Minggu, April 11, 2021

Mau SDM Unggul? Selesaikan Masalah Klasik Pendidikan Kita

Benar Kata Gus Miftah, Banser Tidak Perlu ke Papua

Negara ini sedang dalam keadaan yang meresahkan. Itulah kalimat pendek yang disampaikan oleh salah satu teman saya dan membuat saya benar-benar menjadi resah. Sebagai...

Perlunya Pemerintah Menertibkan Buzzer Politik

Kehadiran penggaung (buzzer) mewarnai rentetan peristiwa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Kehadiran berbagai media sosial yang dipandang telah memberikan ruang keterlibatan masyarakat dalam...

Pertarungan Wacana Pendukung dan Penolak FPI

Berdasarkan dokumen yang dicatat oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), keterangan masa izin Front Pembela Islam (FPI) sebagai ormas terdapat dalam Surat Keterangan Terdaftar (SKT)...

Tagar Lulusan UI dan Lampu Kuning Perusahaan

Baru-baru ini jagad media sosial diramaikan dengan sebuah tagar #lulusanUI yang menjadi trending topik pembahasan dan hujatan di Twitter. Ya, hal itu disebabkan atas...
Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim

Kunci penting pembangunan sebuah negara terletak pada Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Bila SDM unggul niscaya negara tersebut akan semakin maju. Mewujudkan SDM unggul inilah yang kemudian menjadi salah satu program pembangunan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin lima tahun mendatang.

Presiden Jokowi sangat yakin hanya dengan SDM yang hebat dan didukung oleh persatuan bangsa, maka Indonesia bisa menjadi negara yang hebat, negara terkuat di dunia. Keyakinan beliau ini memang sangat masuk akal dan secara empiris telah terjadi di negara-negara maju yang umumnya didukung SDM yang berkualitas.

Lalu, bagaimana meningkatkan kualitas SDM kita? Pertanyaan ini sudah dijawab sendiri oleh Presiden Jokowi, yaitu dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan. Rupanya beliu telah menyadari bahwa kualitas pendidikan kita memang belum memuaskan serta perlu percepatan untuk meningkatkannya.

Tanpa pendidikan yang berkualitas, SDM kita rendah. Berdasar laporan United Nations Development Programme (UNDP) dalam “Human Development Report 2018”, yang memakai Human Development Index (HDI) yang terdiri dari unsur pendidikan, ekonomi, kesehatan dan kependudukan sebagai indikatornya.

Di situ dinyatakan Indonesia hanya berada pada peringkat ke-116 dari 189 negara. Artinya, dibanding dengan negara-negara lain, kualitas SDM kita relatif rendah. Pantas saja kita tak mampu mengolah sumber daya alam sendiri. Dan kita hanya jadi penonton kekayaan alam dieksploitasi bangsa lain.

Maka jelas sekali pendidikan berkualitas yang dibutuhkan bangsa ini. Yang akan mengubah anak-anak generasi milenial jadi terampil, mandiri, inovatif, kreatif, produktif, jujur, disiplin, dan bertanggungjawab. Sehingga mampu melahirkan generasi yang mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang benar-benar berdaulat.

Apakah sulit menyelenggarakan pendidikan berkualitas? Tentu saja sulit. Hingga kini kita belum memiliki pemerintah yang mampu membangun sistem pendidikan yang bermutu. Fasilitas pendidikan tidak sama antara kota dan desa. Di pelosok, fasilitas pendidikan jauh dari layak. Itulah sebabnya kita menuntut pemerintah melaksanakan amanat konstitusi.

Pemerintah belum mampu mengatasi masalah klasik pendidikan. Di pelosok Indonesia, akses pendidikan masih sulit dijangkau oleh masyarakat. Belum lagi sarana prasarananya masih minim. Anak-anak sekolah harus rela belajar dengan gedung yang atapnya roboh. Bahkan ada yang tak punya gedung karena kena gusur.

Pemerintah sendiri kerap mengeluarkan kebijakan yang tak direncakan dengan baik. Kurikulum berganti ketika kurikulum sebelumnya belum sepenuhnya dilaksanakan. Lalu saban tahun terjadi kekisruhan sistem zonasi penerimaan siswa baru. Padahal, tujuannya pemerataan kualitas pendidikan.

Kemudian kompetensi guru kita juga belum bagus. Meski sudah ada kebijakan sertifikasi guru, namun belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan kita. Padahal, dana yang dikeluarkan cukup besar.

Tentu kita tak mau mutu pendidikan di negara ini terus buruk. Ini jadi PR Mendikbud yang baru, Nadiem Makarim. Anggaran pendidikan sebanyak 20% dari APBN harus dioptimalkan buat mewujudkan pendidikan berkualitas. Jangan sampai anggaran besar tetapi tanpa rancangan penggunaan anggaran yang tepat, sehingga seperti gelembung sabun, yang menguap tanpa bekas.

Langkah yang paling tepat adalah membuat cetak biru pendidikan Indonesia. Cetak biru dibuat lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Kemudian masing-masing pihak membuat komitmen untuk melaksanakan program sesuai dengan cetak biru. Setelah itu perlu dibentuk atau ditunjuk lembaga yang mengawasi dan memastikan program-program tersebut berjalan.

Kemudian perlu berbagai terobosan untuk membuka selebar-lebarnya akses pendidikan yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Pemerataan fasilitas pendidikan dipastikan sampai ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Sekolah-sekolah yang di pelosok harus dipasok sarana belajar yang memadai.

Pemerintah daerah harus mempermudah penyaluran bantuan pendidikan. Jangan sampai ada oknum-oknum yang mencari celah untuk korupsi. Perlu adanya sistem online dalam penyelenggaraan bantuan pendidikan. Sehingga bisa diawasi prosesnya. Selain itu juga tetap diperlukan peran pengawasan dari wakil rakyat maupun masyarakat. Agar bantuan tersalurkan tepat sasaran.

Lalu pemanfaatan iptek di dunia pendidikan kita tak pelak lagi menjadi sebuah keniscayaan, mengingat era Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0), big data, internet of thing, bioteknologi, digitalisasi dan seterusnya telah merambah ke segala aspek kehidupan manusia. Jadi, sekolah seyogianya melakukan adopsi teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan proses belajar mengajar. Ini dilakukan dengan pengadaan peralatan belajar mengajar, seperti misalnya iPAD, e-text book, aplikasi software, koneksi internet, dan LED TV. Semua perlatan  tersebut digunakan untuk menunjang proses pembelajaran di kelas yang lebih efektif dan atraktif bagi peserta didik di era digital.

Kebijakan zonasi guru mendesak untuk dilakukan. Ini dimaksudkan dapat terbangun aspek pemerataan guru terhadap sekolah yang ada. Pemerintah bisa mendistribusikan guru yang berkualitas secara merata di seluruh wilayah tanah air. Tak ada lagi penumpukan guru di wilayah perkotaan.

Zonasi guru harus diimbangi dengan kualitas guru yang bersangkutan. Performa guru era revolusi industri 4.0 adalah guru yang melek dengan digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, tanpa mengesampingkan pentingnya tugas mulia penumbuhan budi pekerti luhur bagi anak didik. Jadi, guru dituntut familier dengan inovasi dan unggul dalam kreasi pendidikan dan pengajaran.

Akhir kata, bila kualitas pendidikan di tanah air ini sudah membaik niscaya melahirkan SDM yang unggul. Sehingga dengan SDM unggul itu Indonesia akan semakin maju. Semoga.

Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.