Banner Uhamka
Kamis, September 24, 2020
Banner Uhamka

Kedai Kopi, Menjanjikan Kini dan Masa Depan

Setumpuk Masalah Guru untuk Mas Nadiem

Nadiem Makarim baru saja dilantik sebagai Mendikbud, menggantikan Muhadjir Effendi. Tugas rumah di Kemdikbud, khususnya penyelesaian persoalan guru yang menumpuk belumlah rampung. Publik yang...

Lebih Baik Pindah Ibu Kota Daripada Tidak Sama Sekali

Memindahkan ibu kota terbilang gampang-gampang susah dan mesti dikaji ulang penerapannya sebelum terwujud. Akhir-akhir ini, Presiden Joko Widodo menetapkan realisasi pemindahan ibu kota dari Jakarta...

Riau Darurat Asap, Tanggung Jawab Siapa?

Seruan konsolidasi aksi BEM Universitas Riau jilid V hari ini telah disuarakan, aksi “Kami Siap Membersamai G17S! dengan hastag #RIAUDIBAKARBUKANTERBAKAR” yang akan dilaksanakan 17...

Pentingnya Tata Kelola Permukiman

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Sebagian besar wilayahnya berupa lautan, sisanya sebesar 1.919.000 km2 merupakan daratan. Luasan daratan ini melebihi luasan daratan...
Monica Seftaviani Sijabat
Mahasiswi Jurusan Statistika Peminatan Statistika Ekonomi Politeknik Statistika STIS

Kopi merupakan salah satu minuman yang paling populer di dunia. Sejak dulu hingga sekarang, minuman yang satu ini memang tetap menjadi primadona. Para penikmat pun kopi di Indonesia semakin hari semakin meningkat.

Hal ini ditandai dengan semakin menjamurnya bisnis kedai kopi atau coffee shop di berbagai kota di seluruh Indonesia. Saat ini bisnis kedai kopi atau coffee shop menjadi salah satu bisnis yang sangat menjanjikan. Hal ini dikarenakan berkembangnya tren minum kopi di kedai kopi atau biasa disebut nongkrong.

Minum kopi kini tidak hanya identik dengan kegiatan yang dilakukan oleh kaum bapak saja, anak muda pun menjadikan kegiatan minum kopi sebagai sebuah lifestyle dan sebagai sarana menunjukkan eksistensi mereka.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018, jumlah penduduk yang termasuk kategori pemuda adalah sebesar 63,82 juta jiwa.

Jumlah tersebut merupakan seperempat dari total penduduk Indonesia. Jika dilihat dari banyaknya jumlah pemuda tersebut, trend konsumsi kopi di kalangan pemuda berpotensi besar meningkatkan jumlah konsumsi kopi di Indonesia.

Pernyataan tersebut didukung oleh data yang bersumber dari International Coffee Organization (ICO) yang menunjukkan adanya trend kenaikan konsumsi kopi di Indonesia. Pada tahun 2015 ICO merilis data pertumbuhan jumlah peminum kopi di Indonesia, yaitu sebesar 8%, lebih besar daripada pertumbuhan dunia yang hanya mencapai 6%.

Selaras dengan ICO, data Hasil Proyeksi Konsumsi Kopi di Indonesia yang dirilis oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementrian Pertanian yang dirilis pada tahun 2018 pun menunjukkan terjadinya peningkatan konsumsi kopi nasional selama 4 tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan konsumsi kopi nasional mencapai angka 2,49%.

Melihat data peningkatan konsumsi kopi tersebut, tak dapat dipungkiri bahwa bisnis kedai kopi merupakan bisnis yang memiliki prospek yang baik kedepannya. Kini para pebisnis hanya perlu menginovasikan konsep kedai kopi yang unik agar dapat menarik para konsumen, sehingga mampu bersaing di dalam bisnis ini.

Inovasi dalam pilihan menu yang disajikan pun dapat memengaruhi kesuksesan kedai kopi tersebut. Saat ini kopi dapat disajikan dengan campuran berbagai bahan-bahan lain, seperti susu segar, buah alpukat, dan lain-lain.

Kualitas dari kopi yang disajikan pun dapat memberikan dampak yang besar bagi kesuksesan kedai kopi tersebut. Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, memiliki banyak jenis kopi yang ditanam di berbagai daerah di seluruh penjuru tanah air.

Menurut publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Statistik Kopi Indonesia, pada tahun 2017, luas areal perkebunan kopi diperkirakan mencapai  1.251.703 hektar, yang terdiri dari perkebunan rakyat, perkebunan besar, dan perkebunan besar negara. Luas areal perkebunan kopi ini naik dari yang sebelumnya hanya 1.246.657 hektar saja.

Perkebunan-perkebunan ini tersebar di seluruh provinsi, kecuali di Provinsi D.K.I. Jakarta, dengan Provinsi Sumatera Selatan sebagai provinsi yang memiliki areal perkebunan terluas (sekitar 263.108 hektar) dan produsen kopi terbesar (sekitar 120.904 ton), kemudian diikuti oleh Provinsi Lampung dengan luas areal perkebunan sekitar 160.953 hektar dan produksi mencapai 115.524 ton.

Walaupun Sumatera Selatan memiliki areal perkebunan terluas, namun daerah yang memiliki produktivitas tertinggi adalah Sumatera Utara yang memiliki produktivitas sebesar 1.265 Kg/Ha. Daerah-daerah di Sumatera memang terkenal akan hasil perkebunan kopinya. Kopi-kopi yang terkenal, seperti kopi Sidikalang, kopi Gayo, kopi Besemah, kopi Lampung, dan lain-lain memang sudah menjadi primadona sejak lama.

Cita rasa serta aroma yang khas menjadikan kopi-kopi ini memiliki kualitas yang tak kalah dengan kopi-kopi kelas dunia. Namun tak hanya di Pulau Sumatera saja, terdapat pula kopi-kopi khas dari pulau lain, misalnya kopi Toraja dari Pulau Sulawesi dan kopi Jawa dari Pulau Jawa. Kopi-kopi ini pun memiliki cita rasa dan aroma yang tak kalah dari kopi Sumatera. Indonesia pun memiliki kopi yang khas dan unik, yaitu kopi luwak.

Kopi ini diambil dari biji-biji kopi yang keluar bersamaan dengan kotoran hewan luwak atau musang luwak. Karena prosesnya yang tak biasa, kopi ini memiliki cita rasa dan aroma yang unik, sehingga harganya pun sangat mahal. Melihat potensi sumber daya alam yang besar ini, selayaknya bisnis kedai kopi menjadi salah satu bisnis yang dapat berkembang dengan baik di negeri ini.

Perkembangan bisnis kedai kopi ini diharapkan mampu mendorong konsumsi kopi domestik, sehingga para petani kopi lokal tidak bingung akan menjual kemana hasil perkebunannya, jika mereka ingin menjualnya di dalam negeri.

Pemerintah dan perbankan pun seharusnya dapat lebih lagi memberikan kemudahan bagi para investor/pebisnis yang hanya memiliki modal kecil untuk dapat melakukan peminjaman modal, sehingga bisnis kedai kopi ini dapat lebih berkembang lagi dan dapat memajukan perekonomian Indonesia.

Monica Seftaviani Sijabat
Mahasiswi Jurusan Statistika Peminatan Statistika Ekonomi Politeknik Statistika STIS
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

Menilik Komunikasi Publik Tokoh Politik

Komunikasi merupakan sarana yang memiliki signifikansi tinggi dalam mengkonstruksikan sebuah interaksi sosial. Hal ini dikarenakan melalui jalinan komunikasi, seseorang akan mengaktualisasikan suatu konsepsi diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.