OUR NETWORK

Kita Tidak Boleh Mati Karena Kabut Asap

Saya menulis artikel ini sambil mengenakan masker karena asap telah memenuhi seisi rumah. Tenggorokan saya terasa terbakar dan mata saya perih. Di luar, kondisinya jauh lebih buruk.

Jumat kemarin jutaan orang, sebagian besar siswa sekolah, turun ke jalan untuk berpartisipasi dalam protes perubahan iklim global. Dari New York ke Sydney mereka menuntut para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan nyata untuk membatasi dampak berbahaya dari perubahan iklim.

Bahkan anak-anak sekolah di New York diberikan lampu hijau untuk ‘bolos’ sekolah agar bisa bergabung dalam protes ini. Di tengah kerumunan anak-anak sekolah itu sebuah plakat diangkat tinggi oleh seorang pengunjuk rasa. Tulisannya adalah: “Anda akan mati karena usia tua, saya akan mati karena perubahan iklim”.

Sementara itu, di Jambi pada hari yang sama, para siswa dikurung di dalam rumah karena pergi ke sekolah terlalu berbahaya bagi kesehatan mereka. Sebagaimana yang telah diketahui, Jambi dan beberapa daerah lain di Sumatera dan Kalimantan sedang diselimuti asap tebal sejak pertengahan Agustus karena kebakaran hutan dan lahan. Kualitas udara di wilayah ini berbahaya dan orang-orang disarankan untuk tetap berada di dalam rumah untuk durasi yang tidak diketahui.

Saya menulis artikel ini sambil mengenakan masker karena asap telah memenuhi seisi rumah. Tenggorokan saya terasa terbakar dan mata saya perih. Di luar, kondisinya jauh lebih buruk. Udara penuh dengan abu yang berserakan, matahari merah, langit abu-abu, dan bau asap menyengat lubang hidung. Di beberapa daerah lain di Jambi penampakannya jauh lebih menakutkan. Langit memerah seakan-akan api neraka hendak menjilat umat manusia.

Beberapa meter dari tempat saya duduk, anak saya yang baru berumur sepuluh bulan sedang tidur pulas. Sudah berminggu-minggu dia tidak dibawa keluar. Sudah berpuluh-puluh hari juga dia menghirup udara kotor penuh asap sebab semua jendela dan pintu ditutup dengan  rapat.

Sebagai seorang ayah, saya dan jutaan orang tua lainnya di Sumatera dan Kalimantan memiliki perasaan yang sama. Kami mengkhawatirkan kesehatan anak-anak kami. Kami tak henti dihantu rasa cemas bahwa putra putri kami  yang tercinta bisa menjadi korban berikutnya dari asap beracun yang tak kunjung hilang ini.

Namun kepada siapa kami hendak mengadu? Sikap pemerintah daerah dan pusat sudah jelas bahwa kabut asap yang menyelimuti Sumatera dan Kalimantan ini bukan tanggung jawab mereka. Jokowi, Wiranto dan Tjahjo Kumolo mengarahkan telunjuk mereka ke pemerintah daerah, tetapi yang dituduh sayangnya merasa bukan mereka yang harus disalahkan.

Gubernur Sumatera Selatan menyalahkan Jambi karena mengirim kabut asap ke wilayahnya yang ia anggap sebagai daerah bebas asap. Tetapi gubernur Jambi membantah tuduhan tersebut dan menegaskan jika asap itu dikirim dari Palembang dan Pekanbaru. Gubernur Jambi bahkan menganggap bupatilah yang bertanggung jawab atas kabut asap ini. Mereka, tegas sang gubernur, “tidak tahu apa-apa, hanya mau gembiranya saja, dan mencari duit saja”.

Dengan mental politik saling tunjuk ini, sepertinya masyarakat tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah. Ini bukan berarti pemerintah tidak berbuat apa-apa dalam menyelesaikan kabut asap ini.

Upaya aparat pemadam kebakaran yang berjibaku melawan api tidak boleh disepelekan apalagi dilupakan. Yang saya maksud disini adalah, pemerintah terlihat gagap dan tidak sepenuh hati dalam bertindak. Upaya penegakan hukum terhadap mereka yang membakar juga tidak begitu serius.  Belum lagi dengan kelalaian pemerintah dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan sebelum semuanya meluas seperti sekarang.

Sejak kabut asap memenuhi udara Sumatera dan Kalimantan, ratusan ribu penduduk di dua pulau itu didiagnosis terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan). Provinsi saya, Jambi, terdaftar sebagai daerah dengan kasus terbanyak kedua (64.147 laporan).

Perlu dicatat, ini hanya kasus yang dilaporkan dan data yang tidak dilaporkan bisa jauh lebih tinggi. Kabut asap ini juga telah menelan korban. Setidaknya sudah ada dua bayi di provinsi Sumatera Selatan dan Riau yang meninggal karena asap. Sekali lagi, ini hanya kasus yang diketahui. Kasus serupa yang tidak dilaporkan bisa jadi lebih banyak  mengingat luasnya wilayah Indonesia.

Statistik korban kabut asap di masa lalu jauh lebih buruk. Selama kabut asap 1997-1998 ada sekitar 75 juta orang Indonesia terkena dampak buruk oleh polusi udara dan air dan 11.000 lainnya meninggal karena penyakit kardiovaskular. Kabut asap kala itu bahkan menyebabkan kecelakaan pesawat, mengirim 234 penumpang pesawat Garuda Indonesia GA 152 ke dalam liang kubur.

Kabut asap 2015 menyebabkan 500.000 orang mengalami masalah pernapasan, 43 juta penduduk Sumatera dan Kalimantan menghirup asap beracun selama berbulan-bulan, dan 100.000 meninggal lebih awal. Maka masuk akal jika ratusan mahasiswa di Palembang, Jambi, Pekanbaru turun ke jalan dan mengamuk. Mereka merasakan betul betapa nafas sesak karena sudah terlalu lama menghirup abu.

Akan tetapi, meskipun protes semacam ini layak diberikan apresiasi tertinggi, keberlangsungannya perlu dipertahankan. Mesti diakui gerakan mahasiswa di tiga kota tersebut hanyalah sikap reaksioner dari kabut asap bukan kesadaran terhadap kerusakan lingkungan.

Dan yang berdemonstrasi itu hanya mahasiswa tanpa keikutsertaan murid sekolah. Padahal kesadaran tinggi akan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim di kalangan pelajar lintas institusi amat penting agar kabut asap tidak lagi terulang di masa ketika mereka menjadi pengurus negara ini nanti.

Pelajar Indonesia pada umumnya belum begitu peduli akan isu-isu lingkungan di Indonesia dan di luar negeri. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu negara yang paling tidak sadar iklim di dunia pada tahun 2006. Data terbaru (2015) juga belum memuaskan bahwa hanya 41% responden yang  disurvey menganggap perubahan iklim sebagai masalah global yang sangat serius.

Kabut asap tebal dan beracun di Sumatera dan Kalimantan harus menjadi momentum perubahan bagi siswa Indonesia. Menanam kesadaran akan lingkungan kepada generasi muda harus menjadi fokus bagi orang tua dan pendidik, dan agenda terpenting kedepannya adalah siswa dan mahasiswa  Indonesia harus bergabung dengan protes perubahan iklim global di masa depan. Tidak diragukan lagi, para pemimpin politik saat ini akan mati karena usia tua, tetapi kita tidak boleh mati karena kabut asap.

Seorang pengajar, pelajar, entrepreneur, penulis, dan petualang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…