Minggu, Oktober 25, 2020

Membuktikan Hoaks Ambulans Pembawa Batu Denny Siregar

Wiranto Adalah Korban Orde Baru

Pada saat itu saya sedang menikmati suasana malam yang harmoni bersama segelas kopi adukan sendiri. Walaupun kopi buatan saya tidak nomero uno, tapi kopi...

Menyoal Urgensi Jaminan Produk Halal

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini tidak lagi berwenang menerbitkan sertifikasi halal untuk produk makanan minuman. Meski demikian, Kementrian Agama (Kemenag) menekankan jika MUI masih...

Aksi Terorisme, Dana adalah Kunci

Di General Santos, Filipina, sekitar 500 kilometer menyeberangi lautan dari Manado, Sulawesi Utara pada November 2015, Suryadi Mas’ud mengecek senjata. Satu persatu senjata yang...

Bahtiar Effendy dan Cita-Cita Demokrasi

Bahtiar Effendy dalam bukunya Islam dan Negara; Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia (2009) menyumbangkan rumusan strategis tentang hubungan Islam dan negara dalam formula...
Randi Reimena
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Andalas. Bergiat bersama Lab. Pauh 9, sebuah ruang riset dalam bidang ilmu sastra dan humaniora.

Setelah cuitannya tentang ambulans Pemprov DKI membawa batu untuk perusuh terbukti tidak betul, Denny Siregar meminta maaf kepada Pemprov DKI.  Meskipun meminta maaf, ia tidak mengakui bahwa cuitannya itu hoaks.  Dia menyebutnya sebagai salah paham.

“Lha kok hoaks?? Saya bilang. Kalau begitu semua media beritanya hoaks dong ?? Bedakan antara polisi bilang salah paham dengan hoaks. Hoaks itu berita bohong. Sedangkan salah paham itu, kejadiannya betul, tapi ternyata ada salah penafsiran,” kata Denny pada status Facebook-nya, 26 September 2019.

Di dalam status itu Denny mengatakan bahwa pihak yang wajib minta maaf ialah polisi, bukan media massa dan media sosial. Alasannya, “Kita kan memberitakan apa adanya, sesuai laporan di lapangan.”

Kita di sini bisa dimaknai sebagai upaya Denny untuk membuat cuitannya setaraf dengan produk jurnalistik media massa yang memberitakan masalah itu berdasarkan keterangan polisi.

Dengan begitu, dia memposisikan dirinya sebagai ‘korban’ akumulasi kesalahpahaman polisi sebagaimana media massa lainnya. Logikanya begini, kalau polisi salah paham, maka sebagaimana media massa lainnya, dia juga ikut salah paham karena mendasarkan cuitannya pada kesalahpahaman polisi.

Sementara itu, Denny membuat cuitan tidak berdasarkan keterangan polisi atau berita di media massa, tetapi berdasarkan sebuah video. Di video itu tidak ada bukti bahwa sejumlah ambulans tersebut membawa batu. Pada akhirnya memang terbukti bahwa ambulans-ambulans itu tidak membawa batu. Polisi pun sudah menyampaikan klarifikasi dan meminta maaf.

Apabila dicermati, pernyataan-pernyataan Denny itu kontradiktif. Ia mengatakan bahwa pihak yang salah paham ialah polisi. Itu betul. Kesalahpahaman itu, yang kemudian dijadikan keterangan oleh polisi saat memberikan informasi kepada media massa, tergolong hoaks.

Polisi sudah menyebar hoaks—jika kita sepakati bahwa arti hoaks ialah ‘berita bohong’—yang berasal dari kesalahpahaman. Jadi, ada hoaks yang diniatkan dan ada hoaks yang tidak diniatkan, seperti hoaks yang muncul dari kesalahpahaman atau salah tafsir ini. Dengan kata lain, hoaks adalah hasil dari perbuatan menginformasikan kabar yang tidak betul, baik itu disengaja atau tidak.

Hoaks yang diniatkan lebih tinggi kadar “dosanya” daripada hoaks yang tidak diniatkan, seperti hoaks yang muncul dari kesalahpahaman. Hoaks yang diniatkan inilah yang disebut dusta dan fitnah. Apabila hoaks tidak diniatkan, pembuat dan penyebarnya disebut telah melakukan tindakan bodoh atau teledor.

Untuk sementara ini kita anggap saja bahwa polisi memang salah paham telah menuduh sejumlah ambulans itu mengangkut batu untuk demonstran. Namun, kita tidak tahu apakah polisi benar-benar tidak tahu dari awal bahwa ambulans-ambulans itu tidak membawa batu. Jika polisi tahu bahwa ambulans itu tidak membawa batu, tetapi menyebarkan isu yang sudah jelas tidak betul, itu tidak bisa disebut kesalahpahaman, tetapi berniat menyebarkan hoaks. Semoga saja tidak begitu.

Bagaimana dengan Denny? Apakah dia salah paham juga?

Seperti telah disinggung, cuitan Denny bukanlah akumulasi kesalahpahaman polisi atau media massa. Ia membuat cuitan tidak berdasarkan keterangan polisi atau media massa, sebab itu pernyataannya kontradiktif. Di satu sisi dia menganggap cuitannya sebagai akumulasi kesalahpahaman polisi, di sisi lain dia justru tidak mendasarkan informasinya dari polisi.

Jika benar bahwa Denny hanya menyebarkan informasi yang diterimanya dari lapangan dia tetap tidak bisa berkelit, dia jelas menyebarkan hoaks. Bukti kuat ia menyebarkan hoaks ialah cuitannya ini, “Hasil pantauan malam ini.. Ambulans pembawa batu ketangkep pake logo @DKI Jakarta.” (Twitter, 26 September). Cuitan ini lebih dulu muncul daripada cuitan polisi pada akun @TMCPoldametro tentang hal yang sama.

Kata pembawa dalam cuitan Denny itulah yang mengandung hoaks. Pembawa merupakan ‘pelaku yang membawa’. Dalam aktivitas membawa tersimpan niat karena ada perpindahan tempat sesuatu yang dibawa.

Berikut makna membawa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V: (1) memegang atau mengangkut sesuatu sambil berjalan atau bergerak dari suatu tempat ke tempat lain; (2) mengangkut; memuat; memindahkan; mengirimkan. Faktanya, sejumlah ambulans tersebut tidak pernah membawa batu.

Polisi telah menjelaskan dalam banyak berita, salah satunya berita “Diklarifikasi, Polisi Sebut Batu dan Bensin di Ambulans Adalah Milik Demonstran yang Berlindung” (Kompas.com, 26 September 2019), bahwa ambulans maupun petugas dalam ambulans itu tidak membawa dan menyimpan batu dalam ambulans.Yang terjadi ialah bahwa demonstran memanfaatkan ambulans itu sebagai tempat perlindungan.

Jadi, demonstranlah yang membawa batu ke dalam ambulans. Sementara itu, Denny dalam cuitannya menuduh ambulans membawa batu. Inilah bukti kuat Denny menyebarkan hoaks. Namun, ia tidak mengakuinya dan hanya menganggap itu kesalahpahaman.

Pada tangal 27 September 2019, di akun Facebook-nya, Denny kembali berusaha cuci tangan. “Kata mereka gada batu di ambulans. Masak gede-gede gini gak keliatan […] Jadi bukan hoaks ya…” Tulisnya.

Di sini, Denny menganggap cuitannya bukan hoaks karena fakta terdapatnya batu di ambulans. Sementara, letak hoaks pada cuitannya bukan terdapat pada ada atau tidaknya batu di dalam ambulans, tapi pada kata pembawa dalam cuitannyaBatu itu sudah jelas dibawa oleh demonstran dari luar ambulans ke dalam ambulans, bukan dibawa oleh ambulans dari satu tempat tertentu menuju tempat demonstrasi.

Penyebar hoaks, sebagaimana pembuatnya, juga bersalah. Oleh karena itu, sudah seharusnya dia dihukum. Selama ini ada sejumlah orang yang ditangkap dan dijerat dengan Undang-Undang ITE karena menyebarkan hoaks yang tidak mereka buat sendiri. Analoginya begini: kita tidak bisa membenarkan perbuatan orang yang menyebarkan hoaks hanya karena orang itu tidak memproduksi hoaks tersebut.

Intinya, hoaks itu tersebar melalui tangan si penyebar dan menimbulkan kerugian bagi pihak yang tertuduh dan menimbulkan kegaduhan. Ratna Sarumpaet bahkan ditangkap karena kasus hoaks, padahal dia tidak pernah menyebarkan hoaks itu di media sosial atau memberikan keterangan di media massa.

Kabar yang disebut oleh Denny sebagai informasi di lapangan itu ialah desas-desus. Desas-desus bisa menjadi hoaks atau fakta apabila sudah dibuktikan kebenarannya. Jadi, desas-desus seharusnya tidak disebarkan kepada publik karena itu merupakan informasi mentah.

Desas-desus tentang ambulans yang mengangkut batu untuk perusuh itu sudah terbukti sebagai hoaks. Denny Siregar kemudian cuci tangan dengan membela diri bahwa cuitannya itu ialah salah paham, bukan hoaks. Padahal, yang salah paham adalah polisi, sementara cuitan Denny bukan merupakan akumulasi kesalahpahaman dari polisi atau berita di media massa.

Polisi kini menyelidiki pelaku dan motif penyebaran video tersebut. Denny Siregar sudah jelas menyebar video ambulans pembawa batu untuk demonstran, bahkan menyebarkannya mendahului polisi. Dengan semua fakta yang ada, jika Denny tidak kunjung diproses, kita tentu bertanya-tanya: mengapa polisi terkesan membiarkan begitu saja penyebar hoaks seperti Denny.

Randi Reimena
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Andalas. Bergiat bersama Lab. Pauh 9, sebuah ruang riset dalam bidang ilmu sastra dan humaniora.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.