OUR NETWORK

Kaum Terdidik, Gagal Niat

Terlebih sekarang ini adalah tahun ajaran baru

Dunia pendidikan memang selalu menarik untuk dikaji dan ditelisik, terlebih pendidikan di Indonesia. Beberapa pergantian penguasa –yang berarti berganti menteri– tak jarang berganti pula konsep pendidikan yang dianut.

Terlebih sekarang ini adalah tahun ajaran baru, hajat tahunan dimana jutaan calon peserta didik baru berduyun-duyun mencari lumbung penyedia asupan pengetahuan terbaik.

Termasuk dunia perguruan tinggi dimana para generasi muda ikut berebut kursi demi mengenyam pendidikan tinggi yang terbaik. Namun seakan ada yang membuat risau, bertambah banyaknya generasi muda yang menempuh pendidikan perguruan tinggi tak pula mendudukan kondisi bangsa ini membaik.

Mengapa tidak membaik, tentu banyak yang tak sepakat dengan berbagai macam interpretasinya. Yang jelas, jamak diketahui bahwa tingkat literasi bangsa ini masih menduduki kelompok terbawah diantara negara-negara lain, termasuk literasi dikalangan – yang katanya disebut – mahasiswa sendiri.

Bahkan laporan World’s Most Literate Nations yang dikeluarkan oleh Central Connecticut State University tahun 2016 mendudukan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara yang diriset. Miris.

Belum lagi menyambung soal dunia kerja. Data pengangguran terakhir yang dirilis oleh BPS bahwa lulusan pendidikan strata sarjana per Februari 2019 malah semakin meningkat, yaitu 25% dibanding tahun 2017.

Apa musababnya? bisa bermacam-macam. Namun salah satu media mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga penyebabnya yaitu ; keterampilan tidak sesuai kebutuhan, ekspektasi penghasilan yang tinggi dan lapangan kerja yang terbatas.

Hari ini banyaknya diploma dan sarjana di negeri ini, belum juga mampu mengerek kualitas SDM-nya secara nasional menjadi lebih baik. Lantas kemana saja para sarjana yang sudah dicetak berjibun oleh pabrik kecerdasan (baca: universitas) di negeri ini. Pun demikian dengan kemudahan akses teknologi dan informasi tak diiringi dengan semakin meningkatnya kultur produktifitas karya literasi dan akademis.

Maka jangan heran jika di kota-kota dimana kampus bertebaran sering ditemui pamflet-pamflet tertancap di pohon, tertempel di tiang listrik “Jasa pembuatan skripsi dan thesis” bahkan hingga disertasi – sungguh Indonesia banget. Dan jangan kaget pula jika plagiasi sering ditemui.  Miris.

Nampaknya ada pragmatisme di tengah masyarakat kita, yang menjadikan pendidikan perguruan tinggi semata-mata demi selembar kertas. Dimana disitu tertulis selain nama empunya, ada nilai yang konon sebagai indikator kepandaiannya. Tentu tak sepenuhnya salah jika itu menjadi tujuan utama.

Namun alangkah sayangnya bagi mereka yang beri’tikad meraih gelar kesarjanaan hanya untuk ijazah semata. Tak dapat kerja, artinya ijazah gagal menunjukan kesaktiannya. Serendah itukah esensi dan niat pendidikan generasi muda kita saat ini ?

Padahal keterdidikan tak diidentikan dengan ijazah. Mereka yang merasa terdidik seharusnya tak bersikap pragmatis. Menjadikan pendidikan semata-mata digunakan untuk kemudahan mengakses kekuasaan tertentu, popularitas serta efek keberlimpahan materi. Ketahuilah bahwa pendidikan dan ilmu itu sendiri jauh lebih mulia dari itu semua.

Nampaknya mereka yang begitu semangat belajar di universitas memang perlu penyembuhan dari kecacatan-kecacatan mindset dan niat yang membuat bangsa ini tak kunjung maju. Celakanya dunia universitas dimana ilmu diajarkan, dikritisi, dikembangkan serta divalidasi nampaknya juga punya dosa besar dalam hal ini.

Kampus seakan gagal mendoktrin para mahasiswanya, membersihkan niat dan tujuan pendidikan sedari awal dari cara berpikir yang kerdil. Secara tak langsung dunia kampus menginfiltrasi paradigma adanya gengsi, kebanggaan ataupun privilege, bahwa lulusan dunia perguruan tinggi – terlebih yang ternama – bakal laris di pasar kerja nasional an sich. Bisa dishahihkan namun tidak sepenuhnya harus dibenarkan.

Menjadikan pendidikan seakan semuanya berujung pada sekolah, ijazah dan kerja. Maka tak perlu disangsikan jika ijazah juga dijadikan “berhala” baru di era sekarang. Utama dan segala-galanya bagi penempuh pendidikan perguruan tinggi. Padahal seharusnya tugas kita semua adalah untuk meruntuhkan mitos tersebut.

Kampus pun berlomba-lomba membuat bidang studi yang paling laris dipasaran, soal kelayakan dan standar urus belakangan. Pragmatis, sadis. Universitas yang semula memiliki visi mulia, semakin terdistorsi menjadi sebatas korporasi akademis pencetak tenaga kerja. Budaya berpikir kritis terhenti ketika proses pendidikan formal dianggap sudah selesai seiring diterimanya bekerja. Akal pun mangkrak tak terurus.

Pemuda-pemuda desa jauh merantau ke kota demi akses pendidikan terbaik. Ironis ketika pendidikannya khatam malah sayup-sayup meninggalkan desanya. Kembali lagi desa tak berkembang ditinggal generasi penerusnya. Sebagian lebih memilih menjadi penghamba kapitalis di perkotaan, sebagian yang lain mungkin alergi untuk kembali ke desa karena situasi serba sulit.

Di sisi lain adalah benar jika pendidikan sebagai modal sosial dan kekuatan ekonomi. Namun jauh lebih bijaksana jika pendidikan juga menekankan pentingnya aspek moralitas kebermasyarakatan (akhlak) serta kedewasaan berpikir dan bersikap.

Ketiadaan lapangan kerja, terlalu selektif (gaji) memilih pekerjaan atau ketidakcocokan studi keilmuan dengan kebutuhan dunia kerja menjadikan alasan mereka mengganggur. Sehingga ketiadaan pekerjaan menyematkan mereka sebagai pengangguran intelektual.

Jika semua demi penghasilan materi (gaji), lantas apa bedanya mereka yang tak berpendidikan namun berpenghasilan tinggi dengan mereka yang belajar di perguruan tinggi. Artinya kalian sia-sia menghabiskan waktu, tenaga dan biaya hanya demi harapan sebuah pekerjaan. Kalian tak perlu sekolah tinggi jika esensi keterdidikanmu berujung dan dinilai dari segi materi.

Disinilah pentingnya meluruskan serta membersihkan mindset dan niat mengeyam pendidikan (ilmu). Pembersihan diri memang perlu bagi siapa saja yang memilih menuntut ilmu. Ilmu tak layak jika diperbandingkan dengan pekerjaan atau profesi. Jika pun kalian generasi terdidik secara dzahir boleh terlihat menggangur karena ketiadaan profesi, namun jangan menjadikan ilmu yang telah dicapai lembek dan nirproduktif.

Maka berhentilah kalian menganggur secara amal, moral maupun intelektual. Kecerdasan harus tetap aktif, moralitas (akhlak) harus tetap bergerak untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Sudah keharusan bahwa pendidikan menuntut adanya produk kedewasaan berpikir dan aspek-aspek lain yang menjadikan manusia bermartabat. Ujungnya keberilmuan adalah untuk kemaslahatan.

Buktikan bahwa kalian yang akan dan telah menempuh studi di perguruan tinggi adalah benar-benar generasi terdidik. Mempertahankan nyala keterdidikan kalian, membuat apapun profesi yang akan ditemui dan dijalani selalu mulia.

Maka dimanapun kalian belajar –agar menjadi bagian dari kaum terdidik– bersihkan niatmu. Meminjam istilah Prie GS, yang terpenting jangan sampai kalian gagal mendidik diri sendiri. Dan percayalah bahwa tidak ada pendidikan yang sia-sia.

Aktif di Lembaga Filantropi, Teknisi yang secara ajaib tersesat di keilmuan Islamic Studies

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…