Selasa, Oktober 20, 2020

Mencari Kasih Yesus dan Rahmat Muhammad

Selamat Datang Jokowikrasi

Pada hari Kamis (26/9) Presiden Jokowi dikabarkan bertemu dengan 40 tokoh dari beragam latar belakang, akademisi, seniman, budayawan, ahli politik, ahli hukum dan ahli...

Tak Selamanya Komunis Itu Kafir, Belajarlah dari Gus Dur

Di zaman ini, khususnya di negara kita yang serba darurat ini, istilah komunis menjadi sangat peyoratif. Komunis selalu dikaitkan dengan kebengisan, cabul, dan tentu...

Pulau Lombok yang Terdesak Pembangunan

Saya kurang tahu tepatnya, tapi entah sejak kapan pulau Lombok menjadi terkenal. Dulu, saya harus menjelaskan panjang lebar bahwa Pulau Lombok bukan Pulau cabai,...

Santrinisasi Kaum Abangan

Pertarungan laten berabad-abad dalam denyut nadi masyarakat Jawa antara kaum abangan, priayi dan santri yang dikemukakan oleh Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of...
Alfit Lyceum
alumni filsafat dan mistisisme Islam, direktur Lyceum Philosophia Institute

Malik Al-asytar, siapa yang tidak mendengar namanya. Sahabat karib yang kerap menyertai Ali bin Abi Tholib dalam peperangan ini, dikenal dengan keberanian, ketegasan dan ketangkasannya di medan laga. Di suatu ketika, ia berjalan di sebuah lorong, tempat mangkal para preman kampung.

Seperti diduga, para preman kampung yang masih berusia muda itu menunjukkan taringnya. Mereka menyetop Malik Al-asytar, berkata kasar dan menghinanya. Tampaknya, para preman kampung itu tidak mengenal siapa Malik Al-asytar. Malik tak bergeming, sedikitpun tak membalas. Ia melanjutkan perjalanannya dengan hati damai.

Di seberang jalan, seorang tua terkaget melihat perlakuan preman kampung kepada Malik Al-Asytar yang juga gubernur baru di daerah tersebut. “Apakah kalian tidak mengenal siapa yang kalian kerjain”, tanya orang tua itu. “tidak, siapa gerangan dirinya”? Kata para preman. Pria tua itu memegang kepalanya dengan kedua tangan, sembari berkata, “celakalah kalian. Dia adalah gubernur baru daerah ini, Dia lah Malik Al-Asytar jenderal perang Ali bin Abi Tholib.

Sontak, para preman itu tersentak mendengarnya. Rasa takut mulai menjalari jiwa mereka, keringat dingin pun perlahan menetes. Mereka bergerak bergegas, menyusul Malik Al-asytar. Akhirnya, mereka menemukannya dalam mesjid, sholat dua rakaat, lalu menengadahkan kedua tangan, berdoa kepada Tuhan.

Dengan tergopoh-gopoh, kaki bergetar dan suara terbata, para preman kampung itu memohon maaf kepada Malik Al-asytar. Apa jawab Malik? Sang jenderal menjawab sambil tersenyum, “ketahuilah, tidaklah aku singgah di mesjid ini kecuali untuk memohon kepada Tuhan agar kalian beroleh ampunan. Kalian adalah orang-orang yang tidak mengetahui”.

Begitulah etika, buah dari kedalaman ilmu. Kita memaafkan orang yang karena kebodohannya, melakukan kesalahan. Tak peduli, mereka meminta maaf atau tidak. Memaafkan adalah ajaran para Nabi, yang saat ini diwujudkan oleh umat Kristen dalam polemik “jin kafir dalam salib”. Mereka memaklumi kebodohan Somad ihwal makna salib. Karena itu, Somad dimaafkan walaupun ia enggan meminta maaf.

Demi kedamaian NKRI, umat Kristen menahan diri. Mereka mewujudkan sifat pengasih Yesus dalam diri mereka. Mirisnya, kita yang mengaku umat Nabiyurrohmah, sedikitpun tak ada sifat rahmat wa rahim dalam diri kita.

Kita mengaku beragama rahmat bagi semesta, nyatanya rahmat kita hanya berlaku bagi yang seiman saja. Buktinya, bukan hanya tidak meminta maaf, kita bahkan menurunkan massa rakyat ke jalan dengan semboyan “aksi bela ulama”. Somad pun, sebagai empunya statement, tak menjelaskan argumentasinya ihwal keberadaan jin kafir dalam salib Yesus.

Sebagai penganut Islam, tentu saya meyakini bahwa Islam adalah penyempurna agama-agama sebelumnya. Keyakinan ini, sepenuhnya saya yakini kebenarannya. Akan tetapi, untuk membuktikan kebenaran keyakinan, mesti dengan argumentasi dan akhlak, bukan dengan demonstrasi dan teriak.

Aksi bela ulama, bukan bukti benarnya ulama yang dibela. Jika ingin membela ulama, belalah dengan terlebih dahulu mengevaluasi ilmu dan akhlak para ulama yang akan dibela.

Pun juga, saya meyakini kesempurnaan Islam. Namun berislam, bukan tanda kesempurnaan diri. Yakni, kesempurnaan Islam tidak sama dengan kesempurnaan Muslim. Ibarat emas yang memiliki nilai, tapi tidak bagi pemilik emas.

Pemilik emas mesti memberikan nilai pada dirinya, dengan memanfaatkan emas di atas jalan kesempurnaan. Begitulah, penganut Islam yang disebut dengan Muslim, mesti menyempurnakan diri dengan cara mewujudkan nilai-nilai Islam dalam diri mereka. Tanpa itu, Muslim tak akan bernilai, betapapun ia berislam. Dia ibarat seekar kera bermahkota emas.

Diantara nilai Islam adalah meminta dan memberi maaf, demi semesta yang damai dalam keberagamaan. Sekiranya cinta dan kedamaian telah menjadi bagian dari wujud diri, niscaya kita akan meminta maaf, walaupun kita tidak merasa bersalah. Pun juga, kita akan memberi maaf, walaupun mereka yang kita anggap bersalah, enggan meminta maaf.

Umat kristen telah menjadi Malik Al-asytar, yang memaafkan tanpa tunggu dimintai maaf. Tapi sayang, kita yang Muslim, tak juga menjadi pemuda yang berani meminta maaf, demi sebuah kedamaian. Karena kesombongan mayoritas, kita bertingkah ala preman, turun ke jalan dan teriak-teriak, sembari membawa panji rahmat semesta.

Alfit Lyceum
alumni filsafat dan mistisisme Islam, direktur Lyceum Philosophia Institute
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

Adakah Yahudi yang Baik di Mata Islam?

Yahudi, selain Kristen, adalah agama yang paling tidak disukai oleh kita, umat Islam di Indonesia atau di mana saja. Entah karena motif politik atau...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

ARTIKEL TERPOPULER

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.