Senin, April 12, 2021

Liberalisme dalam Realitas Holden

Kaum Cadar, Mari Belajar ‘Neriman’ dari Kaum Sarungan

Kaum sarungan identik dengan komunitas sosial yang religius taat beragama dan acapkali di posisi proletar. Kaum sarungan lebih mementingkan kultural dalam aktivitas sosialnya dan...

Benar Kata Gus Miftah, Banser Tidak Perlu ke Papua

Negara ini sedang dalam keadaan yang meresahkan. Itulah kalimat pendek yang disampaikan oleh salah satu teman saya dan membuat saya benar-benar menjadi resah. Sebagai...

Menabrak Blokade Kekuasaan

Pupus sudah perjuangan rakyat terhadap Revisi Undang-Undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah presiden Joko Widodo mengirim surat presiden (surpres). Dalam keterangan konferensi pers yang...

Oligarki Menguat dan Reformasi 2.0

Revolusi Industri telah menjadi penanda adanya perubahan besar secara radikal terhadap cara manusia memproduksi barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari transformasi yang melibatkan penemuan...
Robbyan Abel R
Nulis pakai letek kopi.

Holden Caulfield adalah remaja berusia 16 tahun yang baru saja dikeluarkan dari sekolahnya yang terkenal, Pencey. Alasan Holden minggat dari sekolah itu, karena menurutnya, mata pelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan minatnya.

Holden hanya baik dalam pelajaran bahasa Inggris. Di samping itu, Holden ‘membenci’ – kata yang seringkali diucapkan–teman-temannya. Terutama si Bocah Ackley. Ackley adalah murid berusia 18 tahun yang menurut Holden memiliki tampang “menjijikkan” dan membuatnya tidak disukai banyak murid di Pencey.

Selain Ackley, murid lain yang juga dibenci Holden adalah Stradlater. Stradlater mulanya tidak memiliki masalah sepeser pun dengan Holden. Namun semua menjadi menegangkan ketika Stradlater memberitahu Holden bahwa dirinya akan mengencani Jean Gallagher, teman semasa kecil Holden yang memiliki Ayah seorang Pemabuk.

Kebencian Holden kepada Stradlater, muncul dari kecurigaan bahwa Stradlater akan “mengerjai” Gallagher. Karena menurut Hoden, Stradlater adalah murid yang terkenal mesum. Tidak satu pun perempuan yang dapat menampik pesonannya. Selain teman-temannya, Holden juga membenci seorang guru sejarah bernama Spencer.

Holden beranggapan jika Spencer terlalu banyak mencampuri urusan pribadinya. Yang semestinya, Spencer cukuplah mengurusi nilai sejarah Holden. Meski sampai akhir statusnya sebagai murid di Pencey, Holden tetap tidak lulus pada mata pelajaran sejarah.

Holden tidak lulus lantaran pada ujian sekolah, teradapat soal yang meminta supaya murid menjelaskan sejarah Mesir, dan Holden tidak menerangkan itu dengan baik. Bahkan secara sembarangan Holden menuliskan di lembar jawabannya, “rasanya saya tidak tertarik dengan mereka (Mesir) sekalipun apa yang Bapak (Spencer) ajarkan di kelas benar-benar sangat menarik.”

Rangkaian masalah yang menimpanya tersebut, mempertebal keinginan Holden untuk meninggalkan Pencey. Hal itu pun dilakukannya sebelum dirinya resmi dipulangkan pada hari Rabu.

Holden beranjak pergi pada Sabtu malam, sambil berteriak di lorong sekolahannya, “Selamat tidur wahai orang-orang dungu!”. Saat itu Holden memutuskan untuk bertolak ke New York dengan sisa-sisa uang yang dimilikinya. Sepanjang pelariannya inilah, cerita Holden dimulai, dan watak liberalisme diperkenalkan.

Sebelum itu, penilik akan melansir penjelasan Martin Suryajaya tentang Liberalisme. Menurut Martin, dalam tulisannya di Indoprogress.com, Kapitalisme dan Liberalisme memiliki keterikatan dalam corak pergerakannya. Kapitalisme adalah sistem ekonomi, sementara Liberalisme adalah ideologi yang membenarkan kapitalisme.

Dengan kata lain, kapitalisme adalah suatu keadaan, suatu kenyataan ekonomi, sementara Liberalisme adalah keyakinan yang melegitimasi kenyataan tersebut. The Chatcher In The Rye berusaha menampilkan suatu aktivitas semacam itu. Aktivitas yang memungkinkan seorang individu berkehendak (memiliki otoritas) atas pemberdayaan modal (ekonomi) pribadinya tanpa ada intervensi dari negara.

Pada babak awal cerita di dalam buku The Catcher In The Rye karangan J.D. Salinger ini, Holden diperkenalkan sebagai anak yang sinis terhadap realitas di sekitarnya. Bahkan oleh penerjemah, Gita Widya Laksmini, Holden diposisikan sebagai karakter yang tidak jauh dari bahasa-bahasa umpatan.

Seperti “Sialan”, “Benci”, “congek”, “kampungan”. Bahkan tidak jarang mencela kondisi fisik seseorang yang dilihatnya. Holden senantiasa membawa dirinya sebagai anak remaja yang pongah di segala tempat.

Naasnya, sifat Holden yang pongah itu, membuat orang-orang di sekitarnya memasang sikap resisten terhadapnya. Misalkan, saat Holden diperkenalkan dengan seorang pelacur  bernama Sunny melalui mucikari bernama Maurice yang bekerja sebagai penjaga lift hotel tempat Holden menginap. Holden bersepakat dengan Maurice supaya ia mengirimkan seorang perempuan ke kamarnya.

Dari yang sebelumnya bernafsu, Holden menjadi berubah pikiran karena merasa kasihan dengan kondisi Sunny yang miskin dan memutuskan memberinya lima dolar tanpa melakukan apapun.

Sunny cukup tersinggung atas perbuatan Holden kepadanya. Ditambah lagi Holden hanya membayar lima dolar, sementara Sunny meminta sepuluh dolar. Akibat perlakuannya ini, Sunny melapor kepada Maurice untuk mengambil hak penuhnya. Mereka mendatangi kamar Holden dan merampok isi dompetnya. Kejadian pada babak ini meninggalkan kesan pertentangan kelas antara borjuis dan proletar.

Di lain kesempatan setelah peristiwa itu, Holden bertemu dengan teman lamanya yang bernama Sally. Mulanya, tidak ada masalah antara Holden dan Sally, hingga mereka selesai menonton sebuah pertunjukan teater.

Namun, seperti halnya yang terjadi antara dirinya dengan Stradlater, Holden tiba-tiba membenci Sally. Holden membenci Sally lantaran Sally telah menolak ajakannya untuk hidup berdua. Holden merasa akan hidup cukup dengan uang yang dimilikinya, dan untuk urusan selanjutnya Holden bisa mencari kerja di tempat-tempat terdekat.

Sally kesal karena ia mengaggap Holden sudah gila. Ia berkata jika Holden dan dirinya masih terlalu kecil untuk membicarakan pernikahan. Sally menyuruh Holden untuk kembali bersekolah.

Namun Holden malah menghardik dengan berkata: “sekolah seperti itu selalu saja penuh sesak dengan pemuda-pemuda yang serba munafik”. Sementara Sally tetap pada pendapatnya: “ada banyak orang yang mendapat manfaat lewat sekolah. Banyak pemuda tidak seperti itu”.

Dari pertemuan Holden dan Sally serta sejumlah tokoh lain yang memiliki pola serupa, kita bisa melihat bagaimana Holden menilai realitas di sekitarnya secara kelewat subjektif. Namun di sisi lain, Holden seringkali menggeneralisir sifat-sifat manusia seolah-olah mereka hidup dalam realitas sosial yang sama.

Boleh dibilang, sifat Holden yang banal ini, sengaja dibangun oleh penulis sebagai bentuk penguatan karakter seorang remaja Amerika abad 20. Di mana pada era itu, liberalisme tumbuh subur di sana.

Sementara cara Holden menjadikan uang sebagai solusi atas segala permasalahan selama melakukan pelarian – ketimbang pulang menemui keluarga–menyiratkan suatu sifat kapitalisme terhadap dirinya.

Latar belakang Holden yang dibesarkan di keluarga borjuis, membuat kehidupannya dikelilingi oleh nuansa-nuansa matrealistik dan menjunjung cara-cara praktis untuk mempertahankan kondisi tersebut. Holden, tentu saja, telah berhasil menjadi representasi dari anak muda Amerika masa itu.

Dan pandangan Holden terhadap realitas, mengarahkan pembaca pada corak ideologi Amerika yang terbentuk karena kemenangan borjuis dari benturan-benturan konflik antar kelas.

Robbyan Abel R
Nulis pakai letek kopi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.