OUR NETWORK

Kekerasan Virtual di Papua

Tapi sekali lagi Yuval membantahnya karena meragukan apakah media sosial saat ini lebih mendorong orang bergerak melakukan sesuatu bersama-sama atau malah membuat pengguna media sosial betah dan selama mungkin di depan layar. Sebab makin lama orang di depan layar media sosial berarti semakin memperkaya perusahaan seperti Facebook dan Instagram, milik Mark.

Belakangan ini kita dibuat sedih dengan edaran digital video ujaran rasis terhadap mahasiswa asal Papua yang sedang meningkatkan kapasitas sebagai mahasiswa di Surabaya.

Mulanya dipicu oleh kabar perusakan tiang bendera Merah Putih di depan asrama mahasiswa Papua itu pada Jumat, 16 Agustus 2019. Massa yang berasal dari berbagai ormas kemudian memenuhi halaman asrama dengan teriakan rasis tak beradab, bahkan dari video yang beredar, tindakan kekerasan juga dilakukan oleh aparat. Padahal saat massa berkerumun, tiang bendera masih tegak di depan asrama itu (Tempo.co, 20 Agustus 2019).

Mahasiswa sebagai simbol kaum intelektual tentu menjadi direndahkan harkatnya dan suhu panas di media sosial semakin menyulut kemarahan masyarakat Papua yang akhirnya pecah di Papua dan Papua Barat dengan pembakaran gedung-gedung pemerintahan.

Lenis Kagoya, Kepala Suku Lembaga Masyarakat Adat Tanah Papua sekaligus Staf Khusus Presiden untuk Papua, mengatakan wajar saja bila ujaran rasial itu menyulut kemarahan, terlebih menurutnya ungkapan itu sudah sangat menyakitkan.

Media sosial pada kejadian ini menunjukan ketajamannya sebagai penebas kedamaian menjadi angkara murka, sebab semua kerusuhan di Papua dan Papua Barat bermula dengan melihat sebaran provokasi dan berita bohong di media sosial.

Maka benarlah yang dikatakan Yuval Noah Hariri, profesor di Departemen Sejarah Universitas Ibrani Yerusalem, kepada Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. “Kamu bisa unfriend pertemananmu di Facebook, tapi kamu tidak bisa un- neighbour. Tetanggamu tetap akan di sana,” maksudnya, kita bisa dengan mudah menyingkiri pertemanan di media sosial, tetapi tidak demikian di dunia nyata.

Penulis buku Sapiens (2019) itu berdebat dengan Mark tentang pedang bermata dua Facebook sebagai media padat manfaat sekaligus berdampak negatif. “Tujuan saya membuat media sosial adalah agar orang semakin peduli dengan masalah di sekitarnya. Misalnya, ajakan yang mereka tulis di media sosial untuk membersihkan lingkungan dan bermain sepak bola kemudian mendorong mereka melakukannya,” terang Mark pada Yuval.

Tapi sekali lagi Yuval membantahnya karena meragukan apakah media sosial saat ini lebih mendorong orang bergerak melakukan sesuatu bersama-sama atau malah membuat pengguna media sosial betah dan selama mungkin di depan layar. Sebab makin lama orang di depan layar media sosial berarti semakin memperkaya perusahaan seperti Facebook dan Instagram, milik Mark.

Sanggahan Yuval dalam perbincangan di kanal Youtube Yuval Noah Hariri ini kemudian membuat Mark sedikit kesulitan menjawab saat ia menerangkan konektivitas yang dibanggakan Mark itu memang telah membantu meningkatkan ekonomi banyak orang bahkan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi sebuah negara, tetapi mengandung racun yang mematikan, yaitu sebagai media penyebaran radikalisme dan terorisme yang mematikan dan mengguncangkan tak sedikit orang dan negara.

Tapi media sosial hanya alat saja, sebab sejak 70.000 tahun silam, saat revolusi kognitif membuat lompatan keterampilan berkomunikasi pada Homo Sapiens (kita), sehingga dapat mengolah informasi bohong (hoax) yang disebut Teori Gosip. Karena revolusi kognitif, sapiens yang mulanya hanya bisa mengolah informasi “Hati-hati! Singa!” bisa membuat narasi “Siang itu adalah arwah pelindung suku kita.”

Sehingga kita (sapiens) memang sudah pandai membuat narasi bohong sejak dulu dan itulah keunggulan yang membuat kita (sapiens) unggul dari manusia purba lain (Yuval Noah Hariri, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, 2019).

Selain menjadi penanda ujung akar keterampilan manusia membuat berita bohong, revolusi kognitif juga menjadi mula manusia percaya pada mitos, dewa-dewi, dan agama. Akar dari keluguan pelaku teror yang konon percaya akan surga dengan 72 bidadari setelah mereka melakukan teror dan membunuh banyak orang. Sebuah keluguan yang tak ada pada spesies lain. Bahkan, simpanse sekalipun yang paling mirip dengan prilaku manusia, tak akan mau melepaskan pisang di genggamannya dengan iming-iming satu truk pisang di surga.

Melalui media sosial, sapiens termutakhir, manusia modern, menggunakan kepandaian 70 ribu tahun silam itu. Sehingga media sosial tak hanya menjadi berdaya guna besar seperti kata Mark, tetapi juga alat menyebaran paling cepat konten radikal serta bermuatan kekerasan, rasial, dan intoleran seperti kasus Papua.

Kemerdekaan dan kebebasan internet yang sedang kita rayakan ini perlu dibayar mahal dengan virtual violence (kekerasan virtual). Sebab meski tanpa tatap muka, nyatanya paparan kekerasan virtual itu meninggalkan rasa benci dan kemarahan seungguhan, nyata dalam hidup. Hal ini dapat dijawab oleh Pierre Bourdieu (1930-2002) melalui teori Kekerasan Simbolis.

Dalam Extension Course Teori Kritis yang diadakan Majalah Basis dan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Dr. J. Haryatmoko, SJ menerangkan bahwa kekerasan simbolis adalah kekerasan yang korbannya menyetujui menjadi korban. Kekerasan simbolis menjadi pintu masuk kekerasan psikis dan fisik. Dalam ranah terorisme, kekerasan ini berupa stigma dan kebencian terhadap suku, kelompok, negara, atau agama tertentu. Bentuknya melalui bahasa, simbol, dan representasi negatif yang dibangun terhadap kelompok lain.

Kronologis ujaran rasial terhadap mahasiswa Papua, merupakan salah satu contoh kekerasan simbolis yang nyata dan telah berlangsung lama. Stigma terhadap mahasiswa Papua di banyak tempat perlahan menyemai bibit kebencian di hati mereka yang selalu diperlakukan tak adil. Stigma itu perlahan juga menumbuhkan kebencian kolektif yang dapat berujung pada dorongan melakukan referendum oleh sekitar 60 mahasiswa Papua di depan Istana Negara, Jakarta pada Kamis 22 Agustus 2019.

Kekerasan simbolis semacam ini hanya bisa diretas dengan memperlakukan orang Papua tanpa pembedaan, sebaik mungkin, sebagai sesama anak bangsa. Sebab suku apapun di Indonesia dengan suku Papua sekalipun memiliki perbedaan kulit, rambut, dan perawakan, semuanya masih satu darah, darah Ibu Pertiwi Indonesia.Yohanes Bara

Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta I Duta Damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme I Bekerja di Majalah BASIS I Founder TOBEMORE Learning Center

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…