Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Masih Perlukah Belajar Ke al-Azhar?

Apa Asosiasi Nadiem dengan Dunia Pendidikan Kita?

Kita kini kaget dan bertanya-tanya. Saat Presiden Joko Widodo mengejawantahkan urusan pendidikan ke Nadiem Makarim di Kabinet Indonesia Maju. Sebagai mantan pendiri perusahaan penyedia...

Senjakala Tembakau di Indonesia

Itulah sepatah kata dari seorang pecandu rokok yang kebetulan saya temui di salah satu angkringan. Dalam percakapan itu, ia menjelaskan bahwa bisnis rokok pertama...

Tragedi 11/9 dan Refleksi Wajah Islam Abad 21

Islam mengawali babak baru abad ke-21 dengan sejarah kelam, pada tanggal 11 September 2001 terjadi tragedi berdarah dengan runtuhnya menara kembar WTC (World Trade...

Sepercik Sejarah Intelijen Indonesia

Badan Intelijen Negara atau biasanya disingkat BIN ialah salah satu lembaga negara yang paling “berkabut” sekaligus kontroversial. Konon kabarnya, Indonesia sudah memiliki Sekolah Tinggi...
Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

Manakala disebut kata al-Azhar, yang terbayang di benak banyak orang pada umumnya ialah ajaran Islam yang moderat, ulama-ulama hebat, dinamika keilmuan yang hidup, masjid yang megah, ditambah dengan deretan karya monumental yang dikreasikan oleh para alumninya yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Dulu, sewaktu belum berangkat, saya juga punya pandangan seperti itu. Dan sampai sekarang pandangan saya hampir tidak berubah. Memang al-Azhar adalah tempat yang baik untuk belajar Islam. Dan memang di sinilah surganya ilmu pengetahuan itu benar-benar bisa Anda rasakan. Pengajian di mana-mana, ulama berlimpah, buku murah-murah, belum lagi dengan biaya hidup yang sangat terjangkau. Sudah begitu kuliah gratis pula!

Sayangnya, lain al-Azhar, lain lingkungan. Lain kampus, lain dunia luar. Meskipun al-Azhar menyediakan pembelajaran yang baik, tapi tidak ada jaminan kalau Anda sekolah di sini Anda bisa menjadi orang baik dengan masa depan yang baik. Mengapa bisa begitu?

Saya kira pertanyaan ini penting untuk dijawab. Apa yang saya sampaikan sama sekali tak bermaksud secuilpun untuk memberikan kesan negatif tentang al-Azhar. Sebagai salah satu anak didiknya, tidak mungkin saya berani melakukan hal itu.

Dengan apa yang saya sampaikan ini, saya hanya berharap agar para santri yang hendak melanjutkan studi kesini berpikir ulang dan menimbang-nimbang. Tidak hanya terpukau dengan sisi-sisi positifnya saja. Karena apa yang Anda bayangkan boleh jadi tidak seutuhnya benar. Anda boleh tidak setuju dengan apa yang hendak saya sampaikan. Tapi, setidaknya, inilah hasil perenungan saya selama kurang lebih tujuh tahun menimba ilmu di kampus tertua ini.

Setiap kali ada orang yang mau pergi Mesir, saya selalu bilang sama yang bersangkutan: Sebelum berangkat, lebih baik Anda baca dan kenali karakter diri Anda terlebih dulu. Anda termasuk orang yang hanya bisa belajar setelah adanya suruhan, tuntutan, dan tekanan. Atau Anda termasuk pembelajar sejati yang tak butuh dengan paksaan, juga tak hanya terdorong untuk belajar ketika masa-masa ujian?

Kalau Anda termasuk pecinta ilmu sejati, pecinta buku, suka dengan hal-hal baru, mau mandiri dalam belajar, dan tak perlu dengan suruhan orang, maka belajar di al-Azhar adalah pilihan yang tepat bagi Anda. Masuk Mesir ibarat masuk sorga sebelum ajal tiba. Semua yang Anda inginkan bisa Anda temukan di sini dengan mudah, murah, dan tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Sekolahpun gratis. Tidak bayar. Kecuali sedikit saja. Selama Anda punya biaya yang cukup untuk bertahan hidup, Anda tak perlu pusing-pusing memikirkan uang semester.

Apalagi kalau Anda mendapatkan beasiswa. Yang tidak dapat beasiswa saja bisa bertahan dengan biaya hidup yang murah meriah. Cukup dengan uang satu juta perbulan, menurut saya, Anda sudah bisa makan, minum, internetan, beli buku, bahkan mungkin jalan-jalan. Tak sebanding dengan biaya hidup sekolah di Jakarta yang konon menelan banyak biaya. Sekolah gratis, ulama banyak, berbagai macam pengajian tersedia, sudah begitu biaya hidup murah. Kurang enak apa?!

Tapi ingat, itu kalau Anda termasuk orang seperti yang saya gambarkan tadi. Orang yang tak mudah terpengaruh oleh lingkungan, mau belajar mandiri, bisa menyemangati diri sendiri, dan kalau belajar tak butuh dengan suruhan orang.

Sekarang bagaimana kalau Anda termasuk orang dengan karakter sebaliknya? Baru bisa belajar kalau ada yang nyuruh, hanya mau menulis kalau mendapatkan tugas, tidak mau membaca kecuali di masa-masa ujian, tidak mau mengaji kecuali setelah dipaksa, dan tidak mau kuliah kecuali kalau mau mendekati ujian saja.

Apakah orang seperti Anda cocok untuk menimba ilmu di sini? Dengan berat hati saya harus berkata tidak. Mengapa bisa begitu? Nanti, kalau Anda ngotot kesini, Anda akan tahu sendiri jawabannya. Sekarang saya cuma bisa bilang: Kalau Anda tidak mau masa muda Anda terbuang sia-sia, lebih baik urangkan niat Anda untuk belajar kesini. Apalagi kalau Anda berasal dari keluarga kaya raya, ditambah dengan karakter seperti yang saya sebutkan tadi. Lebih baik jangan.

Tapi kalau Anda tetap ingin berangkat, demi kemaslahatan hidup Anda, saya hanya bisa menyarankan dua hal: Pertama, perbaiki dulu karakter, niat, dan kebulatan tekad Anda, sebisa mungkin. Kedua, kalau tidak bisa, urungkan niat Anda dan cari kampus lain yang lebih baik.

Sekiranya Anda tetap ngotot, dan Anda yakin kalau suatu saat nanti Anda bisa berubah, kalau mau coba-coba ya silakan saja. Tapi, saran saya, kalau Anda punya karakter seperti yang tadi saya gambarkan itu, lebih baik jangan. Kecuali kalau memang Anda berharap ingin menjadi sampah di negeri orang.

Bukan karena al-Azhar tidak menyediakan pembelajaran yang baik, tapi lingkungan di sini boleh jadi bisa membuat Anda tidak baik. Memang lingkungannya seperti apa? Nanti Anda akan tahu sendiri. Saya hanya bisa berkata jangan. Apalagi kalau Anda memiliki karakter pemalas seperti yang saya sebutkan tadi. Mesir adalah surganya para pemalas, tapi dalam saat yang sama dia juga merupakan surganya orang-orang yang ingin belajar keras.

Di sini Anda akan hidup bebas. Kuliah tidak ada yang menyuruh, mengaji tidak ada yang memaksa, mau hidup dengan pola seperti apa saja bisa, mau belajar apa saja tidak ada yang melarang-larang, dan mau pergi ke mana saja tak ada yang bisa menahan-nahan. Apalagi kalau Anda punya banyak uang.

Hidup di Mesir jauh berbeda dengan hidup di Pesantren, yang ketat dengan berbagai macam aturan. Hidup di sini bebas. Di Indonesia mungkin Anda masih bisa belajar dengan adanya suruhan dosen, tugas makalah, ataupun kegiataan diskusi yang dilaksanakan secara rutin di dalam kelas.

Tapi kalau di sini? Saya sendiri masih bisa dihitung jari mendapatkan tugas dari dosen. Padahal saya sudah menjadi mahasiswa pascasarjana. Karena itu, kalau Anda tidak mau belajar secara mandiri, dan kebetulan Anda termasuk seorang pemalas, Anda hanya akan belajar ketika masa-masa ujian saja. Selebihnya waktu Anda akan banyak terbuang dengan melakukan hal yang sia-sia. Kalau tidak percaya, nanti Anda buktikan saja.

Intinya, berdasarkan apa yang saya amati sejauh ini, belajar di al-Azhar tidak cocok untuk semua orang, terutama bagi orang-orang malas yang hanya bisa belajar dengan adanya tuntutan dan tekanan. Bahwa dia menyediakan pembelajaran yang baik, ulama-ulama yang mumpuni, itu tak bisa dipungkiri. Tapi, lingkungan yang ada sangat tidak cocok bagi orang-orang seperti itu.

Kalau sekiranya Anda termasuk pemalas, dengan gambaran karakter seperti yang saya sebutkan tadi, lebih baik urungkan niat Anda untuk belajar kesini. Tempat ini tidak cocok bagi Anda. Apalagi jumlah mahasiswa asing di sini sudah membludak. Sudah selayaknya Anda mencari tempat lain.

Tapi, kalau memang Anda termasuk pembelajar sejati, mau belajar mandiri, dan benar-benar ingin belajar pada ulama-ulama yang mumpuni, al-Azhar bisa jadi pilihan yang tepat, selama Anda memiliki kebulatan tekad, dan selama Anda memiliki mentalitas yang kuat. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.