Minggu, Maret 7, 2021

Merdeka dari Rasisme Elite Politik Indonesia

Prostitusi Daring Butuh Solusi

Baru-baru ini jajaran Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap seorang wanita publik figur karena diduga terlibat kasus prostitusi dalam jaringan (daring) yang diamankan dari salah...

Esemka dan Jokowi

PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) telah resmi meluncurkan mobil pada Jumat 6 September 2019. Sebenarnya Esemka mulai booming dan dikenal publik pada tahun 2012. Jokowi...

Crosshijaber, Antara Teror dan Perilaku Menyimpang

Indonesia mampu menampilkan hal-hal baru, baru namun bernilai positif, masih bisa ditolerir. Tetapi jika yang baru ini adalah sesuatu yang aneh, tak lazim, dan...

Riba Dilarang, Bunga Bank Boleh? [1]

Tulisan ini khusus menanggapi tulisan dari Sdr. Mun’im Sirry dalam tulisan berjudul “Riba Dilarang, Bunga Bank Boleh” di laman web ini. Tulisan saya akan...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Tayangnya film Bumi Manusia menjadi pengobat rindu bagi para penggemar karya legendaris sastrawan nasional Pramoedya Ananta Toer. Jadwal tayang di bioskop bertepatan menjelang perayaan kemerdekaan 74 tahun Republik Indonesia jadi momentum sekaligus menyimpan sisi ironis di dalamnya. Kenapa menyimpan ironis?

Ya, adalah sosok Minke, tokoh samaran “sang pemula” jurnalisme nasional Tirto Adhie Surjo, berjuang melawan hukum kolonial yang membelenggu kisah asmaranya dengan Annelies. Minke adalah panggilan melecehkan dari teman-teman sekolahnya orang-orang Belanda, yang berarti “monyet”.

Papua

Persis kemudian lontaran berbau rasis “monyet” ditumpahkan kepada sesama anak bangsa yang kebetulan berasal dari ras Melanesia. Mahasiswa asal Papua yang tengah menimba studi di Pulau Jawa menjadi bulan-bulanan kaum rasis dengan topeng nasionalisme Indonesia. Menyedihkan.

Sudah beberapa tahun belakangan menguatnya politik identitas tidak hanya menghasilkan sentimen intoleransi, tetapi juga rasisme terhadap etnis tertentu. Masih lekat dalam ingatan ketika saudara-saudara kita dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang jadi kambing hitam dalam kasus Lapas Cebongan.

Setali tiga uang dengan mereka yang sama-sama berasal dari daerah Indonesia Timur, dan kebetulan sama-sama berkulit lebih gelap. Situasinya makin rumit ketika sebagian elemen di Papua sudah sejak lama menyuarakan aspirasi kemerdekaan, melepaskan diri dari negara kesatuan kita.

Semangat nasionalisme yang kebablasan dan rasis menjadi bahan bakar untuk menyulut kemelut isu Papua. Dengan dalih mempertanyakan kesetiaan terkait soal pemasangan bendera Merah Putih, sekelompok orang menggeruduk asrama Papua di Surabaya.

Ketegangan juga sempat merembet ke beberapa kota lain. Sebagai reaksi, masyarakat di sejumlah kota Papua dan Papua Barat menggelar demonstrasi yang berujung rusuh. Gejolak meledak di Manokwari, Fakfak, dan Timika. Pemerintah sampai harus membatasi koneksi internet demi meredam kerusuhan.

Apa yang terjadi terkait rasisme terhadap saudara-saudara kita orang Papua tidak dapat dilepaskan dari perilaku elite politik kita sendiri. Sudah jamak bahwa bibit-bibit intoleransi dan diskriminasi menjadi senjata demi meraup dukungan suara oleh para pemburu kue kekuasaan.

Sikap intoleran tak hanya menyasar mereka yang berbeda ras dan agama. Bukan hanya umat Kristiani yang mengalami kesulitan mendirikan gereja. Di kalangan umat Islam yang berbeda aliran pun bermunculan korban, seperti persekusi terhadap kelompok minoritas Syiah dan Ahmadiyah.

Puncaknya, gelombang aksi selama Pilkada DKI Jakarta yang menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), gubernur dengan minoritas ganda: Tionghoa dan Protestan sekaligus. Ahok lalu diseret masuk penjara dengan dalih menista keyakinan umat Islam.

Beruntung, kita berhasil melalui tahun politik yang masih menyisakan ujaran kebencian bermuatan intoleransi dan rasisme. Kita telah memilih Jokowi sebagai presiden untuk semua elemen bangsa. Begitu pula tekad untuk memindahkan ibukota ke luar Jawa demi memperkuat Indonesia-sentris.

Sudah saatnya bangsa ini menatap lembaran baru, untuk meletakkan pondasi bagi kesetaraan untuk semua. Bahwa kemerdekaan harus dinikmati oleh setiap orang warga Indonesia, termasuk saudara-saudara kita dari ujung timur Indonesia: Papua.

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.