, dan anti-budaya asing. Dan dikenal sebagai gerakan yang kelahirannya dipandang sebagai perlawanan atas segala Kristenisasi.

Padahal, sejak awal, gerakan ini justru banyak terinspirasi tradisi bangsa-bangsa modern yang Nasrani dan bangsa-bangsa yang hadir bersama masuknya kolonialisme. Kiai Dahlan mengambil fungsi-fungsi pragmatis dari kaum Kristiani dalam mencapai tujuan-tujuan social. Ia juga terinspirasi oleh gerakan pemurnian di Timur Tengah untuk menemukan subtansi ajaran islam, selain alasan alasan rasional dari Abduh dan Rasyid Ridha.

Permasalahan utama yang dihadapi gerakan Muhammadiyah dan gerakan Islam yang sudah mapan ialah kegagalan membaca pesan sentral pendiri gerakan tersebut. Pada umumnya aktivis gerakan Muhammadiyah lebih memahami gerakan tersebut sebagai gerakan pemberantasan TBC yang jauh dari minat membela kaum dhuafa hanya karena kecenderungan tradisi kehidupan kelas bawah itu diselimuti aura TBC.

Banyak orang kurang memahami dan bisa membedakan antara hasil (meninggalkan tradisi pemborosan) dengan bagaimana proses sosial-budaya yang mendorong tumbuhnya kesadaran rasional dan laku objektif seseorang atau sekelompok orang  (umat dan masyarakat).

Dalam hubungan itulah kiranya kritik Kuntowijoyo terhadap gerakan Islam dan gerakan Islam pada umumnya patut dicerna. Kritik Kuntowijoyo (Muslim Tanpa Masjid) bahwa Muhammadiyah adalah gerakan budaya tanpa kebudayaan, penting menjadi catatatan abad keduanya.

Ini terlihat ketika Muhammadiyah sekedar meniru Kiai Ahmad Dahlan tanpa memahami gagasan dan etos gerakannya. Daya kreatif ijtihad (pembaharuan) bagi kemajuan dan kesejahteraan umat membeku, terperangkap birokrasi organisasi, gurita pendidikan dan rumah sakit, sehingga terasing dari kehidupan rakyat. Hal serupa dihadapi bangsa ini ketika praktik pendidikan nasional menjadi ritual dan kehilangan etos budaya kreatif. Karena itu, sudah saatnya kebudayaan menjadi panglima dalam gerakan persyarikatan Muhammadiyah.

Mahasiswa di Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…